I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 44



Wira sangat merasa bersalah saat dirinya telah gagal menjalankan misi yang di berikan oleh Max. Wira tidak menyangka bahwa Adelia masih hidup.


"Aku ingin kau selidiki dia, dua kali aku bertemu dengannya, ia sama sekali tidak melawan. Dia justru berlari dan menghindar dari pandanganku," ucap Max sambil kembali menenangkan pikirannya.


"Baik, Tuan. Saya akan selesaikan semuanya." ucap Wira singkat.


"Kali ini aku ingin kau menghabisinya, tepat di depan mataku, Wira," perintah Max dengan tatapan membunuh.


"Baik, Tuan." Wira melangkah mundur sebelum pergi meninggalkan Max sendiri di dalam kamar.


Hanya wanita itu senjataku untuk menghancurkanmu, Agam. Aku sudah hampir berhasil menghabisimu, dalam titik lemah rasa kehilanganmu itu. Pada orang yang sangat kamu cintai.


Max menggenggam kedua tangannya dengan erat. Matanya memerah. Dendamnya sungguh sangat besar, kepada musuh yang tidak pernah bisa ia kalahkan.


Di luar kamar, Wira masih terus memaksakan ingatannya, untuk kembali mengingat kejadian yang telah beberapa bulan yang lalu. Masih jelas terbayang di dalam ingatannya, wajah seorang wanita yang berusaha keluar dari sebuah mobil yang sudah terjun ke jurang dan dalam keadaan mobil terbalik.


wanita itu merangkak meninggalkan mobil dan berada tepat di bawah kaki Wira. Wira menembak wanita itu tepat di dadanya hingga wanita itu tewas, Wira juga mendorong wanita itu ke arah jurang yang sangat begitu dalam.


"Adelia, kau memang wanita yang beruntung yang memiliki nyawa cadangan."


Wira tersenyum tipis, dan menghembuskan napasnya dengan kasar ke sembarang arah, " Kita lihat saja nanti, apa dewa keberuntungan masih berpihak kepadamu."


Entah dendam apa yang pernah terjadi di antara Agam dan Max. Tetapi saat ini salah satu dari orang yang saling membenci itu, sedang merencanakan satu siasat untuk mengalahkan satu sama lain.


***


Kembali ke Apartemen....


Setelah selesai membersihkan diri, Adrian keluar dari kamar mandi, dan mendapati Adelia yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Kau sudah bangun?" tanya Adrian singkat.


"Apa yang terjadi?" ucap Adelia pelan tanpa menjawab perkataan yang diajukan Adrian.


"Apa kau tidak mengingatnya?" tanya Adrian dengan dahi mengerut.


Adelia hanya diam sambil kembali mengingat kejadian yang baru saja ia alami.


Seingatku tadi aku selesai mandi dan turun ke bawah untuk mencari makanan, dan ada suara tembakan yang membuat kepalaku sangat sakit.


Adelia kembali memegang kepalanya yang masih terasa sakit, karena baru saja ia paksa mengingat sesuatu.


"Untuk apa kau turun ke bawah? Bukannya Jimy sudah mengatakan, kalau kau harus menungguku si sini,"


"Aku hanya ingin mencari makan di bawah," jawab Adelia singkat.


Adelia hanya menjawab dengan menganggukkan kepala cepat.


"Kau sangat merepotkan, kau kelaparan sampai pingsan," Adrian menjatuhkan tubuhnya, di atas ranjang empuk dan memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan dari Adelia.


"Maaf.. Adrian," ucap Adelia.


Tidak ada jawaban, Adrian hanya diam sambil memejamkan matanya.


"Apa kau sudah tidur? Adrian." Adelia menggoyang tubuh Adrian, "Aku lapar, boleh aku pergi keluar sebentar mencari makanan," pinta Adelia lirih.


"Tidak!" jawab Adrian singkat.


Kenapa dia kejam sekali, dia bisa tidur karena sudah makan malam dengan temannya. Sementara aku harus gagal makan malam, karena ada keributan tadi.


Adelia menatap punggung Adrian dengan kesal.


"Apa orang-orang itu datang untuk menyerangmu?" tanya Adelia yang terus saja mengganggu tidur Adrian.


"Apa kau bisa diam! Jangan banyak bicara dan jangan ganggu aku lagi. Kau memang wanita yang merepotkan. Apa kau ingin aku menghukummu malam ini," teriak Adrian kesal, dengan posisi duduk menatap Adelia tajam.


"Maafkan aku Adrian, aku tidak bermaksud merepotkanmu," jawab Adelia lirih sambil menundukkan wajahnya.


"Kau selalu saja membuat suasana hatiku menjadi buruk." Adrian turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah sofa, menjatuhkan dirinya di atas sofa.


Adelia kembali merasa bersalah. Hatinya terasa sangat sakit, saat mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Adrian, " Apa seburuk itu aku di matamu, Adrian." Adelia merasakan hati yang sangat sakit.


Suasana kamar kembali berubah, menjadi keheningan. Adelia masih mematung, duduk di atas tempat tidur. Sementara Adrian, terlihat mulai memejamkan mata di atas sofa. Napasnya mulai teratur, menandakan kalau Adrian sudah tidur terlelap dalam mimpinya.


Sedangkan Adelia masih diam membisu, matanya masih saja memandang ke arah Adrian. Perlahan ia mulai turun dari tempat tidur, mendekati pria yang baru beberapa minggu ini menjadi suaminya. Dengan membawa sebuah selimut, Adelia mulai menyelimuti tubuh Adrian yang terlihat kedinginan.


Maafkan aku yang selalu saja menyusahkanmu, tidak seharusnya aku hadir di dalam kehidupanmu.


Adelia mulai melangkah mundur secara perlahan, Adelia memberanikan diri untuk keluar dari kamar Apartemen itu.


Jam susah menunjukkan pukul 2 dini hari. Semua orang sudah terlelap dalam mimpi indahnya masing-masing. Adelia berjalan perlahan melewati lorong yang sepi. Kakinya melangkah ke sebuah lift, yang berada tidak jauh dari tempat yang baru saja ia tinggalkan. Matanya berkaca-kaca. Rasa lapar yang tadi begitu menyiksa, kini sudah menghilang entah kemana.


Pikirannya mulai kosong, ia terus saja mengikuti langkah kakinya yang tidak tahu kemana akan membawa tubuhnya pergi.


"Nona Adelia," ucap Jimy yang melihat Adelia dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Membuat Adelia menghentikan langkah kakinya saat Jimy memanggil.