
Sudah cukup lama Adrian meninggalkan perusahaan, namun tidak terjadi hal yang buruk. Perkembangan perusahaan masih aman terkendali dan terus mengalami kenaikan.
Perjanjian kerjasama dengan beberapa perusahaan juga berjalan dengan lancar. Ditangani oleh orang handal dan profesional, membuat perusahaan tetap bertahan meskipun beberapa masalah sedang menanti di sekelilingnya.
Adrian menyerahkan semua urusan kepada Jimy, setelah kepergian Alex kini hanya ada Jimy yang mengatur semua keperluan Adrian dan masalah yang di miliki Adrian. Bukan hanya Jimy, Alana juga membantu dalam pencarian solusi semua masalah di perusahaan.
Ilmu yang dimiliki Alana juga tidak bisa di anggap remeh, lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama membuat dirinya bisa membantu saat perusahaan mengalami masalah.
Hari ini Jimy dan Alana berada dalam satu ruangan yang sama, mengatur jadwal yang akan di hadiri Adrian hari ini. Memiliki tujuan yang berbeda dalam bekerja, membuat Jimy dan Alan tidak pernah akrab. Hati mereka masing-masing hanya di isi oleh niat menjatuhkan satu sama lain.
"Untuk apa kau datang ke rumah sakit?" tanya Jimy sambil tetap menatap beberapa dokumen.
"Aku..."Alana sibuk mencari sebuah jawaban yang tepat sambil mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Apa kau merencanakan sesuatu yang buruk?" tanya Jimy lagi sambil menatap tajam Alana.
"Kau selalu berpikiran buruk tentangku! Aku wanita baik, aku hanya menjenguk istri Bos tempatku bekerja!" jawab Alana sambil mengambil handphone di tasnya.
"Apa kau yakin? Kau wanita baik?" Jimy berdecak kesal, sambil meletakkan dokumen di atas meja.
"Aku sama sekali tidak percaya padamu, Nona Alana!" ucap Jimy dengan tatapan tajam.
"Aku tidak perlu meminta penilaian darimu Jim! Urus saja pekerjaanmu!" jawab Alana sambil kembali memasukkan handphone ke dalam tas.
"Aku akan selalu ada di pihak pada orang yang tidak kau suka." tegas Jimy sambil beranjak dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Kita lihat saja nanti. gumam Alana dalam hati.
Setelah lama libur panjang melewati masa bulan madu dan menemani Adelia di rumah sakit, ini adalah hari pertama Adrian kembali bekerja di perusahaan. Kehadiran Adrian sudah di sambut hangat oleh beberapa karyawan yang bekerja.
Jimy sudah berdiri tegap di depan pintu masuk ruangan Adrian, hatinya sedikit lega saat melihat Adrian bisa kembali bekerja seperti biasanya.
"Selamat pagi, Tuan." sapa Jimy sambil menarik gagang pintu untuk memberi jalan kepada Adrian.
Hanya mengangguk pelan, Adrian segera masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempatnya bekerja selama ini.
"Apa anda baik-baik saja Tuan?" tanya Jimy.
"Aku baik-baik saja, apa semua berjalan lancar?" tanya Adrian sambil membuka laptopnya.
"Semua berjalan lancar, ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani." sambil menyodorkan setumpuk dokumen.
"Baiklah, kau bisa kembali ke ruanganmu. Aku akan memanggilmu nanti!" ucap Adrian.
"Baik, saya permisi Tuan." ucap Jimy membungkukkan tubuhnya.
Adrian mengangguk pelan sambil melirik sebentar ke arah Jimy.
"Jimy!" panggil Adrian dari kejauhan.
Mendengar namanya kembali di sebutkan, Jimy kembali menghentikan langkah kakinya dan melepas genggaman tangan dari gagang pintu.
"Ada apa tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Jimy bingung.
Pikiran Adrian masih di penuhi rasa khawatir yang begitu besar, masa lalu Adelia masih menjadi teka-teki yang belum bisa ia pecahkan.
"Kau sudah berhasil menyelidikinya?" tanya Adrian menagih sebuah jawaban.
