
Adelia kini mulai paham, bahwa dirumah utama ini ada peraturan dan peraturan itu tidak untuk dilanggar. Meskipun peraturan itu ditujukan pada pelayan pria saja.
"Mari, Nona. Saya akan mengantarkan anda berkeliling rumah." ucap Pak Udin sambil membungkukkan tubuhnya.
"Tidak perlu, Saya akan berkeliling sendiri. Anda tenang saja Pak, saya tidak akan mungkin tersesat di rumah ini. ucap Adelia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Udin.
Tanpa disadari oleh Adelia, ada seorang pelayan yang memandangnya dengan tatapan tidak suka.
Baru menjadi Nona sehari saja sudah bangga dan sok cantik, lihat saja sampai kapan kau akan betah dirumah ini. batin pelayan itu.
Baru beberapa langkah Adelia mulai menyadari kemegahan rumah itu. Rumah utama milik keluarga suaminya.
"Baru aku sadari ternyata rumah ini seperti kota. Tadi dari mana ya aku keluarnya. Terus ini mengarah ke mana lagi? Adelia terus melangkahkan kakinya menuju ke arah kebun. Terdapat banyak buah-buahan yang siap panen di sana.
"Banyak sekali buah di sini. Adelia mandang penuh takjub. Apel... aku ingin makan buah itu yang selama ini aku inginkan, tapi Ayah selalu melarang aku untuk memakannya. Tapi, aku rasa tidak masalah jika aku makan hanya satu. Aku tidak pernah mendengar, kalau memakan buah apel akan jatuh sakit." Adelia memetik satu buah dan memakannya si situ.
Namun tiba-tiba.....
Ada bayangan seorang wanita yang duduk dengan memakan apel sambil membaca majalah. Seseorang pria datang dan menanyakan sesuatu padanya.
Tapi belum sempat Adelia mengingat semua. Adelia kembali merasakan sakit. Sakit yang sangat hebat di kepalanya. Ia tidak sanggup menopang tubuhnya. Semua terlihat berputar, kakinya kehilangan tenaga. Adelia jatuh pingsan di kebun itu.
*****
Di sebuah kamar, Adelia terlihat mulai membuka matanya dengan perlahan. Berusaha mengumpulkan ingatannya tentang yang telah terjadi. Hatinya mulai bertanya-tanya. Namun, saat itu Pak Udin sudah ada di sana. Pak Udin memberitahu semua yang telah terjadi terhadap Adelia.
"Bukankah aku tadi ada di kebun dan memetik apel. Kenapa kepalaku jadi sakit seperti ini. Adelia memegang pucuk kepalanya.
" Apa anda masih merasa sakit, nona? tunggu sebentar biar saya panggilkan dokter untuk memeriksa kondisi anda," ucap Pak Udin dengan khawatir.
"Tidak perlu Pak Udin, ini hanya sedikit sakit nanti pasti sembuh sendiri. Anda bisa meninggalkan saya sendiri sekarang." jawab Adelia sambil memegang kepalanya yang masih sedikit sakit.
"Baik, Nona."
Pak Udin membungkuk hormat, sebelum pergi meninggalkan Adelia. Menutup pintu kamar, dengan perlahan.
Setelah kepergian Pak Udin. Adelia kini mulai melamun dan memikirkan apa yang melintas di dalam pikirannya. Akhir-akhir ini bayangan aneh selalu muncul menghampirinya.
Kenapa bayangan aneh itu selalu saja muncul. Sebenarnya apa yang telah terjadi di masa laluku. Kenapa aku tidak bisa sama sekali mengingatnya. Lalu ada apa dengan hatiku ini? Kenapa hatiku merasakan, kalau sebagian milikku ada yang hilang. Apa ini alasan Ayah, yang melarangku memakan buah apel. itu menyebabkan kepalaku akan menjadi sakit, bahkan aku sampai pingsan.
Setiap kali bayangan masa lalunya muncul, ia tidak pernah berhasil untuk mengingat kejadian itu. Justru kepalanya akan semakin sakit jika ia terus saja memaksa untuk mengingat. Dan ia sering kali tidak sadarkan diri karena hal itu.
