I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 19



Kini kekesalan Alana semakin bertambah.


Adrian sama sekali tidak membelanya.


Hal itu semakin membuat hatinya kembali sakit. Tapi ia harus bisa menyembunyikan perasaan yang ia alami sekarang. Dengan tetap memasang wajah penuh senyum agar tetap terlihat cantik. Meskipun hatinya sedang sangat terpukul.


Jimy memandang wajah Alana dengan senyuman mengejek karena ia melihat sendiri bahwa Tuan Adrian sama sekali tidak merespon apapun terhadap Alana. Dia kembali mengikuti langkah Adrian dari belakang.


Di dalam, Adrian sudah di tunggu oleh kliennya yang akan menjalankan kerja sama dengannya. Dia terlihat di kelilingi beberapa pengawal, membuat Adrian mengetahui kalau orang yang sedang berhadapan dengannya bukan orang biasa.


Tidak butuh waktu lama dalam hal bernegosiasi, perusahaan yang menjadi target adrian kini telah menyetujui segala kerja sama yang ditawarkan oleh Adrian.


Adrian kini bernafas dengan lega, sejauh Adrian memimpin, belum ada satu perusahaan pun yang menolak kerja sama dengan perusahaan yang di pimpin olehnya.


"Apa anda akan lama berada disini Tuan?" tanya Adrian.


"Saya mungkin akan lama disini Tuan, karena saya akan membuka cabang di kota ini."


"Anda bisa datang ke kantor kecil saya, jika anda berkenan Tuan,"


"Baiklah, senang bisa bekerja sama dengan anda tuan Adrian." Sambil mengulurkan tangannya sebelum beranjak dari tempat duduknya.


Adrian dengan segera menyambut tangan kliennya dengan senang hati dan memberi hormat dengan penuh senyuman. Kliennya kali ini memang satu-satunya rekan Adrian yang sangat berbeda. Dia hanya memberi tau inisial namanya sebagai Mr. A. Dia merahasiakan nama aslinya dari siapapun yang ingin mengetahuinya.


''Mr. A sangat terlihat profesional." ucap Alana sambil memakan makanan yang baru saja dia pesan.


Yang lainnya hanya diam mengabaikan apa yang dikatakan oleh Alana dan memilih tidak peduli sedikitpun.


"Tuan, apa anda ingin memesan makanan," tanya Alex.


Tanpa berkata Adrian hanya menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui. Siang itu rapat mereka dengan Mr. A diakhiri dengan makan siang bersama. Alana sangat senang dengan momen ini dan dia terlihat bahagia. Baginya bisa makan siang bersama Adrian adalah sebuah mimpi yang tidak pernah ia dapatkan.


Siang sudah berganti menjadi malam.


Suasana di rumah utama terlihat begitu tenang. Kepergian Tuan Agung dan Nyonya Wina, untuk urusan pekerjaan membuat Adelia merasa sendiri.


Sepi yang kini aku rasakan...Aku melihat banyak orang di rumah ini. Tapi tidak seorang pun yang aku kenal. Pelayan-pelayan itu terlihat menghindar. Setiap kali aku bertanya hanya jawaban singkat yang aku dapatkan. Aku membutuhkan seseorang yang bisa menemaniku ngobrol dan bercerita.


Adelia masih melamun di sebuah sofa, yang ada di dalam kamarnya.


Terdengar seseorang yang memanggil namanya, dari balik pintu kamarnya.


Adelia melangkahkan kakinya pelan, menuju ke sumber suara. Dari balik pintu, seseorang terus saja memanggil namanya. Adelia dengan segera membuka pintu.


"Pak Udin?" ucap Adelia kaget.


"Maaf nona, makan malam sudah siap. Apa anda ingin makan duluan atau menunggu Tuan Adrian tiba dirumah?" tanya Pak Udin penuh hormat.


"Saya akan makan, setelah Adrian pulang Pak Udin," jawab Adelia pelan.


"Baiklah nona, Apa kepala nona masih terasa sakit?'' tanya Pak Udin dengan khawatir.


"Tidak Pak, saya sudah merasa lebih baik." Adelia tersenyum manis untuk meyakinkan Pak Udin.


