
Sesampainya di depan kamar Adrian.
"Nona, kita sudah sampai. Silahkan masuk dan beristirahat, anda bisa memanggil saya jika memerlukan sesuatu." ucap Pak Udin tersenyum ramah.
"Terimakasih, Pak Udin." Adelia kembali melirik arah kamar.
"Sudah menjadi kewajiban saya Nona. Sebaiknya anda segera masuk dan membersihkan diri." ucap Pak Udin.
"Tapi saya tidak membawa baju ganti, baju siapa nanti yang akan saya pakai." balas Adelia dengan memandang dirinya, yang masih memakai gaun pengantin.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Semua kebutuhan anda sudah tersusun rapi di dalam lemari." ucap Pak Udin.
"Benarkah? baiklah kalau begitu saya masuk dulu ya, Pak Udin." ucap Adelia lalu melangkahkan kakinya masuk secara perlahan.
Pak Udin menganggukkan kepala dan tersenyum. Ia masih terus melihat Adelia masuk ke dalam kamar hingga menutup pintu
Nona Adelia terlihat wanita yang baik, dia terlihat begitu ceria. Semoga mereka bisa bahagia, menjalani pernikahan ini.
Dengan perlahan Pak Udin mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kamar.
Di dalam kamar, Adelia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sebuah kamar yang besar dan tertata rapi. tempat tidur yang begitu megah terlihat jelas di depan matanya.
Sangat jauh berbeda dengan tempat tidurku di rumah. Ingin segera aku tertidur di atas kasur yang sangat besar dan empuk itu.
Adelia sangat gerah, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. kamar mandi yang sangat indah, hingga membuatnya langsung ingin berendam di sana.
Setelah melepas semua pakaiannya, Adelia langsung segera memanjakan dirinya di dalam bak mandi itu. Bak mandi yang memang sudah di siapkan oleh para pelayan.
Wewangian aroma terapi dari lilin yang ada di pinggiran bak mandi, hingga ada kelopak mawar merah menghiasi bak mandi itu. Membuat Adelia sangat betah berendam di bak mandi tersebut. Adelia kini menyandarkan tubuhnya, dan merasakan ketenangan di sana. Tubuhnya yang terasa lelah, kembali memiliki segar.
"Sangat indah seperti mimpi. Apa aku sedang bermimpi? kalau ini mimpi, aku tidak ingin bangun. Aku ingin tetap berada di mimpiku ini." Adelia mulai memejamkan mata, untuk menikmati aroma lilin aroma terapi itu. Sampai akhirnya ia tertidur.
Adelia larut ke dalam tidurnya, hingga ia bermimpi sesuatu yang aneh baginya.
Ia bermimpi melihat seorang wanita dan pria berpelukan dengan tersenyum bahagia dikelilingi banyak bunga mawar. Tapi tidak begitu jelas yang ia lihat dan tiba-tiba bayangan itu menghilang.
Adelia terbangun dari tidurnya dengan nafas memburu. Seperti ia tidak asing dengan mimpi barusan yang ia alami. Tapi dimana? itulah pikirannya saat ini.
Suara gedoran pintu mengalihkan pandangannya. kemudian ia segera menyelesaikan ritual mandinya. Dan meraih handuk segera membuka pintu kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar mandi dibuka dan nampak Nyonya Wina sedang menunggu dengan khawatir.
"Adelia, sayang kenapa kau mandi lama sekali, aku mengira kau pingsan di dalam sana." ucap Nyonya Wina dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa Ma, hanya saja Adelia ketiduran tadi." balas Adelia cepat.
"Pantas sekali Mama sudah menunggumu selama 1 jam, yasudah cepat ganti pakaian. ucap Nyonya Wina.
Adelia hanya mengangguk, dengan segera melangkah ke arah lemari dan mengenakan pakaian yang sudah tersusun rapi di sana. Setelah selesai ia segera menemui Nyonya Wina.