" Andai saja Ayah masih hidup. Pasti ayah akan mencemaskan aku sekarang. Adelia sangat merindukan Ayah." Buliran air mata menetes di pipi indahnya.
Di sisi lalin...
Jimy dan Alex terlihat duduk di bangku depan, hanya sesekali melirik kepada Adrian. Keseharian yang sudah biasa mereka lewati. Sifat dingin yang selalu ada, di dalam kondisi apapun.
Suara handphone berdering, menandakan ada panggilan masuk. Mengalihkan pandangan ketiganya. Jimy dengan segera mengangkat panggilan masuk, yang berasal dari rumah utama.
"Pak Udin!" seru jimy pelan
Tanpa tahu apa yang sedang dibicarakan di sana. Jimy sudah memutuskan panggilan telepon tersebut. Seperti sesuatu yang penting, wajahnya terlihat berubah.
Alex yang mengetahui perubahan sikap Jimy, hanya bisa memandangnya dari balik kemudi.
"Tuan, Pak Udin baru saja menyampaikan bahwa Nona Muda jatuh pingsan di kebun buah belakang rumah. Tapi sekarang sudah sadar. Keadaannya sudah lebih baik."
Jimy memberi informasi, yang baru saja ia peroleh kepada Adrian. Namun yang di beritahu malah masih sibuk memainkan laptop yang ada di hadapannya, tanpa merespon apapun yang dikatakan oleh Jimy.
"Itu berita yang tidak penting. Dan mulai sekarang berhentilah memberi tahuku. Apa yang wanita itu kerjakan dan apa yang terjadi padanya. Aku sama sekali tidak peduli dan tidak tertarik, dengan apapun yang berhubungan dengannya.
Jimy dan Alex hanya diam tanpa membantah lagi.
Harusnya aku mengetahui, ini yang akan dikatakan Oleh Tuan Muda ~Jimy.
Kasihan sekali Nona Muda. Apa Nona Muda tidak pantas diperlakukan dangan baik?~Alex
Beberapa menit kemudian, mobil yang Adrian tumpangi sudah tiba di sebuah perusahaan.
Sebuah gedung pencakar langit yang begitu megah. Beberapa pengawal sudah siap, untuk menyambut kedatangan bos mereka.
Terlihat beberapa karyawan memberi hormat kepada sang CEO. Tanpa membalas salam yang di berikan bawahannya. Adrian terus berjalan lurus ke depan menuju ke ara lift khusus untuknya.
Kedua asisten pribadi telah berada di samping Adrian. Keduanya juga tidak jauh berbeda dengan sikap dinginnya Adrian. Mereka hanya memandang tajam ke beberapa karyawan yang berbisik. Hal itu langsung membuat karyawan yang berbisik, menjadi takut. Saat pandangan tidak suka dilayangkan Jimy, di tujukan pada mereka.
Sungguh tajam sekali pendengaran Jimy wkwkwk.
" Walaupun sudah menikah, dia sama sekali tidak berubah, sifatnya masih saja dingin," bisik karyawan A.
"Meskipun dia sangat dingin, tapi dia semakin terlihat tampan," bisik karyawan B.
"Sayang sekali pernikahan Tuan Adrian cuma di hadiri para tamu penting. Jadi saya tidak tahu bagaimana wajah istrinya seperti apa. Wanita yang sudah berhasil menaklukkan hati Tuan Adrian," tambah beberapa karyawan lainnya yang hanya bisa berkata pelan.
Karena jika satu kata saja yang si dengar oleh Jimy, maka bisa membuat mereka kehilangan pekerjaannya. Mereka harus ekstra hati-hati.
Tapi tidak dengan Alana, ia sudah siap menyambut kedatangan Adrian di depan ruang kerjanya. Ya, Alana mendapatkan posisi paling penting di perusahaan milik Adrian. Alana menjadi sekretaris Adrian, yang khusus menyelesaikan semua kegiatan Adrian.
Awalnya Adrian tidak membutuhkan sekretaris tambahan. Tapi karena permintaan sahabatnya, ia tidak mampu untuk menolaknya.