
Adrian menatap Tuan Agung dengan amarah yang begitu besar. Sedikit lagi ia akan mengetahui tentang rahasia Adelia tapi malah di gagalkan oleh Papanya sendiri.
"Rahasia apa yang Papa sembunyikan dariku! Apa pa!" teriak Adrian yang kini diselimuti amarah.
"Apa maksudmu Adrian?" dengan wajah yang sudah di penuhi kepanikan.
"Cukup! Aku bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi!" ucap Adrian dengan membuang napas secara kasar.
"Aku akan menyelidiki ini sendiri." Adrian pergi meninggalkan gudang diikuti oleh Jimy.
"Entah kapan rahasia ini akan terbongkar Adrian, Papa harap kau mau memaafkan kami." Tuan Agung hanya bisa memandang punggung Adrian dengan diam.
Wajah penuh kekecewaan terlihat jelas di wajah Adrian dan Jimy saat ini. Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan gudang.
"Apa sudah ada perkembangan tentang pria bernama Jo?" tanya Adrian sambil kembali memikirkan perkataan Max.
"Belum Tuan, pria seperti dia akan sangat sulit di temukan. Tapi kami akan segera menemukan pria itu." Terus fokus pada setir." Apa kita ke rumah sakit Tuan?" tanya Jimy lagi.
"Ya, aku ingin melihat keadaan Adelia." ucap Adrian menyandarkan kepalanya dengan tenang.
Mobil terus melaju, perkataan Max menambah teka-teki yang belum terpecahkan menjadi semakin rumit. Rahasia Adelia yang sangat penuh dengan tanda tanya membuat Adrian tidak bisa hanya tinggal diam. Otaknya terus berpikir keras untuk menemukan semua rahasia tentang Adelia.
"Kau begitu polos Adelia. Bagaimana bisa aku mulai penyelidikan ini. Siapa kau sebenarnya?" Adrian bertanya-tanya, wajah lugu dan ketakutan Adelia mulai terlintas di pikiran Adrian.
Keadaan Adelia yang masih lupa ingatan saat ini, membuat dirinya tidak bisa menanyakan hal itu langsung pada Adelia. Kini Adrian hanya bisa memejamkan mata, pikirannya mulai merangkai sebuah rencana yang harus segera ia lakukan.
"Sejak awal Nona Adelia memang sangat berbeda, tidak seperti wanita lain pada umumnya, saat ia bisa menembak dengan mudah waktu itu..." gumam Jimy kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Bulan madu yang berantakan karena sebuah masalah yang tidak tahu kapan akan terselesaikan. Wajah ceria Adelia dan tawa bahagia menyimpan misteri begitu besar di baliknya. Seperti sebuah takdir yang sudah di gariskan sama sang maha pencipta. Bulan madu kali ini memang membuat Adrian terus memikirkan Adelia. Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Semua isi kepalanya hanya dipenuhi nama Adelia.
***
"Hey gadis bodoh yang begitu menyebalkan. Apa kau tidak lapar? Kau sangat doyan makan." ucap Adrian di hadapan Adelia.
Sudah 5 hari setelah kejadian penembakan itu terjadi, Adelia belum juga sadar. Kedua mata masih terpejam menikmati tidur panjangnya saat ini. Jimy juga belum menemukan bukti yang mengarah dengan masa lalu Adelia.
Semua yang pernah berhubungan dengan masa lalu Adelia sudah lebih dulu di musnahkan oleh Tuan Wijaya. Menikah dengan Adrian juga tidak membuat hidup Adelia aman, hal itu jauh lebih dulu di pikirkan Tuan Wijaya. Hingga ia memiliki ide licik untuk menghapus semua bukti yang berhubungan dengan Adelia. Satu-satunya bukti yang bisa membongkar semua rahasia Adelia adalah musuh yang masih menghirup udara segar saat ini.
"Kenapa hanya menyelidiki masa lalu putri tunggal keluarga Wijaya sangat sulit untuk aku lakukan! Tidak ada hal-hal yang mencurigakan di sini." Adrian membuka lembar tiap lembar kertas yang berisi tentang kehidupan Adelia masa kecil hingga ia menikah dengan Adrian.