"Mama kesini karena ingin memberikanmu ini." Nyonya wina memberikan sebuah kalung.
"Kalung apa ini, Ma?"
"Ini adalah kalung turun temurun di keluarga kami, karena kau adalah istri dari pewaris tunggal keluarga kusuma, maka kau berhak menerimanya." jelas Nyonya Wina.
Kalung ini sangat indah, apa aku pantas menerima semua ini? apakah aku pantas mengenakan kalung ini?.
"Tapi, Ma....."
"Mama tidak suka penolakan, dan Mama akan memakaikan kalung ini untukmu." Nyonya wina memakaikan kalung itu ke leher jenjang Adelia. "Kau memang pantas menjadi nona muda di rumah ini. Kau terlihat cantik menggunakan kalung ini."
"Terimakasih, Ma." ucap Adelia.
" Baiklah Adelia, sebaiknya kau segera istirahat." Nyonya wina menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Iya, Ma."
"Tidak usah menunggu Adrian, dia akan pulang larut malam. Karena dia harus mengadakan rapat penting dengan para investor. Mama akan segera kembali ke kamar. Sebaiknya kamu segera tidur." Nyonya Wina beranjak dari duduknya.
"Iya, Ma, Adelia akan segera tidur." Adelia juga berdiri dan mengantarkan Nyonya Wina hingga depan kamar.
"Oiya, ada satu hal lagi yang belum aku tanyakan padamu. Apa kau menyukai pilihan Mama?" ucap Nyonya Wina menghentikan langkahnya.
"Pilihan Mama, yang mana?" Adelia mulai mencerna pertanyaan Nyonya Wina.
"Baju dam semua perlengkapan yang sudah Mama sediakan di lemari." jelas Nyonya Wina.
"Adelia sangat suka, Ma. Mama terlalu banyak membelikan aku baju. Adelia tidak tahu, harus memakai yang mana. Karena semua bagus." Adelia tersenyum dengan perasaan sedikit gugup.
"Syukurlah, kalau kau suka sayang. Selamat tidur dan mimpi yang indah." Nyonya Wina melangkah pergi meninggalkan kamar.
"Selamat tidur, Ma." Adelia kembali masuk me dalam kamar.
Mama berkata jika aku di dalam kamar mandi selama 1 jam, apa benar selama itu aku di dalam sana? Apa aku kelamaan berendam hingga ketiduran dan bermimpi seperti itu? tapi, siapa yang ada di dalam mimpiku tadi? sangat tidak asing bagiku tapi aku sama sekali tidak mengingatnya. Semakin aku memaksa semakin tidak menemui titik terangnya.
Adelia kembali mengingat mimpi yang baru saja ia alami. Serpihan masalalu yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Kepingan masa lalu mulai menghampirinya. Banyak bayangan aneh yang sering muncul dalam ingatannya. saat ia melihat suatu benda yang bersangkutan dengan masa lalu.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 23.00.
Namun Adelia, masih belum bisa memejamkan matanya. Mimpi itu terus memenuhi isi kepalanya. Ia masih terus bertanya-tanya, tentang siapa wanita dan pria yang berada di dalam mimpinya itu. Memikirkan itu membuat kepalanya sampai pusing. Ia begitu frustasi tidak bisa memejamkan matanya utuk tidur. Sibuk dengan pikirannya, hingga tanpa ia sadari, Adrian telah masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Adrian memecah lamunan Adelia.
"kau? sejak kapan berada di situ?"Adelia terperanjat kaget, saat melihat Adrian telah ada di sofa, dan satu kamar dengan dirinya.
"Memangnya kenapa jika aku disini? ini adalah kamarku!" jawab Adrian ketus.
Adelia berdiri di hadapan Adrian, sambil menunduk.
Ini kan memang kamar miliknya, mengapa aku bisa menanyakan pertanyaan itu padanya. Kami kan sudah menikah. Tapi masih terasa aneh bagiku saat melihatnya.!