I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 23



Sesampainya di rumah sakit Adrian dan Jimy langsung ke ruang rawat. Adelia nampak menangis karena tangan nya yang melepuh.


Beruntungnya tadi Adelia sempat menutupi wajahnya dengan tangan jadi di wajahnya hanya sedikit melepuh. Bagian tangan yang nampak begitu sangat menghawatirkan.


Seorang Dokter sedang mengobati Adelia dan Adrian berjalan mendekat berusaha untuk menenangkan Adelia agar tidak menangis.


"Apa sakit?" tanya Adrian.


Adelia mengangguk kecil, air matanya terus mengalir bagaimanapun Adelia masih baru masuk pendewasaan, dia juga masih bisa melakukan kelabilan lainnya.


Termasuk menangis di depan Adrian dan seorang Dokter, Adelia tidak bisa pura-pura kuat karena rasanya memang sangat perih.


Dokter menjelaskan kondisi Adelia yang melepuh, butuh waktu lama untuk sembuh, dan bukan hanya itu Adelia harus menginap beberapa hari di rumah sakit.


Setelah itu Dokter dan suster keluar, meninggalkan ruang perawatan Adelia. Menyisakan Adrian dan kedua pengawal setianya.


"Ini sangat sakit dan perih, tapi untung wajahku tidak kenapa-kenapa, hiks... tanganku menutupi wajahku" ucap Adelia dalam isaknya.


Mana ada untungnya, Adrian, jimy dan Alex bahkan merasakan perih sendiri saat melihat tangan Adelia yang melepuh.


Adrian berjalan di samping ranjang dan menggenggam tangan Adelia yang melepuh dan meniupnya secara perlahan supaya bisa meredakan rasa sakit yang dialami Adelia.


Jimy dan Alex hanya melihat dan tetap berdiri tegap di dalam ruangan itu. Masih memikirkan siapa orang yang begitu berani mencelakai Nona mereka.


"Saya minta maaf atas kejadian yang menimpa Nona, andaikan saya tidak lalai pasti tidak bakal seperti ini," ucap Alex menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Ini bukan salahmu, ini murni sebuah kecelakaan," dan saya masih ingat dengan jelas bahwa orang itu adalah seorang wanita," ucap Adelia lirih.


Mendengar perkataan Adelia mereka jadi saling pandang. Dan menebak siapa kira-kira orang itu.


"Apa kau melihat wajahnya?'' tanya Adrian penasaran.


"Saya tidak melihatnya dengan jelas, karena orang itu memakai masker serta topi yang menutupi wajahnya." jawab Adelia.


"Baiklah, sekarang kau istirahat saja tidak usah dipikirkan, biar nanti Jimy yang akan mencari tahu tentang ini" ucap Adrian lembut.


"Tapi saya mau pulang Tuan, saya tidak mau disini pasti biaya rumah sakit ini mahal dan saya tidak mempunyai uang" ucap Adelia masih diiringi isak tangis.


"Dasar bodoh, kau ini masih terluka jadi biar sembuh dulu baru pulang." Masalah biaya kau tidak usah khawatir." ucap Adrian.


Adelia hanya tertunduk sedih karena ia merepotkan semua orang. Mulai sekarang dirinya akan berhati-hati jika ada orang asing yang datang menghampirinya.


"Lain kali jika kau ingin keluar rumah harus dijaga oleh banyak pengawal, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi," ucap Adrian ketus.


Adelia hanya mengangguk pasrah tanda ia menerima semua yang di katakan oleh Adrian. Dirinya juga merasa takut sekarang.


Beberapa menit kemudian Adelia sudah memejamkan matanya dan tertidur. Tapi di tidurnya seperti tidak nyaman karena terlihat ia sesekali meringis menahan sakit.


Adrian kembali meniup tangan Adelia dengan pelan, ia ikut meringis merasakan sakit yang dirasakan oleh Adelia.


Setelah memastikan tidur Adelia cukup tenang Adrian beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. Ia tidak mau membuat suara keributan dan berakhir mengganggu tidur Adelia.


