I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 72



Hallo semua apa kabar? Maaf updatenya lama soalnya ada kesibukan sekolah hehehe. Hayoh kalian baca bab ini di jam berapa nih? Ditunggu ya like dan komentarnya kakak terimakasih 🙏


***


Happy reading 🖤


Adrian dan Jimy kembali menuju ke perusahaan. Semua pertemuan hari ini, kembali di batalkan semuanya. Adrian hanya duduk melamun di balik meja kerja yang masih tertata rapi.


"Jangan sampai pria itu menemui Adelia lagi!" ucap Adrian tegas pada Jimy yang masih berdiri tegap di sampingnya.


"Baik tuan." jawab Jimy pelan, ia sangat mengerti dengan perasaan Adrian saat ini.


"Besok atur jadwal untuk menemani Mr. A menjenguk Adelia di rumah sakit!" ucap Adrian.


Satu kalimat perintah Adrian yang terakhir membuat Jimy mengalahkan pandangannya kepada sang atasan. "Apa anda yakin tuan? Kita belum sempat menyelidiki Mr. A bagaimana kalau..." ucapannya terhenti saat Alana masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu.


Wanita ini benar-benar membuatku kesal, memang harus segera di musnahkan! batin Jimy kesal.


"Ma..maaf tuan. Saya tidak tau jika anda sudah kembali ke kantor. Saya ingin meletakkan beberapa berkas di meja anda." ucap Alana mencari alasan.


"Kebetulan kau ada di sini Alana, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu!" ucap Adrian.


ucapan Adrian membuat Jimy dan Alana bereaksi secara berbeda, sebuah senyum manis melingkar di bibir Alana. Sedangkan wajah Jimy kembali di penuhi raut wajah geram yang sudah ada di level yang sangat tinggi.


"Apa yang ingin anda katakan, Tuan?" ucap Alana lembut.


"Mulai detik ini, kau tidak perlu repot mengurus segalanya. Berikan saja tugasmu pada Jimy." ucap Adrian.


"Apa maksud anda, Tuan? Apa anda ingin menghentikan saya?" tanya Alana dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak Alana, tugasmu sekarang hanya ada di luar ruangan ini!" ucap Adrian menunjuk sebuah meja yang ada di luar ruang kerjanya.


"Saya mengganti posisi Dewi, Tuan?" tanya Alana yang masih tidak percaya.


"Ya, Dewi sedang cuti melahirkan. Kau harus menggantikan pekerjaannya untuk beberapa bulan." ucap Adrian masih tidak menatap wajah Alana.


Sebuah keputusan yang membuat jarak dirinya dan Adrian semakin jauh, dengan erat Alana menggenggam berkas yang kini ada di tangannya.


Bibirnya masih di tahan untuk tidak mengeluarkan kata protes. Tatapan matanya sudah di alihkan kepada Jimy yang sudah memandangnya dengan senyum tipis.


"Apa anda sudah jelas dengan perintah Tuan Adrian, nona Alana?" tanya Jimy yang semakin memojokkan posisi Alana saat ini.


"Ya, saya mengerti! Saya permisi Tuan." ucap Alana sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja lalu berbalik badan untuk melangkah keluar ruangan.


Tangisnya pun pecah saat dirinya sudah berada di luar ruangan Adrian. Bukan hanya cinta yang di tolak secara terang-terangan, kini kehadirannya juga sudah dihindari.


Kenapa kau begitu jahat padaku Adrian! batin Alana.


Alana sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melangkah menuju meja kerjanya. Satu meja berukuran sedang yang terletak tidak jauh dari posisinya saat ini, hanya ada tatapan kecewa di mata Alana.


Di dalam ruang kerja Adrian, Jimy masih memasang senyum sumringah saat menatap kepergian Alana. Hingga tanpa dia sadari, Adrian tengah menatap wajahnya sejak tadi.


"Apa kau sangat bahagia, Jimy?" tanya Adrian.


"Maaf Tuan." ucap Jimy yang kembali sadar kalau masih ada Adrian di situ.


