
Alana dan Jimy hanya bisa berdiri mematung di depan ruangan. Tatapan keduanya hanya sebuah tatapan saling menyalahkan. Masih terdengar barang jatuh dan pecah di dalam.
"Apa kau puas sekarang!" bentak jimy sambil menatap tajam ke Alana.
"Kenapa kau jadi menyalahkanku? Kau juga di usir, berarti kau juga salah!" jawab Alana membela diri.
Mendengar amukan Adrian dari dalam ruangan, membuat perasaan Jimy terasa sakit. Usahanya yang tidak membuahkan hasil yang menjadi penyebab utamanya.
"Apa dia sangat marah? sampai membanting semua barang." gumam Alana sambil menatap bingung ke arah Jimy.
"Apa kau bisa pergi dari sini, kau sangat menyusahkan." sambil mencoba menarik gagang pintu ruangan Adrian.
"Kau mau masuk? Aku ikut...." ucap Alana.
"Apa kau sudah gila! Tuan Adrian menjadi seperti ini karena perbuatanmu dan sekarang kau bilang mau masuk?" protes Jimy yang tidak menyetujui keinginan Alana.
"Kau juga bersalah Jimy, jangan bertingkah seperti itu!" sindir Alana.
Dia pasti akan tetap ikut masuk jika aku masuk sekarang, lebih baik aku kembali ke ruanganku saja. batin Jimy melepas genggaman tangan dari gagang pintu.
"Kau tidak jadi masuk?" tanya Alana.
"Tidak! Jika kau ingin, masuk saha sendiri." sambil berlalu pergi meninggalkan Alana sendiri.
"Dasar pria aneh, tadi dia melarang dan sekarang malah menyuruhku untuk masuk." sambil menatap pintu ruangan Adrian.
"Lebih baik aku kembali ke ruanganku saja, sepertinya suasana hati Adrian sedang buruk saat ini." Alana melangkah cepat menuju ruangannya.
"Kau tidak secerdas yang aku pikirkan." batin Jimy sambil tersenyum tipis menatap kepergian Alana.
Dengan langkah cepat, Jimy kembali masuk ke dalam ruang kerja Adrian. Biasanya dirinya selalu di temani oleh Alex tiap kali mendapat situasi seperti ini. Namun kali ini ia harus berdiri sendiri untuk meredam emosi yang di miliki Adrian.
Terlihat ruangan sangat berantakan. Semua barang sudah tidak pada tempatnya lagi. Beberapa barang sudah pecah berserakan di lantai. Di sebuah sofa terlihat Adrian yang sedang duduk diam sambil menopang kepala dengan kedua tangannya.
"Tuan..." ucap Jimy pelan sambil melangkah mendekat kearah Adrian.
Satu-satunya cara menghadapi Adrian dalam kondisi seperti ini adalah dengan berada di sampingnya. Terakhir kali hal ini terjadi saat ia memiliki perselisihan dengan Devan. Sejak saat itu, ini pertama kalinya Adrian kembali marah besar dan memecahkan semua barang yang ada.
"Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk menyelidiki semua ini tuan." ucap Jimy pelan.
"Kita tidak akan menang, Papa pasti ada di balik semua ini." jawab Adrian dengan senyum tipis di bibirnya.
"Bukan hanya berhadapan dengan musuh! Tapi saat ini kita berhadapan langsung dengan Tuan Agung Kusuma! Dia tidak akan membiarkan kita mudah memperoleh informasi." tambah Adrian sambil menggenggam kuat kedua tangannya.
"Kita tidak bisa menuduh tuan Agung seperti itu tuan."
"Apa kau sekarang ada di pihaknya?" tanya Adrian dengan tatapan menuduh.
"Maaf tuan." Jimy hanya menunduk.
Adrian hanya menatap Jimy dan kembali mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terlihat berantakan.
"Bereskan semuanya!" sambil beranjak dari duduk dan mengambil handphone yang kini berdering.
"Baik tuan." jawab Jimy singkat.
"Adelia!" Ucap Adrian pelan.
Tatapan mata yang awalnya di penuhi amarah langsung berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
"Jim, ikut denganku ke rumah sakit."
