
Happy reading 🖤
Aldo sangat merasa bersalah kepada Adelia. Karena atas ijin darinya Adelia jadi punya masalah dengan Adrian.
"Maafkan saya nona." ucap Aldo.
"Panggil saja Adelia dokter." ucap Adelia.
"Baiklah, kau juga bisa memanggilku Aldo. Aku sahabat Adrian, jangan terlalu formal memanggil dengan statusku." pinta Aldo dengan senyuman.
"Baiklah." ucap Adelia.
"Seharusnya aku tidak mengijinkan Devan membawamu pergi tadi." ucap Aldo penuh penyesalan.
"Ini semua salahku, tidak perlu menyalakan dirimu seperti itu, seharusnya aku menolak ajakan Devan sejak awal." ucap Adelia, melirik sebentar ke arah Eva.
"Tidak seharusnya kita saling menyalahkan diri, aku akan memeriksa keadaanmu." ucap Aldo sambil mengambil pergelangan tangan Adelia untuk memulai ritual pemeriksaan.
"Kapan aku boleh pulang?" tanya Adelia penuh harap.
"Segera, kau akan segera pulang jika lukamu sudah kering." ucapnya terhenti." Baiklah selesai." sambung Aldo lagi.
"Apa luka nona Adelia masih terlihat parah Dok?" tanya Eva penasaran.
"Tidak, lukanya sudah hampir kering. Adelia memiliki daya tahan tubuh yang kuat." jawab Aldo.
Adelia hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Aldo, namun pikirannya kembali mengingat Devan yang tertinggal sendiri di taman.
Semoga Adrian tidak sampai melukai Devan, semua ini memang salahku. Suka membuat masalah.
"Baiklah sekarang kau bisa istirahat, aku harus memeriksa beberapa pasien lainnya. Cepat sembuh Adelia." pamit Aldo.
"Terima kasih dokter." ucap Eva yang masih memperhatikan Aldo yang melangkah meninggalkan ruangan.
"Nona.." panggil Eva yang melihat Adelia melamun.
"Nona.." ulang Eva lagi sambil menyentuh tangan Adelia.
"Iya, dimana Aldo?" tanya Adelia bingung sambil memperhatikan sekeliling kamar.
"Dokter sudah keluar nona." jawab Eva.
"Benarkah? Sejak kapan, aku tidak melihatnya." ucap Adelia.
"baru saja nona, apa anda masih memikirkan Tuan Devan?" tanya Eva.
"Iya Eva, kenapa Adrian sangat membenci Devan? Sebenarnya apa yang telah terjadi di antara mereka. Tatapan mata mereka di penuhi dengan kebencian. Apa kau pernah memperhatikan itu Eva?"
"Mungkin Tuan Adrian cemburu pada tuan Devan, Nona." jawab Eva.
"Cemburu?" tanya Adelia sedikit tidak percaya.
Eva hanya mengangguk pelan, pikiran Adelia sudah di penuhi oleh kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Eva.
"Apa benar dia cemburu? Tapi itu tidak mungkin, karena dia sangat membenciku!" batin Adelia dalam hati.
Di sisi lain, kini Adrian sudah ada di dalam mobil. Keramaian kota menjadi pemandangan utama di siang hari. Terdapat banyak orang berlalu-lalang mengikuti aktivitas masing-masing. Adrian masih diam tanpa ingin mengatakan satu katapun saat ini. Hatinya di penuhi perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Wajah Adelia hadir dalam ingatannya. Sudah berulang kali Adrian membuka laptop, namun akhirnya ia kembali menutupnya lagi. Segala hal yang sudah tersusun rapi di kepalanya harus terhapus begitu saja saat wajah Adelia kembali muncul.
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini." gumam Adrian dengan kesal dalan hati.
Jimy yang duduk di belakang kemudi hanya bisa melirik sebentar ke arah Adrian melalui kaca spion. Pikirannya masih dipenuhi rasa khawatir terhadap Adelia. Wajah marah Adrian jelas-jelas terlihat saat ia menggendong Adelia dan membawanya masuk ke dalam kamar. Belum lagi kehadiran Devan yang semakin tidak tau batasan antara dia dan Adelia.