Meletakkan tumpukan kertas itu pada sebuah meja. Adrian kembali memfokuskan pandangannya pada wajah Adelia.
"Apa aku mengganggu?" ucap Aldo yang tiba-tiba muncul di dalam ruangan.
"Kau benar-benar dokter yang tidak berguna. Sampai detik ini dia tidak kunjung membuka mata." Adrian menatap kesal ke arah Aldo.
"Ini sangat jarang terjadi, pengaruh tembakan itu bukan hanya merusak organ tubuhnya yang terkena peluru." ucap Aldo sambil melihat hasil scan yang ada di genggaman tangannya.
"Apa maksudmu?" tanya Adrian.
"Adelia pernah kecelakaan dan menyebabkan dia seperti lupa ingatan!" jelas Aldo.
"Aku sudah mengetahui itu." jawab Adrian pelan. " Mama bilang Adelia pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan lupa ingatan." sambungnya lagi.
"Dan bekas luka tembak di lengan kirinya?" ucap Aldo, menatap wajah Adrian serius.
"Luka tembak?" Adrian mengerutkan keningnya.
"Kau tidak mengetahui ini Adrian? Keterlaluan sekali kau dia itu istrimu!" decak Aldo pelan dan duduk di kursi yang juga berada di samping Adelia.
"Apa luka itu sudah lama?" tanya Adrian penasaran.
"Belum terlalu lama." jawab Aldo yang kembali mengingat hasil pemeriksaan.
"Apa kau belum menyelesaikan teka-teki ini Adrian?"
"Belum, ini masih sulit. Jimy belum menemukan apapun dari hasil penyelidikannya."
"Kenapa kau tidak menyelidiki pria yang bermana Mr. A itu Adrian."
"Mr. A?"
Ya, dia pria yang juga ada hubungannya dengan kasus ini bukan?"
"Tidak mudah untuk itu. Kerjasama kami baru saja berjalan. Jika ia tahu aku sedang menyelidikinya ini akan berdampak buruk bagi perusahaan."
Adrian menopang dagu dan menghentikan perkataan sejenak, " Dua pasti bukan orang biasa yang mudah untuk ku selidiki secara diam-diam." Adrian membuang napas dan kembali berpikir mencari sebuah solusi.
"Maafkan aku Adrian, Aku hanya bisa membantu untuk membuat Adelia segera sadar. Aku juga tidak punya teman atau saudara yang berhubungan dengan Mafia." jawab Aldo mencari alasan.
"Mafia?"
Tiba-tiba seseorang muncul dan tertawa terbahak-bahak hingga tawanya mengisi seisi ruangan.
"Apa kau beralih pada bisnis terlarang Adrian?" pria itu berjalan ke arah Adelia dan meletakkan buket bunga Lily di samping Adelia.
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Adrian kesal.
"Aku hanya sedang ingin menjenguk Adelia, apa itu di larang?" jawab Devan dengan wajah tidak bersalah sedikitpun.
"Sepertinya aku harus memeriksa pasien lainnya." ucap Aldo dan berjalan pergi meninggalkan Adrian dan Devan di sana.
"Jadi, ada apa dengan Mafia?" tanya Devan sambil menatap ke arah Adrian.
****
Beberapa tahun yang lalu....
"apa yang kau lakukan Devan? Kau tidak bisa bersama wanita itu." Bentak Amar.
"Maaf, Pa! aku akan tetap menikahi wanita itu." ucap Devan tegas sebelum melangkah pergi meninggalkan Wira.
"Berhenti, Devan!" bentaknya lagi. "Kau tidak pernah tahu, betapa liciknya wanita yang sudah kau anggap malaikat itu." teriak Wira kecewa.
"Dia jauh lebih baik dari wanita yang sudah kau siapkan untukku!"
