I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 24



Seminggu telah berlalu kini keadaan Adelia sudah lebih baik dari hari sebelumnya dan Dokter, mengijinkan Adelia untuk pulang hari ini.


Adelia sangat senang sekali bahwa ia akan segera keluar dari rumah sakit. Ia sungguh tidak betah berlama-lama di tempat tersebut. Ia sering kali merengek minta pulang dari kemarin-kemarin dan baru mendapat ijin pulang hari ini.


Dalam seminggu ini Adelia di temani oleh Adrian setelah pulang dari kantor Adrian langsung datang ke rumah sakit tanpa pulang ke rumah utama. Karena Adrian sungguh tidak tega meninggalkan adelia di rumah sakit itu sendiri.


Apalagi jika sampai Nyonya wina mengetahui bahwa Adelia mantu kesayangannya masuk rumah sakit, Adrian pasti akan dimarahi habis-habisan. Membayangkan saja Adrian bergidik ngeri, sehingga Adrian memilih mencari aman untuk menemani Adelia saat berada di rumah sakit itu.


Selama seminggu ini hubungan Adelia dan Adrian masih dingin tidak ada perubahan apapun di dalam diri keduanya. Adrian masih membenci Adelia sampai detik ini dan dia masih menyalahkan Adelia atas pernikahan yang harus dijalani keduanya.


Di dalam kamar Adelia sudah siap-siap pulang. Ada Adrian dan dua asisten pribadi yang sangat setia menemani Adrian kemanapun.


"Cepatlah sedikit, kau lama sekali." ucap Adrian dengan ketus.


"Baik, Tuan sebentar lagi," jawab Adelia.


"Jimy, bantu dia berkemas, dia sangat lelet sekali." ucap Adrian jengkel.


"Baik, Tuan." Jimy bergerak mendekati posisi Adelia.


Beberapa menit kemudian Adrian sudah keluar dari rumah sakit dan menuju ke mobil. Disana sudah ada sopir yang menunggu dan akan mengantar Adelia pulang. Sedangkan Adrian akan langsung ke kantor.


"Kau pulang bersama supir." ucap Adrian tanpa menatap wajah Adelia.


"Baik, Tuan." jawab Adelia lirih.


Adrian segera masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu segera berjalan menjauh meninggalkan Adelia.


Adelia hanya tertunduk dan melamun.


Sebegitu bencinya kau padaku Adrian, hingga kau tidak sudi memandang wajahku.


Air matanya kini mulai menetes membasahi kedua pipinya. Adelia sungguh tidak menyangka akan seperti ini setelah menikah, ia sungguh mengira bahwa seiring berjalannya waktu ia bisa lebih dekat dengan Adrian. Tapi kini nyatanya yang di alaminya adalah kebalikannya. Hubungan mereka hanya kedok palsu pura-pura bahagia di depan orang. Sungguh sangat menyiksa untuknya walau sampai saat ini belum ada rasa cinta terhadap Adrian.


Di dalam perjalanan Adelia juga hanya diam menatap ke arah luar melihat ke arah jalanan yang begitu ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang. dan banyak juga pedagang kaki lima yang berjualan.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang di tumpangi Adelia sudah tiba di depan rumah utama. Dengan segera sang supir membuka pintu mobil dan mempersilahkan Adelia segera masuk kedalam rumah. Di dalam sana terlihat Pak Udin sudah menunggunya.


"Selamat datang kembali, Nona." ucap Pak Udin membungkuk sopan.


"Terima kasih Pak, saya ingin segera ke kamar dan istirahat." ucap Adelia.


"Silahkan Nona, saya akan mengantarkan anda." ucap Pak Udin.


Adelia tanpa menjawab perkataan dari Pak Udin. Segera melangkahkan kakinya menuju kamar diikuti Pak Udin dari belakang. Sesampainya di depan kamar, Adelia menyuruh Pak Udin untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia hanya ingin sendiri hari ini.