"kalian berdua temani Adelia disini." Aku akan pulang terlebih dulu untuk mengambil baju Adelia selama disini." perintah Adrian.


"Saya akan mengantarkan anda, Tuan." ucap Jimy.


"Tidak perlu aku sudah meminta supir menjemput kemari jadi kalian tetap di sini dan masuklah kedalam." ucap Adrian lalu membalikkan tubuhnya melangkah meninggalkan ruangan itu.


Alex dan Jimy hanya bisa memandang punggung Tuan Adrian yang perlahan semakin menjauh. Kemudian mereka segera masuk kedalam ruangan Adelia.


Di dalam kamar Adelia terlihat wanita itu sudah terbangun dari tidurnya. Adelia terbangun karena tidak bisa tidur dengan benar. Walaupun sudah diobati tapi sakitnya masih sangat menyiksa dirinya.


Adelia mencoba bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya dengan ganjalan bantal di belakangnya. Kini ia merasakan lapar tapi ia tidak suka makan makanan rumah sakit.


"Anda sudah bangun, Nona. ucap Jimy.


"Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Alex.


"Saya ingin makan, perutku rasanya sangat lapar sekali." ucap Adelia sambil memegang perutnya.


Alex dengan segera mengambilkan nampan berisi makanan yang berada di meja samping ranjang Adelia. Melihat itu Adelia segera menggelengkan kepalanya tanda tidak mau memakan makanan itu. Membuat Langkah Alex terhenti.


" Nona ingin makan apa?" tanya Alex pelan.


"Saya ingin makan nasi goreng" jawab Adelia dengan hati-hati.


Jimy dan Alex menghela napasnya dengan berat, tapi mau tidak mau mereka harus menuruti keinginan Adelia.


"Baiklah, Nona tunggu sebentar saya akan membawakan nasi goreng untuk anda." ucap Alex tersenyum ramah.


Adelia mengangguk dengan wajah senang karena Alex mau menuruti keinginannya.


"Terima kasih." ucap Adelia.


Alex hanya mengangguk setelah itu ia pergi keluar ruangan dan menyisakan Adelia dan Jimy disana. Di dalam ruangan itu hanya hening tidak ada yang memulai obrolan. Adelia sibuk dengan pikirannya begitu juga Jimy kini tengah duduk di sofa yang berada di ruangan itu dengan memperhatikan Adelia sesekali.


Adelia kembali mengingat sosok orang yang menyiram dirinya dengan minyak. Apa orang itu bagian dari masa lalunya yang mempunyai dendam pribadi terhadap dirinya. Tetapi ia mengingat bahwa ia selama tinggal bersama dengan Ayahnya tidak ada satu orangpun yang mengenalnya. Berpapasan di jalan pun tidak ada yang bertanya dengannya.


Beberapa menit kemudian Alex sudah kembali, dengan membawa 3 bungkus nasi goreng yang ia beli dari kantin rumah sakit.


"ini nasi gorengnya, Nona." Alex menyiapkan di atas piring lengkap dengan sendok.


Adelia ingin segera meraih piring itu tetapi tangannya masih sakit dia bingung harus makan dengan bagaimana.


Alex yang mengerti kebingungan langsung berinisiatif menyuapi Adelia, karena tidak ada pilihan lain selain itu. Adelia juga mau tidak mau menerima suapan dari Alex karena ia sudah sangat begitu lapar. sehingga tidak butuh waktu lama nasi goreng itu sudah habis tinggal satu suapan lagi yang akan diterima Adelia.


"Terima kasih, Alex dan maaf saya banyak merepotkan kalian," ucap Adelia menunduk.


"Tidak masalah, Nona selagi kami bisa membantu anda." jawab Alex dengan sopan.


Adelia mengangguk mengerti. Dia sejenak memandang ke arah Jimy yang sedang makan dan ia sangat takut melihat keseriusan Jimy. Jadi ia tidak berani untuk sekedar berbicara dengannya. Hanya kepada Alex dirinya berbicara karena Alex sangat ramah dengannya.