"Pria itu sekalu saja membuat masalah dalam hidup Tuan Adrian." gumam Jimy pelan sambil masih fokus menyetir.
Jadwal kedua segera di mulai, kini Adrian dan Jimy sudah tiba di sebuah restoran ternama yang menjadi tempat pertemuan antara Adrian dan investor yang ingin kembali bekerja sama dengan perusahaan Adrian.
Tidak seperti biasanya, hari ini Adrian terlihat seperti orang yang tidak profesional. Nominal uang yang di sebutkan dari lawan bicaranya menjadi suatu hal yang tidak menarik lagi. Tidak banyak merespon, Adrian hanya terdiam sebagai pendengar yang setia.
"Anda sedang tidak enak badan Tuan Adrian?" tanya klien dari perusahaan asing yang kini ada di hadapannya.
"Tidak, saya baik-baik saja Tuan." jawab Adrian yang kembali sadar akan situasi kini ia berada.
"Saya sudah lama bekerja sama dengan anda! ini pertama kalinya saya melihat anda seperti ini." protes pria itu dengan tatapan curiga kepada Adrian.
"Benarkah? Itu hanya perasaan anda saja Tuan. Saya selalu seperti ini setiap saat!" ucap Adrian.
"Baiklah, saya rasa pertemuan kita hari ini sudah selesai Tuan, saya harus kembali ke perusahaan!" ucap pria itu sambil beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Adrian.
"Baik tuan, senang bekerja sama dengan anda!" balas Adrian sambil menyambut jabatan tangan pria itu.
Adrian kembali duduk di sebuah kursi sebelumnya, tatapan matanya masih ia fokuskan pada rombongan yang menjadi rekan bisnis hari ini.
"Tuan..." sapa Jimy sambil menunduk hormat.
"Ada apa?" tanya Adrian singkat.
"Kita akan menemui Mr. A beberapa saat lagi. Beliau ingin kita menunggunya di sini." ucap Jimy menjelaskan agenda Adrian selanjutnya.
"Apa ada masalah dengan kerja sama kita dengannya?" tanya Adrian dengan raut wajah bingung.
"Tidak Tuan, semua berjalan lancar." jawab Jimy sambil menuangkan air ke dalam gelas kosong yang ada di hadapan Adrian.
"Lalu, kenapa dia ingin mengadakan pertemuan ini?" tanya Adrian yang masih dipenuhi rasa penasaran.
"Mr. A mengadakan pertemuan ini secara mendadak Tuan, mungkin ada hal penting yang ingin di sampaikan langsung pada anda."
Adrian kembali diam dan mengambil sebuah gelas yang sudah terisi air, dengan cepat ia meneguk habis air itu menyisakan gelas kosong. Adrian meletakkan gelas dengan cepat hingga mengeluarkan satu bunyi dari meja kaca itu.
"Apa kau sudah menyerah dengan penyelidikan ini Jimy?" tanya Adrian dengan tatapan mata tajam.
"Maaf Tuan, saya masih berusaha terus untuk menyelidiki semua masa lalu Nona Adelia." jawab Jimy penuh penyesalan.
"Aku tidak ingin hal ini di ketahui oleh Adelia!" perintah Adrian.
"Baik Tuan."
Rombongan Mr. A baru saja tiba. Dari kejauhan dari arah pintu masuk. Jimy memang sudah menyusun jadwal kegiatan Adrian hari ini dengan sangat rapi.
Kedatangan Mr. A dan rombongan memang selalu saja menjadi sorotan semua orang yang melihatnya. Tidak hanya memiliki rupa wajah yang tampan, keberadaan beberapa pengawal yang selalu setia menemani dirinya menjadi ciri khas utama yang tidak ingin di lewatkan oleh siapapun.
"Kenapa dia selalu saja datang dengan membawa banyak pengawal?" gumam Adrian pelan dengan tatapan curiga.
"Selamat siang Tuan Adrian." sapa Mr. A yang baru saja tiba.
