
Malam yang panjang telah berlalu, matahari mulai menunjukkan cahayanya. Semua aktifitas di kota sudah berjalan normal kembali. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan membangunkan Adelia dari tidur lelapnya. Dengan berat hati, ia membuka kedua matanya dengan perlahan. Adelia kembali mengingat, semua kejadian yang sudah berlangsung tadi malam. Wajahnya berubah muram, senyum di bibirnya hilang.
Adelia memperhatikan sekeliling kamar. Ia tidak menemukan Adrian di sana. Saat ini, ia tidur sendiri di tempat tidur itu.
"Kemana dia, apa sejak tadi malam dia tidak kembali ke sini." Adelia menyibakkan selimut yang melindungi dirinya dari angin.
Setelah Adrian menyuruhnya kembali ke kamar tadi malam, Adelia langsung tertidur. Jadi tidak tahu Adrian sekarang di mana.
Kakinya ia turunkan secara perlahan, dan mulai melangkah meninggalkan kamar. Matanya terbelalak kaget, saat melihat ke arah meja makan yang sudah dipenuhi dengan makanan. Adelia segera mempercepat langkah kakinya menuju meja makan. Dan siap mengambil segelas susu hangat yang ada di meja itu.
"Apa kau tidak bisa, jika mandi terlebih dulu, Adelia," ucap Adrian mengagetkan Adelia.
Entah sejak kapan Adrian ada di dapur itu, Adelia tidak menyadari kehadirannya. Kehadiran Adrian kembali membuat suasana hatinya berubah. Keinginannya untuk menghabiskan susu yang baru saja ia ambil, juga sudah hilang.
"Maaf," ucap Adelia sambil meletakkan susu di atas meja kembali.
"Cepatlah mandi, kita akan sarapan bersama di sini setelah kau selesai mandi." ucap Adrian sambil duduk di salah satu kursi yang tersedia di meja makan itu.
Adelia hanya menganggukkan kepala. Dan segera kembali masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan dirinya.
"Menyebalkan, bisa-bisanya ia bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu!" umpat Adelia pelan yang saat ini sudah berada di dalam kamar mandi.
Sikap Adrian sudah kembali seperti biasa, wajah penuh amarah yang tadi malam ia pancarkan sudah hilang. Adrian kali ini mengenakan pakaian santai, menandakan kalau ia sedang tidak ingin berangkat ke kantor. Dengan tenang, ia menunggu Adelia yang masih mandi di kamar. Adrian juga sudah menyiapkan baju yang akan dikenakan oleh Adelia.
Tidak ingin berlama-lama, kini Adelia sudah menyelesaikan mandinya. Terdapat satu paper bag cokelat, di atas tempat tidur. Dengan penuh rasa penasaran, Adelia mengambil paper bag itu dan membukanya dengan hati-hati.
"Baju! Apa ini untukku?" Adelia mengeluarkan isi paper bag tersebut.
"Apa kau menyukainya?" tanya Adrian dengan senyuman. Ia berdiri di belakang Adelia, sambil bersandar di dinding.
"Iya, aku menyukainya," jawab Adelia singkat.
"Cepat pakai baju itu, aku sudah lapar menunggumu dari tadi." ucap Adrian dan kembali menutup pintu kamar.
"Kenapa dia tidak makan saja duluan, kenapa harus menungguku. Bukannya Mama tidak ada di sini," ucap Adelia yang masih kesal, dengan perlakuan Adrian tadi malam.
Satu jam sebelum Adelia bangun......
Adrian sedang duduk di restoran dari semalam. Tidak banyak yang dilakukan oleh Adrian. Ia hanya diam merenung dan merasa bersalah terhadap Adelia.
Adrian mengambil sebuah handphone yang terletak di atas meja, jarinya terhenti pada nama seseorang dan segera menghubunginya.
"Kirimkan baju ke apartemen untuk istriku secepatnya." Adrian memutus penggilingan dengan segera.