Tanpa mau berbalik badan dan menatap ke arah belakang. Devan terus berjalan menuju pintu besar rumah itu. Dengan wajah yang sudah di penuhi amarah yang besar terhadap sang ayah. Hubungannya dengan wanita yang paling ia cintai, tidak kunjung mendapat restu. Pernikahan yang sudah telah di rencanakan harus gagal.
"Aku pasti akan tetap menikahimu." ucap Devan, sambil menggenggam tangan wanita yang kini duduk di sampingnya.
Mobil melaju dengan kencang, meninggalkan halaman luas rumah besar itu. Beberapa pengawal membuka pintu pagar untuk memberi jalan pada Devan.
Devan Kusuma, putra tunggal dari Wira Kusuma. Wira merupakan adik satu-satunya Tuan Agung Kusuma.
Berbeda dengan Agung, Wira memilih terjun ke dunia bisnis global secara ilegal. Kekayaan yang ia miliki merupakan hasil dari bisnis menjual barang terlarang dan minuman keras. Kekayaan yang tiada tara membuat Wira menjadi orang yang di segani oleh beberapa Mafia besar yang tersebar di berbagai penjuru negara.
Devan yang merupakan pewaris dari bisnis yang ia kelola saat ini telah membangkang perintahnya. Lelaki itu tidak mau menikah dengan wanita yang sudah di siapkan oleh sang ayah. Ancaman untuk mengeluarkan Devan dari ahli waris, tidak menggetarkan jiwa untuk meninggalkan sang kekasih. Ancaman ibarat sebuah kata yang tidak pernah membuahkan hasil.
Hingga malam itu, Devan datang untuk memberi sebuah undangan pernikahan yang sudah ia siapkan. Bukan hanya sebuah kata penolakan dari sang ayah, semua rencana yang ia siapkan hancur berantakan karena campur tangan dari perbuatan Wira.
"Aku sangat mencintaimu, Devan." gumam sang kekasih sambil memeluk Devan erat.
"Maafkan aku, tapi kita tetap akan menikah sayang." ucap Devan sambil mencium kening sang kekasih.
"Ayahmu tidak akan diam melihat semua ini."
"Aku akan melakukan apapun, demi cinta kita." Devan menatap wajah sang kekasih dengan penuh kasih sayang.
Yang di lakukan Wira membuat Devan dendam pada sang ayah. Lelaki itu berniat buruk untuk merebut bisnis yang dimiliki Wira. Bisnis besar harus di hancurkan dengan bisnis yang besar juga. Tuan Agung menjadi tempat untuk memperoleh pertolongan. Devan datang menemui Adrian untuk meminta bantuan agar bisa dengan mudah menghancurkan sang ayah.
"Ada apa kau kesini Devan?" ucap Adrian yang sedang duduk santai di balik meja kerjanya.
"Apa kau tidak bosan bekerja seperti ini? Kau hanya mendapat sedikit keuntungan dari perusahaan makanan ringan seperti ini!" Devan berjalan mendekat sebelum duduk di sebuah sofa.
"Aku akan segera rapat. Katakan apa maksud kedatanganmu hari ini?" ucap Adrian tanpa mau basa-basi.
"Aku ingin kau membantuku Adrian." wajah Devan terlihat cukup serius saat itu. Ia juga tidak yakin kalau saudaranya mau membantu dirinya.
"Membantu? Apa pebisnis yang sudah bergelimang harta sepertimu masih sanggup meminta bantuan dari perusahaan makanan ringan sepertiku?" ledek Adrian gantian.
"Adrian, aku akan menikahi gadis yang sangat aku cintai." Devan menahan kata-katanya.
"Lalu, apa hubungannya denganku?" tanya Adrian.
"Bantu aku membongkar bisnis ilegal Papa." suara Devan nyaris tidak terdengar.
"Apa! Dia orang tuamu, Devan. Kau ingin menghancurkannya?" teriak Adrian mengerutkan keningnya.
"Dia sudah menghancurkan rencana pernikahanku, Adrian. Aku harus mengambil harta warisanku."
"Dengan cara menjebak ayahmu sendiri?" tanya Adrian sambil menatap ke arah Devan.