"Maaf Tuan, saya belum menemukan bukti apapun." jawab Jimy sambil tertunduk penuh rasa bersalah.
"Kau sangat bisa ku andalkan selama ini! Kenapa sangat sulit bagiku menyelidiki masalah ini?"
"Maafkan saya Tuan."
Tok...Tok...
Tatapan keduanya teralihkan pada pintu yang baru saja di ketuk.
"Permisi tuan, apa saya mengganggu..."ucap Alana pelan sambil melangkah mendekat ke meja kerja Adrian.
"Ada apa?" tanya Jimy dengan raut wajah marah.
"Kau seharusnya tidak bersikap seperti itu, tuan Jimy." ucap Alana dengan senyum licik.
"Saya hanya ingin memberikan ini tuan." ucap Alana meletakkan sebuah undangan di atas meja.
"Apa ini?" tanya Adrian.
"Itu undangan dari Mr. A .." jawab Alana dengan senyum manis.
Jimy melangkah mendekat ke arah Adrian dan mengambil undangan yang baru saja di letakkan Alana.
"Itu hanya undangan biasa, kenapa wajahmu sepanik itu?" ucap Alana sambil menatap sinis ke Jimy.
Tanpa memperdulikan ucapan Alana, Jimy membuka undangan itu secara perlahan. Napasnya terlihat lega setelah mengetahui isi surat undangan itu.
"Ada apa Jim?" tanya Adrian penasaran.
"Hanya undangan peresmian perusahaan baru tuan." jawab Jimy.
"Dia sudah menyelesaikan gedung itu dengan cepat." ucap Adrian, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Anda bisa keluar sekarang Nona." ucap Jimy memberi perintah kepada Alana.
Berani sekali dia mengusirku dari sini! batin Alana sambil menatap tajam ke arah Jimy. "Aku masih ada beberapa urusan yang belum di selesaikan dengan tuan Adrian." jawab Alana sambil tersenyum licik memandang Jimy.
Ternyata wanita ini mempunyai keberanian yang lebih besar dari yang aku kira. batin Jimy sambil memandang Alana.
"Tuan, apa anda akan menghadiri peresmian gedung itu?" tanya Alana.
"Apa itu yang kau anggap penting tadi nona?" potong Jimy.
"Kau! Apa kau bisa diam saja tanpa ikut campur dengan urusanku!" bentak Alana.
"Jika itu permintaan anda! Maaf, saya tidak akan pernah mengabulkannya!" jawab Jimy dengan wajah kesal.
"Kau.."
"Diam!" bentak Adrian beranjak dari duduk sambil memukul meja. "Kenapa kalian selalu saja seperti ini." ucapnya dengan tatapan kesal.
"Maaf tuan." ucap Jimy dengan rasa bersalah.
"Keluar! Tinggalkan aku sendiri!" perintah Adrian.
"Tapi.." protes Alana.
"Keluar sekarang juga!"
Tidak ingin membuat Adrian lebih marah, Jimy dan Alana segera keluar dari ruangan. Suasana hati Adrian yang tidak terkendali saat ini, memang selalu saja terjadi tiap kali ia memiliki masalah yang besar.
Bukan masalah di perusahaan, melainkan masalah yang harus dihadapi adalah masa lalu sang istri yang telah dia nikahi tanpa cinta.
"Kenapa semua ini terjadi!" teriak Adrian sambil membuang semua barang yang ada di atas meja kerjanya, hingga semua jatuh berhamburan di lantai.
"Adelia, siapa kau sebenarnya!" gumamnya pelan dengan mencengkeram kedua tangannya.
Adrian terus membuang semua barang yang ada di hadapannya hingga semua jadi berantakan. Rasa kesal di hatinya saat ini benar-benar sudah tidak terkendali lagi.
Pertikaian yang baru saja terjadi antara Jimy dan Alana justru membuat amarah dalam diri Adrian muncul ke permukaan.
Di tambah rasa sakit hati ketika ia melihat perilaku Devan yang terus saja mengunjungi dan memberi Adelia banyak perhatian. Belum lagi masa lalu Adelia belum menemukan jawaban.
****