"Aku tidak mengerti, kenapa kalian selalu saja bermusuhan di saat bertemu!" ucap Adrian kembali memandang laptop.


Jimy tidak menjawab pertanyaan Adrian. Dia kembali ingat dengan topik utama yang mereka bicarakan sebelum kehadiran Alana.


"Tuan, apa anda tidak curiga dengan Mr. A?" tanya Jimy lagi yang masih dipenuhi kekhawatiran.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Mereka tidak mungkin saling kenal." ucap Adrian.


"Ijinkan saya menyelidiki Mr. A, Tuan." pinta Jimy yang memang belum mendapatkan perintah dari Adrian.


"Bukan itu yang harus kita lakukan saat ini!" mata Adrian memandang Jimy dengan tajam. "Perkuat pertahanan kita untuk melindungi semua orang yang kita sayangi, sepertinya kita sudah masuk ke jalur yang salah. Tidak akan ada jalan lagi untuk mundur selain tetap maju dan bertahan dengan apa yang sudah kita miliki!" sambungnya lagi.


"Baik, saya akan menambah jumlah pengawal kita, Tuan." ucap Jimy tegas.


Adrian hanya mengangguk pelan pertanda setuju. Sudah terlanjur, merupakan satu kalimat yang sangat sulit untuk di ucapkan. Namun keadaan yang terjadi sekarang, memang menuntut dirinya untuk mengikuti jalan cerita. Entah seburuk apa peristiwa yang akan dia hadapi di kemudian hari. Sekuat mungkin Adrian mempersiapkan dirinya untuk menghadapi.


Siang yang terik sudah berganti menjadi sore hari yang tenang, Adrian dan Jimy masih berada di dalam ruang kerja dengan setumpuk pekerjaan yang harus segera mereka selesaikan. Meskipun pikiran Adrian sudah dipenuhi dengan Adelia dan ingin segera menemuinya. Namun dengan teliti Adrian memaksa memeriksa semua berkas yang ada di meja.


Jam sudah hampir menunjukkan angka 06.00 sore, Jimy datang dan membantu Adrian merapikan semua berkas yang berserak di atas meja.


"Kita harus pulang Tuan." ucap Jimy.


"Aku akan kembali ke rumah sakit. Kau boleh pulang ke rumah." jawab Adrian memberi perintah.


"Anda belum kembali pulang ke rumah utama sejak dari vila, Tuan." ucap Jimy mencoba untuk mengingatkan Adrian.


"Aku akan pulang bersama Adelia!" jawab Adrian tidak ingin di bantah lagi.


"Baik, Tuan." ucap Jimy menunduk hormat.


Adrian beranjak dari duduknya di ikuti oleh Jimy dari belakang. Kali ini ia ingin mengemudi mobil seorang diri, Adrian menyuruh Jimy untuk tidak mengikutinya dari belakang saat menuju rumah sakit. Satu permintaan yang sangat tidak mudah untuk di patuhi oleh Jimy.


Sepanjang lorong kantor sudah terlihat tidak berpenghuni, seluruh karyawan sudah menghentikan aktivitas pekerjaan mereka dan kembali pulang ke rumah masing-masing. Adrian masih berjalan menuju parkiran mobil, di beberapa titik Adrian menemui scurity yang bertugas untuk menjaga keamanan kantor pada malam hari.


Meskipun saat ini Adrian dan Jimy berada di mobil yang berbeda, namun laju kedua mobil itu masih beriringan. Mobil Jimy masih berada di belakang mobil Adrian. Hati Jimy akan merasa tenang saat dia sudah memastikan kalau Adrian sampai ke rumah sakit dengan selamat.


"Kau memang sangat keras kepala Jimy!" ucap Adrian saat melihat Jimy masih mengikutinya dari belakang.


"Maafkan saya Tuan, tapi saya tidak akan pulang ke rumah jika anda tidak pulang!" gumam Jimy seakan mengerti dengan ucapan Adrian yang di mobil depan."


*****