Adelia masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai. Ia sama sekali tidak memiliki semangat sehingga ia lelah dan tertidur.


********


Di dalam mobil Adrian kembali diam tanda ada banyak yang mengganjal di dalam pikirannya. Sampai sekarang pelaku yang mencelakai Adelia belum di temukan. Orang itu sangat rapi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Jejak rekaman cctv saja hilang tidak ada petunjuk apapun.


"Apa kalian sudah menemukan petunjuk." tanya Adrian.


Adrian menghela napas dengan kasar lalu menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia akan terus berusaha supaya pelaku itu cepat segera tertangkap.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di kantor. Adrian segera pergi keruangannya diikuti kedua asisten pribadinya. Mereka dengan segera menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk hari ini.


*****


Hari sudah mulai gelap matahari sudah hampir tenggelam dan Adelia baru saja membuka kedua bola matanya. Ternyata Adelia tidur selama itu.


Astaga, tidurku sungguh nyenyak sekali hari ini. Berbeda pada saat di rumah sakit kemarin. Aku sama sekali tidak bisa menikmati tidurku. Mungkin sekarang rasa sakitnya sudah hilang jadi aku bisa tertidur dengan nyenyak. Ini sungguh menyenangkan


Adelia beranjak dari temat tidur dan ingin segera mandi. Membersihkan tubuhnya yang sudah lengket. Adelia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tidak lupa ia juga memakai sarung tangan karena luka nya belum sembuh benar.


Selesai mandi Adelia ingin segera turun ke bawah. Ia sungguh bosan tanpa adanya kegiatan di dalam kamar. Adelia segera keluar kamar dan menuruni tangga satu persatu. Hingga melihat Pak Udin sedang berada di dapur.


"Pak Udin," panggil Adelia.


Pak Udin menolehkan kepala dan terkejut melihat Nona muda berada di dapur.


"Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Udin menghampiri Adelia.


"Saya hanya bosan saja Pak, bolehkah saya melakukan suatu pekerjaan." ucap Adelia pelan.


"Anda tidak perlu melakukan apapun Nona, disini sudah banyak pelayan yang mempunyai tugas masing-masing." jawab Pak Udin.


"Terus saya harus melakukan apa untuk mengusir rasa bosan saya Pak Udin?" Adelia frustasi.


Pak Udin mendadak kasihan dengan Adelia.


Tapi disatu sisi Adelia adalah istri dari Tuan Adrian. Akan menjadi tidak baik jika Adelia melakukan pekerjaan. Nyonya Wina pasti akan sangat murka. Jika saja melihat Adelia melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan.


Adelia menjadi murung seketika, saat tidak boleh melakukan suatu apapun. Haruskah ia menonton tv saja atau membaca majalah hal itu sungguh sangat membosankan baginya.


"Apa anda mau saya siapkan makan malam Nona?" Pak Udin tersenyum ramah.


"Tidak Pak Udin, saya menunggu Adrian saja nanti." ucap Adelia cepat.


"Baikah, Nona, Tuan Adrian sudah dalam perjalanan pulang dan sebentar lagi sampai rumah." jelas Pak Udin sopan.


"Tapi Adrian memang belum makan malam kan Pak Udin?" tanya Adelia penuh selidik.


"Belum Nona, saya sudah mencari tahu terlebih dahulu dan anda tidak perlu khawatir," ucap Pak Udin dengan senyuman.


"Baiklah karena saya tidak mau menunggu yang lebih tepatnya tidak pasti." ucap Adelia.


Pak Udin terkekeh mendengar perkataan Adelia barusan, pasti Adelia masih ingat kejadian waktu dia harus menahan lapar demi menunggu Adrian pulang dari bekerja. Dan ternyata yang ditunggu sudah makan malam di luar.


Di sisi lain...


Seorang wanita tengah tertawa bahagia bersama merayakan suatu keberhasilan...


Siapa itu 👀