I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 76



Happy reading 🤗


Seorang laki-laki berjalan cepat ke arah Mr. A dengan tatapan penuh dengan amarah yang kapan saja bisa meledak.


"Dimana kau menyembunyikannya!" teriak pria itu dengan emosi yang sudah berada di level tinggi dengan tangan terkepal kuat.


"Aku tidak pernah menyembunyikan dirinya, Devan!" teriak Mr. A dengan nada yang tak kalah tinggi.


"Beraninya kau muncul di hadapanku lagi!" Devan melihat ke sembarang arah untuk memberi kode kepada beberapa pengawal yang sudah bersembunyi di balik dinding dan tiang-tiang.


Puluhan pengawal Devan telah keluar dari tempat persembunyiannya. Satu senjata api juga sudah berada di genggaman di tangan masing-masing. Senjata yang di arahkan langsung pada rombongan Mr. A, yang kini menjadi musuh Devan.


Jimy hanya memandang dengan tatapan bingung melihat kerumunan orang bersenjata yang tiba-tiba muncul dan kini ada di hadapannya. Kedua belah pihak yang memang sangat ia kenal. Jimy memilih melangkah mundur menjauhi kerumunan. Entah dari pihak mana yang kini harus dia bela. Jimy sendiri masih bingung dengan semua ini. Tatapan matanya masih fokus pada pimpinan utama penyerangan pagi ini.


"Mereka saling kenal?" gumam Jimy yang masih menyimpan rasa penasaran kepada Devan dan Mr. A.


Mr. A menatap tajam ke beberapa pengawal yang kini sudah mengepung dirinya. Sebuah senyum tipis sudah melingkar di bibirnya. Namun, sikap Mr. A masih terlihat santai dan tidak terpancar rasa takut sedikitpun.


"Kau selalu bertindak gegabah Devan!" masih dengan tatapan tajamnya.


"Seharusnya kau menghilang dari dunia ini!" ucap Devan dengan tatapan tidak suka.


"Apa kau pikir aku berada di kota ini untuk mengikuti dirimu?" tanya Mr. A dengan nada yang mulai rendah.


"Berhentilah bersikap ramah padaku! Seharusnya aku menghabisimu sejak dulu." ucap Devan dengan penuh kesal.


"Devan, percayalah padaku." ucap Mr.A pelan untuk meluluhkan hati Devan yang kini sudah di sulut api emosi yang begitu besar.


"Seharusnya aku tidak pernah percaya padamu!" teriak Devan emosi.


"Devan! Kau tidak memiliki bukti apapun untuk menuduhku!" ucap Mr. A yang sudah berada di batas akhir kesabarannya.


"Sekali lagi aku tanya padamu, dimana kau menyembunyikannya!" ucap Devan mengambil pistol dan mengarahkan tepat di depan wajah Mr. A.


Dengan sigap, beberapa pengawal Mr. A juga sudah mengangkat semua senjata yang mereka meiliki. Tatapan permusuhan sudah terpancar di wajah semua pengawal. Sejenak suasana di sekitar mereka menjadi sunyi.


"Setelah Devina hilang, Adel meninggal Devan!" ucap Mr. A pelan dengan wajah sedih.


Perlahan Devan menurunkan senjata yang tadi sempat ia todongkan. Hatinya kembali luluh, saat mendengar satu nama yang pernah ada di telinganya. Bukan hanya dirinya, tapi pria yang kini menjadi sosok tersangka yang ia tuduh juga merasakan apa yang kini ia rasakan.


"Apa maksudmu?" tanya Devan.


"Adel kecelakaan, setelah satu minggu hilangnya Devina." ucap Mr. A mencoba menjelaskan.


Deg!


Detak jantung Devan seperti berhenti berdetak, meskipun nama yang baru di sebutkan olah lawan bicaranya, merupakan sosok yang tidak pernah ia temui.


Namun Devan sangat kenal dengan sosok pemilik nama, meskipun secara langsung tidak pernah bertemu.


Adel adalah gadis yang sangat penuh misteri, semua yang terjun di dunia bisnis gelap akan mengenal nama Adel. Namun, belum ada satu orangpun yang mengetahui wajah sang pemilik nama. Hanya Mr. A yang menjadi kekasih sang wanita misterius, yang paham dengan detailnya wajah sang kekasih.


Hilangnya Adel masih menjadi misteri, tidak pernah ada yang tahu kalau Adel telah meninggal dalam satu insiden kecelakaan. Semua orang yang mengenal nama Adel, hanya berpikir kalau Adel menghilang dan akan segera kembali jika waktunya telah tiba.


"Aku tidak memiliki bukti yang kuat, untuk menuduh siapa yang menyebabkan kecelakaan itu. Tapi satu-satunya orang yang tahu wajah Adel adalah Max! Pasti dia yang sudah menyebabkan kecelakaan waktu itu." ucap Mr. A dengan wajah penuh dendam di matanya.