"Aku sangat mencintainya!" tegas Devan.
"Devan, kau sudah tidak waras. Hanya karena wanita!" Adrian melangkah meninggalkan Devan.
Adrian satu-satunya sepupu yang ia miliki. Sejak kecil hingga beranjak dewasa, kekompakan di antara keduanya sudah terlihat. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka.
"Maafkan aku Adrian, jika kau tidak bisa melakukannya aku akan melakukan ini sendiri." sambil melangkah ke sebuah brangkas yang ada di ruang kerja Adrian.
Cinta sudah membutakan mata Devan. Semua aset perusahaan milik Adrian ia curi dan di jual kepada beberapa mafia besar yang ia kenal. Penjebakan untuk sang ayah juga sudah ia rencanakan dan melibatkan nama Adrian di dalamnya.
Tapi rencana yang sudah ia siapkan membuat semua orang murka terhadap dirinya. Bukan hanya sang ayah, keluarga besar Agung kusuma juga sangat membenci Devan. Kelakuan Devan juga sudah membuat Wira jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia. Sementara bisnis yang sudah ia rintis harus jatuh ke tangan Devan.
Sebuah senyum kemenangan terpancar dari wajah Devan. Tetapi pernikahan tidak pernah terjadi. Wanita yang paling ia puja justru meninggalkan dirinya tanpa adanya kabar. Hanya Adrian, satu-satunya orang yang ia tuduh saat itu.
Persaudaraan di antara keduanya harus berakhir detik itu juga. Nama Devan sudah terhapus dari ingatan Adrian, hanya ada dendam dan amarah tiap kali ia melihat wajah Devan. Tidak hanya menghancurkan perusahaan, Devan juga merusak semua rencana Adrian untuk bangkit dari keterpurukan. Wanita berinisial D yang tidak pernah ia ketahui identitasnya menjadi penyebab utama hancurnya keluarga besar Kusuma.
Hingga suatu ketika, Tuan Wijaya datang memberi semua harta yang ia miliki dan beberapa investor kepercayaan kepada Adrian. Perusahaan kembali jaya di masanya. Devan menghilang dengan bisnis terlarangnya.
Setelah beberapa bulan menyelidiki, Devan tidak menemukan bukti apapun yang menuduh Adrian sebagai dalang daru hilangnya sang kekasih. Penyesalan muncul di dalam diri Devan. Bukan hanya maaf yang di tolak, Devan di larang keras untuk menemui Adrian. Hingga detik ini mereke berdua kembali di pertemukan melalui Adelia.
Beberapa saat kemudian, Devan tersadar dari lamunan panjangnya.
"Jadi, ada apa dengan Mafia?" tanya Devan lagi.
"Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat wajahmu ada di kamar ini." ucap Adrian penuh kebencian.
"Baiklah. Aku rasa hutang budiku juga sudah terbayar." Devan berdiri dari duduknya, " Aku tidak lagi merasa bersalah terhadap dirimu." Kemudian melangkah pergi meninggalkan Adrian.
Adrian hanya diam mendengar perkataan Devan. Peristiwa penyerangan itu memang bisa di hindari karena bawahan Devan tiba di sana. Namun kata maaf dari hati Adrian untuk Devan belum bisa ia berikan. Pengkhianatan Devan benar-benar membuat pria itu tidak lagi memiliki tempat di hidup Adrian.
"Maaf kau bilang! Aku bukan Adrian yang dulu kau kenal, Devan!" ucap Adrian sambil tersenyum tipis memandang punggung Devan.
Di rumah utama sebelum Agung tiba di gudang....
"Kita harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat." ucap Agung.
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa saat ini." jawab Wina dengan wajah sedih.
Setelah kejadian besar yang membuat rahasia Adelia hampir terbongkar, haru ini Agung dan Wina berada di dalam kamar. Meraka masih memikirkan suatu rencana untuk menggagalkan penyelidikan Adrian tentang Adelia. Meraka bingung harus melakukan apa agar tidak terbongkar.
*****