"Selamat siang, senang bertemu dengan anda Tuan." jawab Adrian dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Maafkan saya karena sudah mengganggu waktu anda Tuan."
"Tidak masalah Tuan." ucap Adrian.
"Sebenarnya, pertemuan kita hari ini bukan untuk membahas tentang kerja sama perusahaan kita Tuan." ucap Mr. A mencoba menjelaskan tujuan pertemuan siang ini.
"Lalu, apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Adrian yang mulai penasaran.
"Saya ingin menanyakan tentang Max tuan."
Deg..!
Bukan hanya Adrian, Jimy juga merasakan perubahan yang terjadi pada jantungnya. Perkataan Mr. A mampu menciptakan suasana menjadi tegang.
"Ada apa dengan Max tuan?" tanya Adrian sambil membuang napas secara kasar.
"Max sudah tiada bukan?" Dan anda yang menjadi penyebabnya." ucap Mr. A secara langsung.
"Ya, dia dia telah tiada dari muka bumi ini. Dan memang benar, saya adalah penyebabnya." jawab Adrian jujur tanpa ingin menutupi keadaan sebenarnya.
"Apa hubungan anda dengan Max tuan Adrian? Kenapa anda dendam dengannya?" tanya Mr. A menuntut sebuah jawaban dari Adrian.
"Saya tidak pernah mengenal Max sebelumnya, dia datang di saat bulan madu saya dan istri saya. Dia menghancurkan semuanya!" tatapan mata Adrian kembali di penuhi dendam atas kehilangan Alex yang di sebabkan Max.
"Kenapa dia menyerang anda?" tanya Mr. A.
"Saya tidak tau tuan, apa tujuan dia hadir di antara kami." ucapan Adrian terhenti, bibirnya tidak ingin lagi menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Adrian tidak ingin membawa nama Adelia dalam percakapan kali ini.
"Apa anda tau, kalau dia ketua mafia Tiger tuan?"
"Apa anda yakin, kalau tidak ada hal yang menyebabkan Max datang untuk menyerang anda?" tatapan curiga di arahkan ke Adrian.
"Saya tidak tau tuan! Jika anda ingin tau, anda bisa menyelidikinya sendiri." tatapan mata Adrian semakin tajam.
Meskipun belum ada satupun bukti yang menyeret nama Mr. A dalam peristiwa yang terjadi, namun isi hatinya sudah menyimpan beribu kecurigaan terhadap orang itu.
"Baiklah, maafkan atas kelancangan saya Tuan." ucap Mr. A.
"Tidak masalah Tuan."
"Baiklah, saya rasa kita tidak perlu membahas hal itu lagi. Itu bukan suatu hal yang menguntungkan bagi kita bukan?" ucap Mr. A mulai mencairkan suasana yang sebelumnya di penuhi dengan ketegangan.
"Ya, anda benar sekali Tuan." jawab Adrian singkat dan kembali mengambil gelas yang telah terisi air.
"Apa saya boleh menjenguk istri anda tuan?"
Adrian langsung tersedak mendengar satu kalimat yang baru saja di ucapkan Mr. A. Bajunya kini terlihat sedikit basah terkena air.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya Jimy.
"Aku mau ke toilet dulu." ijin Adrian sambil beranjak dari duduknya.
Jimy segera mengikuti langkah Adrian yang terlihat cepat. Sesekali ia kembali melirik ke arah Mr. A yang masih duduk dan kelihatan bingung melihat reaksi Adrian.
"Kenapa dia kelihatan sangat panik." ucap Mr. A pelan yang masih menatap Adrian.
****
Sebelum pertemuan Mr. A dan Adrian.
Sebuah meja berukuran besar dangan satu kursi mewah yang menjadi tempat untuk duduk bagi sang pemilik meja. Jendela kaca yang tidak terlalu lebar terlihat menembus cahaya matahari dari luar untuk masuk ke permukaan lantai dan mengeluarkan pantulan cahaya terang.
Beberapa sofa besar juga terlihat ada di sana. Untuk melengkapi isi ruang kerja, lukisan-lukisan yang terpajang di dinding menambah nilai elegan dari ruangan itu.