Aku hanya tidak ingin membuat semua orang khawatir. Biarlah sakit ini aku rasakan sendiri.


"Baiklah Nona, anda bisa memanggil saya kapanpun anda butuh bantuan." ucap Pak Udin.


Pak Udin kembali menundukkan kepala, dengan hormat. Segera membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh.


"Tunggu Pak Udin, jam berapa Adrian pulang?" teriak Adelia.


Pak Udin mendengar suara Adelia segera menghentikan langkahnya, dan kembali memutar tubuhnya.


"Tuan Adrian sudah dalam perjalanan pulang, Nona." jawab Pak Udin.


"Baiklah. Saya akan menunggunya pulang." ucap Adelia.


Adelia kembali masuk kedalam kamar. Menutup pintu secara perlahan.


"Mana mungkin aku makan duluan, sementara pemilik rumah ini belum makan."


Adelia mengusap perutnya yang kini terasa lapar. Ia harap bisa menunggu sampai kepulangan Adrian. Adelia terus saja memperhatikan jarum jam. Sungguh suatu penantian yang sangat menyebalkan. Ia sudah sangat bosan menunggu dan kini ia sudah begitu mengantuk tapi sebisa mungkin ia akan menahannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, terdengar Adrian dan para pengawal setianya sudah tiba dirumah utama. Pak Udin menyambut kedatangan Adrian. Seperti biasanya, Adrian duduk di sofa yang berada di lantai bawah, untuk melepas sepatu dan jasnya, di bantu oleh Pak Udin.


Setelah selesai, Adrian melangkahkan kakinya menuju kamar yang di tempati Adelia dengan dirinya, untuk membersihkan diri. Sementara Jimy dan Alex, pergi menuju kamar mereka masing-masing.


Sejak menjadi orang kepercayaan Jimy dan Alex, di minta Adrian untuk tinggal di rumah utama. Karena melihat kinerja mereka sangat begitu baik, membuat Tuan Agung dan Nyonya Wina mengijinkan untuk tinggal di rumah utama.


Di dalam kamar, Adelia duduk di sofa sambil menonton TV. Ia duduk dengan sangat gusar. Perutnya kini sudah benar-benar sangat lapar.


"Kenapa dia lama sekali pulangnya, seharusnya aku tidak memikirkan dia, dan aku makan saja duluan tadi." gerutunya.


Adelia sudah dipenuhi rasa kesal, melihat Adrian tidak kunjung pulang.


Suara pintu terbuka, Adelia menoleh melihat ke arah pintu dengan wajah senang. Hatinya sungguh bahagia, ketika melihat Adrian telah pulang. Dan akhirnya ia bisa dengan segera makan.


"Akhirnya kau pulang juga." ucap Adelia kegirangan.


"Apa begini caramu menyambut suami, yang baru pulang kerja?" ucap Adrian dingin.


Astaga salah lagi. Apa yang harus aku lakukan aku sungguh sudah sangat kelaparan.


Adelia mencoba untuk mengulang perkataannya.


"Tuan Adrian, anda sudah pulang? ucap Adelia dengan sopan.


"Jelas saja aku sudah pulang, kalau belum mana mungkin aku ada di sini," jawab Adrian ketus dan berlalu pergi meninggalkan Adelia untuk masuk ke kamar mandi.


Sungguh wanita itu sangat menyebalkan, ia bodoh apa bagaimana. Aku tidak betah lama-lama berada di dekatnya. Membuatku semakin kesal.


Umpat Adrian dengan kesal. Kini dirinya sudah berendam di dalam bak mandi yang sudah di siapkan salah satu pelayan.


Adelia masih berdiri mematung. Menatap pintu kamar mandi dengan rasa kesal.


Harusnya aku yang kesal padanya, dia sudah membuatku menahan lapar. dia malah bersikap seenaknya terhadapku. Apa dia tidak bisa, bersikap sedikit lembut padaku!


Adelia kembali duduk di atas sofa. berulang kali ia memandang ke arah pintu kamar mandi dengan pandangan tajam. Ia sudah lelah menunggu.