
Keluarga Kusuma menutup rapat keberadaan Adelia sejak peristiwa penyerangan terjadi. Sejak kejadian itu hingga Adelia sadar, belum ada yang bisa menjenguk keadaan Adelia kecuali kerabat dekat yang memiliki ijin dari Adrian maupun Wina. Keluarga Kusuma menjaga Adelia dengan sangat ketat, mereka bersikap waspada karena Jo masih berkeliaran di luar sana.
Devan yang mendengar kabar tentang Adelia telah sadar segera berangkat ke rumah sakit untuk memastikan kebenaran dari berita yang baru saja ia terima.
Hatinya kembali bernapas lega, saat melihat Adelia duduk di atas ranjang.
"Adelia..." sapa Devan yang baru saja tiba di kamar Adelia.
"Kau sudah sehat Adelia?" sambil melangkah mendekat ke arah Adelia.
"Devan!" Adelia kaget. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya pelan sambil melirik sebentar ke arah Eva.
"Apa kau tidak suka melihatku ada di sini?" tanya Devan.
"Bukan begitu, tapi..." ucapannya terhenti.
"Apa kau takut dengan Adrian?" tanya Devan yang mengerti kekhawatiran Adelia.
"Aku rasa dia tidak akan marah, setidaknya aku juga ikut saat kalian berbulan madu." sambung Devan dengan meledek.
"Aku serius malah kau bercanda!"
"Apa kau tidak bosan ada di kamar ini seharian?" tanya Devan.
"Maaf Tuan, Nona masih sakit." ucap Eva.
"Astaga, aku lupa. Disini ada pengawal cantik yang setia menjaga dirimu Adelia." sambil menepuk pelan keningnya.
Eva hanya diam sambil tertunduk, hatinya merasa bersalah terhadap Adelia karena berani memotong pembicaraan sang majikan.
"Kau tidak perlu takut padanya Eva, dia orang yang baik." ucap Adelia.
"Aku akan membawamu berkeliling di taman bunga yang berada di rumah sakit ini. Taman yang sangat indah, kau pasti menyukainya." ucap Devan.
"Tapi..." ucap Adelia masih ragu.
"Tenang saja, aku akan meminta ijin pada dokter pribadimu." sambil mengeluarkan handphone dari saku.
"Aldo, apa aku boleh membawa Adelia berkeliling di taman bunga? Dia terlihat kurang sehat karena sudah lama tidak berjemur di bawah matahari." ucap Devan sambil tersenyum lebar menatap Adelia. "Baiklah, terima kasih atas ijinnya." Devan memutuskan panggilan telepon dan memasukkan handphonenya ke dalam saku.
"Bagaimana? Apa sudah dapat ijin." tanya Adelia penuh harap.
"Tentu, dia dokter yang tidak ingin melihat pasiennya sedih bukan." ucap Devan kembali memandang Eva. " Tolong ambilkan kursi roda untuk Adelia, Nona." sambung Devan.
Eva hanya mengangguk pelan untuk menuruti perkataan Devan dan berlalu pergi mengambil kursi roda.
"Apa aku tidak bisa berjalan?" ucap Adelia khawatir sambil menggerakkan kedua kakinya.
"Kau masih bisa berjalan, tapi lukamu tidak memperbolehkan dirimu berjalan." jelas Devan sambil mengambil kedua tangan Adelia yang masih menyentuh kedua kakinya. "Semua akan kembali normal, kau harus segera sembuh." lanjut Devan memberi semangat.
"Aku akan segera sembuh." ucap Adelia yakin.
Eva kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa kursi roda. Dengan perlahan Adelia turun dari tempat tidur, di bantu oleh Eva dan Devan. Hatinya terasa lega saat ia sudah duduk di kursi roda dengan nyaman.
"Ayo kita segera ke taman." ucap Adelia dengan semangat.
"Ayo, kita jalan-jalan." ucap Devan sambil mendorong kursi roda.
Eva hanya berdiri diam mematung tanpa bisa lagi mengeluarkan kata-kata protes. Isi hatinya sudah di penuhi amarah dari Adrian yang akan segera ia dapatkan beberapa waktu yang akan datang.
