I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 38



Adelia tidak bisa protes ataupun membantah, Adelia menurut dan masuk kembali ke dalam mobil. Adelia malas berdebat untuk saat ini.


"Mereka sungguh membuatku jengkel, masa buat beli makanan saja tidak boleh."


Adelia bergumam pelan, entah apa saja yang ia katakan.


Hingga beberapa saat kemudian, Adelia telah tiba di rumah sakit tempat Eva dirawat. Wanita itu turun dari dalam mobil lalu melangkah cepat masuk ke dalam rumah sakit.


"Kalian kenapa mengikuti saya?" tanya Adelia sambil menolehkan kepalanya ke belakang. Dan melihat para pengawal mengikutinya dari belakang.


"Maaf, Nona. Tapi ini sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menjaga dan melindungi Nona." ucap salah satu pengawal dengan sebuah kata penjelasan.


"Ini kan rumah sakit, aku akan baik-baik saja di dalam. Lihatlah kini aku menjadi pusat perhatian." Adelia menghentikan langkahnya.


Adelia memang sangat risih dengan tatapan semua mata itu tertuju kepadanya. Adelia tidak peduli, dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Eva.


Dikawal oleh beberapa orang pengawal sangat menunjukkan bahwa Adelia bukanlah orang biasa.


"Kalian berpencar saja, aku sangat tidak nyaman diikuti kalian," ucap Adelia kembali menghentikan langkahnya.


Adelia melihat pengawal hanya diam tanpa ekspresi, Adelia hanya bisa berbalik, lalu melanjutkan perjalanannya lagu, "Adrian dan Mama memang sama saja. Mereka berdua sangat menyebalkan.


Sepanjang perjalanan menuju kamar Eva, Adelia terus saja bergumam dengan suara tidak jelas.


Kini Adelia telah tiba di depan kamar tempat Eva di rawat. Adelia melangkah masuk dengan hati-hati ke dalam.


Ceklek


Pintu dibuka Adelia dengan perlahan. Disana terlihat Eva terduduk dengan bersandar di sebuah bantal. Dengan segera Adelia melangkahkan kakinya mendekati posisi Eva.


"Eva, bagaimana keadaanmu, apa kau sudah baikan?" tanya Adelia pelan.


"Nona Adelia, saya sudah mulai membaik," ucap Eva yang masih dengan suara lemah.


"Bagus kalau begitu biar kau bisa segera pulang," ucap Adelia.


"Iya, Nona. Saya sudah ingin segera pulang," ucap Eva pelan.


"Hai Vina, apa kau rewel tadi malam?" Adelia mengambil alih Vina dari gendongan Evi.


"Dia anak yang baik, Nona. Vina sangat mengerti keadaan ibunya sedang sakit jadi dia tidak rewel sama sekali," ucap Evi pelan.


"Anak pintar kamu ya Vina,"


"Silahkan, Nona." ucap Evi mengambil sebuah bangku untuk Adelia duduk.


"Terima kasih banyak, Evi ."


Nona Adelia, apa dia datang ke rumah sakit ini sendirian? Lalu dimana Tuan Adrian. Kenapa tidak ada menemani Nona Adelia.


Eva berkata di dalam hati, sambil mencari-cari seseorang.


"Nona, apa anda tadi ke sini sendirian" tanya Eva yang mulai khawatir.


"Iya, aku sendirian masuk ke dalam kamar ini."


Adelia mengedipkan matanya sebelah kiri. Sungguh membuat penasaran untuk Eva.


"Bukan hanya satu Eva, tapi ada beberapa pengawal di luar sana, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku."


Eva menarik napas dengan lega, karena Adelia datang ke rumah sakit dengan didampingi beberapa pengawal yang dapat melindunginya dari bahaya. Seperti kemarin kejadian yang datang tanpa diduga sama sekali. Eva baru pertama kali melihat orang bersenjata api. Dan yang menjadi incaran adalah Adelia.


"Nona, apa anda mengenal penembak waktu itu? Kenapa dia ingin mencelakai Nona?'' tanya Eva sambil mengingat kembali kejadian di taman. Masih terbayang jelas di dalam pikirannya, saat ada seorang pria yang mengarahkan senjata apinya ke arah Adelia.