"Max?" ucap Jimy tiba-tiba.


Tatapan kedua pria itu kembali beralih pada Jimy, satu kecerobohan yang membuat keadaan semakin rumit. Mr. A kembali menundukkan tatapan wajahnya. Satu buket bunga mawar merah yang kini ada di tangannya, kembali mengingatkan dirinya untuk mengunjungi istri Adrian.


Bukan suatu keadaan yang Mr. A inginkan, rencananya hari ini untuk menjenguk istri dari rejan bisnisnya harus gagal. Pertemuannya dengan Devan hari ini, berlangsung secara bersamaan dengan jam besuknya.


"Tuan Jimy," ucap Mr. A pelan.


"Iya tuan," jawab Jimy dengan menunduk hormat.


"Tolong berikan bunga ini kepada istri Tuan Adrian. Lain kali saya akan kembali menjenguknya." ucap Mr. A sambil menyodorkan buket bunga pada Jimy.


"Baik tuan, saya akan memberikan bunga ini pada nona," jawab Jimy yang kini sudah menerima bunga itu.


"Kita harus bicara Devan, tapi tidak disini." ajak Mr. A yang kembali menatap wajah Devan.


"Baiklah," jawab Devan yang kembali memberi kode kepada pengawal yang ia miliki untuk bubar.


Devan berjalan ke arah mobil yang tidak jauh berbeda dari posisinya berada. Sebelum masuk ke dalam mobil, Devan kembali melirik sebentar ke arah Jimy yang masih berdiri mematung. Tanpa banyak kata, Devan segera masuk ke dalam mobil.


Disusul dengan Mr. A yang kini sudah ada di dalam mobil miliknya. Satu perintah ia ucapkan cepat kepada sang supir untuk pergi meninggalkan parkiran rumah sakit. Beberapa mobil yang sudah bergabung menjadi satu, kini melaju dengan beriringan. Suasana parkiran itu kembali sunyi tanpa ada suara dan penghuni.


Sedangkan Jimy, masih mematung memperhatikan kepergian Mr. A dan Devan. Tatapan matanya beralih pada bunga mawar yang baru saja ia terima. Jimy kembali menghembuskan nafas lega, pertemuan yang sangat ia takuti hari ini tidak terjadi.


"Sebuah kebetulan yang fantastis." ucap Jimy pelan dan kembali melangkah menuju ruang rawat Adelia.


Di dalam kamar, Adrian masih duduk diam di atas sofa. Matanya berulang kali melirik ke arah pintu yang tidak kunjung terbuka. Rasa khawatir sudah tercetak jelas di wajah Adrian. Adelia yang sejak tadi memperhatikan Adrian hanya bisa diam tanpa berani bertanya. Satu kata ancaman yang pernah diucapkan oleh Adrian, membuat Adelia takut untuk bertanya.


Hingga akhirnya, Jimy masuk ke dalam kamar Adelia. Dengan membawa bunga yang berada di tangannya.


"Jimy, dimana Mr. A?" tanya Adrian dengan tatapan mencari.


"Mr. A tidak jadi berkunjung tuan." jawab Jimy pelan lalu melangkah ke arah Adelia. "Ini ada titipan dari Mr. A nona," memberikan bunga pada Adelia.


"Wah, bunga ini sangat indah. Aku suka dengan warnanya sangat cantik. Sampaikan rasa terima kasihku pada Mr. A, Jimy." ucap Adelia yang kini terlihat memeluk buket bunga mawar merah dan menghirup wanginya dengan penuh penghayatan.


"Bunganya biasa saja, kenapa dia bisa senang seperti itu." gumam Adrian dalam hati, tatapan matanya kembali ia alihkan pada Jimy yang kini ada di sampingnya.


"Bukankah tadi kau bilang Mr. A sudah tiba, kenapa dia tidak jadi untuk masuk?" tanya Adrian dengan sejuta rasa penasaran.


"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di tempat lain tuan," ucap Jimy melirik ke arah Adelia yang masih tersenyum bahagia.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Adrian penuh dengan selidik.


Jimy hanya diam menatap wajah Adrian, tanpa berniat menjawab maupun menjelaskan semua yang telah terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Adrian lagi, yang sudah mengerti dengan ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Jimy.


"Mr. A dan...." ucapan Jimy terhenti.


"Akhhhhh."


Teriakan Adelia mengalihkan pandangan Adrian dan Jimy saat ini. Kelopak mawar merah sudah terlihat berserakan di lantai. Adelia menggenggam kuat kepalanya dengan kedua tangan. Matanya terpejam menahan sakit yang kini ia rasakan.


"Akhhh.... sakit!" teriak Adelia lagi.


"Adelia!" Adrian berlari cepat ke arah Adelia, "Jimy, panggilkan Aldo!''