
Sangat jauh dari apa yang ada di pikiran Adelia. Sebuah vila yang terletak di pegunungan dengan pemandangan kebun teh dan ada sebuah hutan yang mengelilingi vila itu. Udara dingin melengkapi suasana vila tersebut.
Wajah Adelia yang sebelumnya berseri, kini berubah menjadi lesu. Pantai indah yang bertabur pasir putih, dan terjang ombak yang kencang kini hanya sebuah khayalan semata. Keadaan yang saat ini ada, hanya sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan hanya tersisa sebuah keheningan.
Kenapa Mama memilih tempat ini ?
Adrian terus memperhatikan sekeliling vila. Suatu tempat yang tidak asing baginya. Karena pada saat kecil ia sering sekali diajak kedua orangtuanya datang ke vila itu untuk menikmati liburan.
"Ternyata bukan pantai." ucap Adelia kecewa. Adelia menunduk ke bawah, khayalan pantai yang tadi ia inginkan sudah berada jauh daru angan-angannya.
"Apa kau tidak suka?" Adrian melirik wajah kecewa Adelia. Ia sungguh mengerti apa yang saat ini Adelia rasakan. Hal itu terpancar jelas dari raut kecewa yang melekat di wajah Adelia.
"Aku suka, hanya saja kalau sebuah pulau akan semakin seru." ucap Adelia pelan.
Adelia melangkah pelan menuju pintu utama vila. Di depan pintu, sudah ada pelayan yang menyambut kedatangan Adrian dan Adelia.
Ternyata dia benar-benar berharap liburan di sebuah pulau. Kelihatan sekali raut wajahnya sangat kecewa.
Adrian mengikuti langkah Adelia dan segera masuk ke dalam vila.
"Selamat datang, Tuan. Saya akan mengantar anda ke kamar utama. Mari, Tuan." sambut seorang pelayan sambil membungkuk hormat di depan pintu masuk.
Pelayan itu membawa Adrian dan Adelia ke sebuah pintu besar berwarna cokelat. Pelayan itu membuka pintu secara perlahan. Untuk memberi jalan kepada Adrian dan Adelia, agar masuk ke dalamnya. Pelayan itu kembali membungkuk sebelum meninggalkan Adrian dan Adelia di dalam kamar.
Adelia memperhatikan setiap sudut ruangan. Ia berlari cepat menuju arah jendela kaca yang begitu besar. Adelia sangat begitu takjub, ketika melihat pemandangan yang indah dan sejuk yang ada di hadapannya saat ini.
"Pemandangan di sini sangat begitu indah." ucap Adelia kagum. Adelia memejamkan matanya, untuk menghirup udara segar yang masuk dari jendela.
"Iya di sini memang sangatlah indah. Aku pernah ke sini saat masih berusia 9 tahun, Vila ini rahasia." ucap Adrian sambil menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
"Mama punya vila rahasia?" tanya Adelia penasaran. Adelia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah Adrian untuk mendengar satu penjelasan.
"Vila rahasia yang menjadi tempat berkumpulnya keluarga Kusuma." jawab Adrian sambil memejamkan matanya.
"Benarkah? Ada berapa banyak pewaris keluarga Kusuma? Apa Papa anak tunggal atau memiliki saudara." tanya Adelia dengan penuh semangat.
Bukannya menjawab, Adrian hanya diam. Ia tak mampu menjawab pertanyaan sederhana yang diajukan oleh Adelia. Bibirnya terkunci untuk berkata, seperti tidak ingin menjelaskan sesuatu. Adrian bersikap seolah-olah ia tidak mendengar pertanyaan Adelia dan memilih memejamkan matanya dengan tenang.
Adelia menatap wajah Adrian dengan penuh rasa kesal. Ia sungguh penasaran dengan cerita singkat yang baru saja di katakan oleh Adrian.
"Apa dia tidur secepat itu?" batin Adelia dalam hati yang melihat ke arah Adrian yang kini sudah memejamkan mata.
Nyonya Wina memang memilih tempat yang jauh dari keramaian agar tidak ada seorangpun yang bisa mengganggu acara bulan madu Adrian dan Adelia. Vila itu juga ia jadikan sebagai tempat persembunyian Adelia dari orang yang selalu ingin mencelakai Adelia. Tidak pernah terpikir, kalau kini tempat rahasia itu sudah diketahui oleh orang yang sejak tadi mengikuti Adelia.