Adrian beranjak dari tempat duduknya, dan melangkahkan kakinya ke arah lift. Hatinya di penuhi rasa bersalah kepada Adelia. Hingga saat Adrian tiba du kamar, ia melihat Adelia yang masih tertidur pulas.
Adrian berdiri di pinggiran tempat tidur. Menatap wajah Adelia yang terlihat sedih, Karena semalam Adrian telah membentak Adelia, dan kata-kata yang menyakiti Adelia. Adrian mengusap lembut pucuk kepala Adelia, karena merasa bersalah.
"Aku akan membuatkan sarapan pagi untukmu." Adrian keluar dari kamar menuju ke dapur yang ada di sudut ruangan.
Dengan keahlian yang tersembunyi yang dimiliki oleh Adrian, ia memulai ritual memasak nasi goreng spesial untuk Adelia. Tidak lupa Adrian menyajikan dua gelas susu yang masih hangat.
Masakan pertama yang di buat Adrian, hanya untuk Adelia sebagai permohonan maaf. Sebuah senyuman mulai melukiskan kebahagiaan yang kini ada di hatinya.
Kenapa Adrian melihatku seperti itu, apa Adrian ingin menghukumku lagi. Dan kenapa ia memberiku makanan, jika akhirnya ingin menyiksaku lagi.
Hati Adelia terus saja di penuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
"Apa kau menyukai nasi goreng itu?" tanya Adrian memecah keheningan.
"Iya, dari mana kau memesan nasi goreng ini." Adelia meletakkan sendok dan mengambil gelas yang berisi sebuah susu hangat.
Jika aku jujur dan bilang kalau aku yang memasak semua ini, pasti dia jadi besar kepala.
Adrian diam untuk sejenak.
"Adrian...." ucap Adelia dengan tatapan serius kepada Adrian.
"Aku tidak tahu, makanan ini sudah tersedia saat aku kembali ke kamar." jawab Adrian penuh kebohongan.
"Benarkah?" tanya Adelia yang masih tidak percaya pada ucapan Adrian. Adelia terus saja memperhatikan wajah Adrian, yang terlihat salah tingkah.
"Sebaiknya selesaikan sarapanmu, kita akan pulang ke rumah," ucap Jimy mengalihkan pembicaraan.
Adrian menatap Adelia dengan tatapan tajam. Ia tidak ingin membahas nasi goreng lagi.
"Baiklah," Adelia kembali melanjutkan makannya, dan menghabiskan semua makanan yang sudah tersedia di sampingnya.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Adrian.
perkataan Adrian membuat Adelia tersedak, satu kata yang tidak mungkin terucap dari bibir Adrian. Adelia menatap wajah Adrian, untuk meyakinkan dirinya. Kalau sosok yang ada di hadapannya, benar Adrian.
"Adrian... Apa kau sadar mengatakan hal itu?"
"Apa kau ingin mencari masalah baru denganku, Adelia." Adrian melirik ke arah Adelia dan meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf, Adrian. Maaf karena selalu saja merepotkanmu. Aku terbiasa hidup sederhana dengan Ayah. Jadi aku tidak pernah mengerti, kehidupan orang kaya seperti kalian," ucap Adelia sambil menundukkan kepalanya.
"Hidup sederhana? Apa maksudmu? Kau itu adalah putri tunggal dari Tuan Wijaya," ucap Adrian kaget.
"Iya, aku memang putri tunggal. tapi kehidupan kami tidak sama seperti dirimu," jelas Adelia.
"Kau bercanda, Adelia." Adrian mengambil tisu, dan membersihkan mulutnya.
"Bercanda?" tanya Adelia dengan bingung.
Triing!
Triing!
Suara handphone Adrian berbunyi. Adrian melirik ke arah Adelia sebelum mengangkat panggilan masuk itu.
"Iya, Ma. Kami akan segera pulang. Ini sudah siap-siap mau berangkat."
Nyonya Wina seperti punya firasat, untuk mengganggu pembicaraan Adrian dan Adelia.