Tanpa banyak protes, Jimy mengikuti langkah kaki Adrian dengan cepat.
Hatinya masih di penuhi banyak pertanyaan tanpa berani untuk bertanya. Dengan cepat Jimy membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Adrian masuk ke dalam. Keduanya sudah ada dalam satu mobil yang sama.
"Kau akan baik-baik saja Adelia, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada dirimu." ucap Adrian dalam hati.
Tidak butuh waktu lama, mobil sudah tiba di rumah sakit. Tanpa menunggu Jimy membukakan pintu, Adrian keluar dari dalam mobil dan berlari cepat menuju ruang rawat Adelia. Debaran jantung semakin cepat saat langkahnya semakin dekat dengan kamar Adelia.
Adrian hanya diam mematung saat ia sudah berada di dalam, pemandangan di depan matanya sangat jauh dari apa yang ada di dalam pikirannya.
"Adelia..." ucapnya singkat.
"Adrian..." ucap Wina lirih.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Adrian.
"Kau sangat cepat datang kesini Adrian! Bukankah Nyonya Wina baru saja menelponmu?" tanya Aldo.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Adrian lagi yang tak kunjung mendapat jawaban.
"Tadi Adelia menggerakkan tangannya, Mama sangat senang melihatnya. Langsung saja Mama menghubungimu untuk memberi kabar tentang ini. Tapi belum sempat menjelaskan semuanya, kau sudah memutuskan panggilan dan tiba-tiba sudah muncul di sini." jelas Wina sambil tersenyum memandang Adrian.
"Hanya menggerakkan tangan?" ucap Adrian kaget. " Astaga, kenapa aku sampai berpikir sejauh itu, dia masih baik-baik saja." sambil menatap wajah Adelia yang masih tertidur.
"Apa kau sangat mengkhawatirkan istrimu? Hingga tidak bisa berpikir jernih dan meninggalkan kantor hanya untuk melihat keadaan istri tercinta?" ledek Aldo.
"Benarkah itu Adrian?" tanya Wina.
"Aku, aku hanya." ucapan Adrian terhenti.
Aku harus menjawab apa? aku tidak mungkin berkata jujur di depan mereka semua.
"Aku hanya mengantar Jimy, dia terlihat tidak sehat hari ini." ucap Adrian asal sambil memberi kode kepada Jimy untuk menyetujui perkataannya.
"Benarkah?" tanya Wina tidak percaya.
"Iya Nyonya, saya sedikit tidak enak badan." ucap Jimy.
"Kau bisa sakit juga ya Jim? Aku rasa kau harus di infus, kau pasti sangat lelah karena masalah kemarin bukan. Kau harus istirahat cukup dan...."
"Maaf tuan, saya harus kembali ke kantor. Ada masalah darurat yang harus segera di tangani." ucap Jimy melarikan diri dari jebakan yang sudah di buat Adrian. Sambil menunduk hormat dan Jimy berlalu dari ruangan itu.
"Apa dia langsung sembuh ketika mendengar infus" ucap Aldo sambil menatap wajah Adrian yang sudah memerah karena malu.
"Aku rasa dia sudah sembuh hanya melihat wajahmu." ucap Adrian.
"Adrian, kau tidak kembali ke kantor?" tanya Aldo.
"Tidak!"
"Mama pulang dulu ya, tolong jaga Adelia." ucap Wina pelan dan berlalu pergi meninggalkan ruangan.
"Iya, Ma." gumam Adrian.
"Adelia, kau harus segera bangun. Kau harus membantuku untuk menjawab semua kekacauan ini!" ucap Adrian sambil menggenggam tangan Adelia.
"Aku sudah bangun sejak tadi." ucap Adelia.
"Adelia, kau!" dengan cepat Adrian melepas genggaman tangan dari Adelia dan berdiri dari duduknya.
"Dimana ini?" tanya Adelia.
"Di rumah sakit." jawab Adrian singkat.
Adelia kembali mengingat peristiwa penyerangan orang asing yang terjadi di hutan bersama Adrian dan Devan.
*****
****