"Kau tidak ikut Eva?" tanya Adelia.
"Bagaimana ini, aku tidak mungkin meninggalkan kamar ini. Bagaimana kalau tuan Adrian nanti datang." batin Eva dalam hati.
"Eva!" ulang Adelia.
"Iya, saya ikut nona." ucap Eva pelan sambil berjalan mengikuti langkah Devan meskipun takut dengan amarah dari Adrian, namun Eva lebih takut jika Adelia dalam masalah. Eva memutuskan ikut pergi ke taman.
"Maaf tuan, anda tidak bisa membawa nona muda pergi tanpa ijin dari Tuan muda." ucap seorang pengawal.
"Aku hanya ingin membawanya ke taman." jawab Devan pelan.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa mengijinkan nona pergi." sela salah satu pengawal lainnya.
"Aku bosan di kamar, jadi biarkan kami lewat." ucap Adelia.
Beberapa pengawal terdiam sambil tertunduk, salah satu kalimat perintah yang pernah di ucapkan Jimy, jika harus mematuhi perintah Tuan dan Nona muda.
"Kalian kenapa diam?" tanya Devan mulai kesal.
"Maafkan kami Nona, tapi kami akan ikut bersama anda. jawab pengawal itu putus asa.
"Terserah kalian saja, hanya ke taman kenapa harus sebanyak ini yang ikut!" ucap Devan.
"Semoga Adrian tidak marah karena hal ini." batin Adelia dalam hati.
****
Di perusahaan, terlihat Jimy sedang menyampaikan daftar kegiatan Adrian hari ini. Jarinya terhenti pada satu jadwal yang mewakili nama seseorang.
"Tuan, rapat pagi ini kita akan kedatangan tamu dari luar. Rapat di adakan di kantor kita." ucap Jimy.
"Setelah itu?" tanya Adrian.
"Makan siang dengan investor lama kita tuan, sepertinya beliau ingin memperpanjang kerjasama dengan kita," ucap Jimy.
"Baiklah persiapkan semuanya."
"Masih ada beberapa pertemuan lagi Tuan."
"Aku ingin ke rumah sakit sebelum makan siang."
"Mr. A ingin bertemu dengan anda siang ini." sambung Jimy sambil tertunduk bingung.
"Mr. A?" tanya Adrian.
"Iya tuan, jika kita bisa melanjutkan kerja sama seperti biasa. Maka perusahaan kita akan banyak keuntungan."
"Kita percepat rapat pagi ini, dan segera berangkat ke rumah sakit." perintah Adrian tegas.
"Baik, tuan." jawab Jimy.
****
Waktu berjalan begitu cepat setelah menghadiri rapat yang begitu melelahkan akhirnya rapat itu selesai. Sekarang waktunya Adrian pergi ke rumah sakit.
Kini Adrian dan Jimy sudah berada di dalam mobil. Tanpa perlu bertanya kepada Adrian kemana tujuan mereka saat ini, Jimy melajukan mobilnya dengan cepat.
Di dalam mobil Adrian hanya diam memandang ke arah luar jendela. Sesekali tatapan kembali ia alihkan pada Jimy yang masih fokus pada setirnya.
Apa yang sedang kau lakukan saat ini, Adelia. batin Adrian sambil tersenyum kecil membayangkan wajah Adelia.
Apa tuan Adrian sedang memikirkan nona Adelia saat ini? Ia terlihat sangat bahagia hari ini. Jimy melirik sekilas ke arah kaca spion.
Tidak butuh waktu lama untuk tiba di rumah sakit. Sebelum Jimy sempat membuka pintu mobil, Adrian lebih dulu keluar dan melangkah cepat ke arah kamar Adelia. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat ia tidak menemukan pengawal yang berjaga di depan kamar Adelia.
"Kemana mereka!" ucap Adrian sambil terus melangkah masuk ke dalam kamar Adelia.
Pikirannya lagi-lagi dipenuhi rasa khawatir saat ia tidak menemukan Adelia di dalam kamar.
"Saya akan mencari nona Adelia tuan." ucap Jimy cepat yang sudah tahu isi pikiran Adrian saat ini.