"Entahlah, aku sendiri tidak melihat orangnya." ucap Adelia.


Eva yang penasaran terus memberi pertanyaan kepada Adelia, bahkan Eva melupakan status dirinya yang hanya seorang pelayan. Yang dipikirkannya hanya rasa khawatir terhadap Adelia.


"Sudahlah jangan mengkhawatirkanku seperti itu." ucap Adelia.


"Maafkan saya Nona, saya sudah sangat lancang bertanya kepada anda," ucap Eva sambil menundukkan kepala merasa bersalah.


"Kenapa sekarang kau jadi sedih seperti itu? aku benar-benar tidak bisa mengingat apapun, entah aku mengenal orang itu atau tidak," ucap Adelia lirih.


Atau mungkin pria yang berniat menembakku adalah bagian dari masa laluku? Atau itu adalah musuh dari persaingan bisnis Adrian


ucap Adelia sambil bertanya-tanya tapi tidak menemukan jawaban di dalam hatinya.


Adelia berkata dengan benar bahwa ia tidak bisa mengingat apapun. Masa lalu yang terekam jelas di pikirannya adalah tentang kenangan indah dengan sang Ayah tercinta. Selain itu Adelia tidak mengingat apapun.


Mengapa Nona Adelia tidak bisa mengingat? Mungkin memang dia tidak kenal dengan orang itu!


Eva ingin bertanya tentang kondisi Adelia. Tapi diurungkan niatnya, karena sungguh tidak sopan untuk dirinya mencampuri majikannya.


"Nona, apa anda sudah makan siang? Evi akan membelikan makanan untuk anda," ucap Eva mengalihkan pembicaraan.


"Aku memang sangat lapar sekali, tapi jangan Eva, aku tidak ingin merepotkanmu."


"Tidak, Nona. Saya akan sangat senang jika Nona mau menerima pemberian saya."


"Baiklah, jika kau memaksa." Adelia tidak enak hati untuk menolak permintaan Eva. "Tapi aku harus menghubungi Adrian agar ia tahu kalau aku akan pulang terlambat," Adelia berdiri dan menyerahkan balita yang sudah tertidur pulas itu kepada Evi, dan melangkah keluar kamar tempat Eva di rawat.


Adelia membuka pintu dengan perlahan, di depan kamar, Adelia lagi-lagi disambut dengan beberapa pengawal yang bertugas menjaganya.


"Maaf, Nona. Apa anda sudah selesai?" tanya salah satu pengawal yang berdiri tegap di depan pintu kamar Eva.


"Aku hanya ingin menelepon Adrian, setelah itu saya akan masuk lagi ke dalam." ucap Adelia kepada orang itu.


"Baik, Nona. Kami akan dengan setia menunggu anda sampai selesai."


''Terserah kalian saja," ucap Adelia sambil melangkah menuju arah toilet. Adelia ingin sekedar mencuci mukanya di dalam kamar mandi.


Langkah Adelia terhenti, saat melihat dua orang pengawal mengikuti langkahnya dari belakang. Adelia sangat begitu risih dengan hal ini. Pergi kemana-mana harus diikuti.


"Apa kalian akan mengawasiku di toilet?" tanya Adelia dengan ketus.


Dua pengawal itu tidak menjawab dan diam tanpa ekspresi sama sekali, Adelia sungguh dibuat jengkel karena melihat para pengawal yang bermuka datar. Ingin rasanya Adelia menjambak rambut kedua pengawal itu biar mereka tau rasa.


"Berhanti di sini jangan mengikutiku lagi. Atau aku akan laporkan kalian pada Mama."


Kalimat ancaman Adelia memang cukup berhasil. Semua pengawal itu menghentikan langkahnya dan memilih untuk menunggu Adelia di luar toilet yang menjadi tempat mereka berdiri saat ini.


Ternyata dengan ancaman mengadu ke Mama, bisa membuat mereka diam dan tidak berkutik. Ternyata mereka takut sekali dengan Mama! Kenapa tidak dari tadi saja aku gunakan nama Mama!!!!