I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 63



Nyonya Wina berbaring di atas ranjang dengan tatapan kosong memandang ke arah langit-langit kamar dan ingatannya kembali terbang memikirkan keadaan Adrian dan Adelia yang saat ini dalam bahaya. Pikirannya belum tenang sebelum mendapat kabar jika Putranya baik-baik saja.


"Seharusnya sejak awal aku harus mencegah semua ini terjadi." ucap Tuan Agung dalam hati sambil memandang ke arah sang istri tercinta.


"Adrian, mama harap kamu baik-baik saja sayang." ucap Nyonya Wina sambil memejamkan mata.


Tidak seperti biasa, hari ini rumah utama di selimuti dengan perasaan khawatir terhadap keselamatan Adrian dan Adelia. Melalui media, kabar penyerangan yang terjadi di Vila sudah diketahui seisi penghuni rumah. Semua pengawal dan pelayan yang ada hanya bisa diam tanpa bisa bertanya untuk meminta sebuah penjelasan.


****


Di rumah sakit Adrian masih berdiri dengan wajah cemas. Koridor rumah sakit yang begitu ramai, kini terasa sangat sepi di hadapan Adrian. Hanya ada bayangan wajah Adelia yang memenuhi pikirannya. Dari kejauhan terlihat Jimy datang dengan penuh luka di tubuhnya. Jimy segera menemui Adrian yang kini masih berdiri mematung di depan ruangan.


"Tuan, anda harus mengobati luka anda." pinta Jimy saat sudah berada di hadapan Adrian dan melihat ke arah luka di sekujur tubuh Adrian.


"Tuan..." ulang Jimy saat Adrian tidak menjawab.


"Apa kau tahu dia saat ini ada di dalam! Aku tidak pernah bisa membayangkan apa yang akan terjadi." bentak Adrian di hadapan Jimy yang menolak permintaan Jimy.


"Tapi, Tuan." ucap Jimy lagi.


"Diam! Pergilah tinggalkan aku sendiri." ucap Adrian tegas sambil membuang pandangan dari Jimy.


Sambil menunduk hormat, Jimy meninggalkan Adrian sendiri di sana.


Setelah 4 jam menunggu, akhirnya seorang Dokter keluar dari ruang operasi. Raut wajah yang tidak bisa terbaca membuat Adrian semakin khawatir. Dengan langkah cepat Adrian mendekat ke arah Dokter yang menangani Adelia.


"Istri anda masih kritis Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan berhasil mengeluarkan peluru yang ada di tubuhnya. Tapi saat ini keadaan pasien benar-benar lemah." jawab sang Dokter sambil menatap sedih ke arah Adrian.


"Adelia..." ucap Adrian sambil terduduk lemas di lantai. Semua tenaga yang ia miliki sudah hilang detik itu juga saat mendengar penjelasan dari sang Dokter. Pikirannya kembali melayang memikirkan keadaan Adelia saat ini.


"Anda harus banyak berdoa, Tuan."


"Saya mau membawa istri saya kembali ke kota." ucap Adrian.


"Baik, Tuan. Saya akan mempersiapkan semuanya." Dokter itu melangkah pergi meninggalkan Adrian yang masih duduk diam di atas lantai. Ia mulai menyiapkan semua yang di perlukan, untuk perpindahan Adelia malam ini.


Dengan sisa tenaga yang saat ini ia miliki, Adrian membuka pintu yang menghubungkan dia dan Adelia. Terlihat di dalam banyak peralatan medis yang menjadi alat bantu untuk Adelia tetap bertahan hidup. Kedua mata yang masih tertutup rapat membuat hati seorang Adrian semakin terpukul.


Di sebuah kursi yang terletak di samping Adelia berbaring, Adrian duduk sambil menatap ke arah Adelia dengan sedih yang terlihat jelas di wajahnya. Tangannya terus memegang erat tangan Adelia.


"Adelia, kau harus bertahan." ucapnya lirih.


Keesokan harinya, di sebuah pemakaman. Terlihat segerombolan orang memakai pakaian serba hitam. Suasana yang begitu hening, pandangan semua orang menatap sosok yang mereka sayangi kini telah pergi untuk selama-lamanya. Adrian dan Jimy hanya bisa diam mematung memandang ke arah batu nisan yang sudah tertancap di atas tanah. Kaca mata hitam yang mereka kenakan, menutupi buliran air mata yang menetes dari mata mereka.


Hari ini adalah hari berduka bagi keluarga besar Kusuma. Semua orang terlihat diam membisu menghadapi kenyataan yang kini terjadi. Devan yang juga hadir di sana hanya bisa menatap sedih ke arah pemakaman. Semua masalah ini begitu cepat terjadi hingga mereka harus kehilangan satu orang yang sangat mereka sayangi.


****