Kedua matanya ia fokuskan pada beberapa berkas yang kini sudah tersusun rapi di atas meja. Satu ketukan pintu mengalihkan pandangan mata pada sosok yang baru saja tiba di dalam ruang pribadi miliknya.
"Selamat sore tuan." sapa seorang pria berjas hitam dengan kemeja biru di dalamnya.
"Ada apa kau tiba-tiba datang kemari? Aku tidak suka kau sering berkeliaran di kota ini."
"Maafkan saya tuan." dengan menunduk hormat. "Saya membawa satu berita penting untuk anda dan tidak bisa di wakili oleh siapapun!" ucapnya membela diri.
"Katakan!" tanpa mau memandang wajah pria itu.
"Maxim sudah tiada tuan, seseorang sudah berhasil membunuhnya." ucap pria itu masih dengan kepala yang tertunduk dalam.
Senyum kecil terlihat muncul di wajah Mr. A, tatapan matanya mulai ia alihkan pada wajah si pemberi berita.
"Aku tidak lagi ingin bercanda! Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan!" ucap Mr. A ketus.
"Maafkan saya tuan, tapi saya tidak sedang bercanda. Saya melihat sendiri ketika tubuhnya di pendam di dalam tanah." ucap pria itu berusaha menceritakan yang sebenarnya.
"Maxim! Dia tidak mudah untuk di kalahkan. Siapa orang hebat yang bertanggung jawab atas semua ini?" tanya Mr. A yang mulai tertarik dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Seorang pemimpin perusahaan makanan ringan, yang saat ini juga bekerja sama dengan anda." jawabnya tegas.
Mata Mr. A terbelalak mendengar itu. "Aku akan membunuhmu jika informasi yang kau berikan hanya kebohongan." ancam Mr. A.
Mr. A sudah tidak asing dengan satu nama perusahaan yang saat ini menjadi rekan kerja sama atas perusahaan yang baru saja dia bentuk. Adrian yang hanya merupakan CEO perusahaan yang bergerak di bidang makanan ringan, menjadikan dirinya tidak pantas berstatus tersangka atas meninggalnya Max.
"Apa yang menyebabkan mereka bisa bertemu? Apa mereka musuhan? Kenapa Adrian membunuh Max." beribu pertanyaan muncul di kepala Mr. A.
Hatinya masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada kalau Adrian berhasil membunuh Max, yang merupakan ketua dari geng mafia Tiger yang terkenal hebat dan sangat susah untuk di kalahkan. Kini berakhir di tangan seorang pria biasa seperti Adrian.
"Dari info yang sudah saya dapat, mereka bukan menyerang CEO, melainkan istri dari CEO itu."
"Istri Adrian? Untuk apa Max menyerang seorang wanita?" pikirannya kembali pada sosok wanita yang sangat ia rindukan. " Hanya dia wanita yang sekalu ingin di habisi oleh Max." gumamnya lirih.
"Saya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk masalah ini tuan."
"Aku ingin kau mendapatkan semua informasi tentang Adrian Kusuma!" perintah Mr. A.
"Baik tuan, saya permisi." ucap pria itu sambil membungkuk sebentar sebelum berlalu pergi.
Mr.A mengambil telepon yang terletak di atas meja untuk memberi perintah pada seseorang.
"Atur jadwal pertemuanku dengan Adrian." ucap Mr. A singkat kemudian panggilan ia akhiri.
Tatapan matanya beralih pada satu buah bingkai foto besar yang terletak tidak jauh dari dirinya. Bibirnya kembali tersenyum lebar dan menatap rindu pada si pemilik wajah.
"Aku sangat merindukanmu sayang, pria yang selama ini kau benci sudah tiada. Apa kau senang mendengar semua ini? Aku sungguh menyesal tidak bisa membunuhnya secara langsung dengan tanganku!" ucapnya lirih.
Pikirannya kembali di penuhi dengan nama Adrian yang sudah berhasil masuk di lingkaran dunia mafia. Sejak masa kejayaannya hingga kini ia berada. Nama Adrian tidak pernah muncul sebagai pemimpin geng manapun yang dia kenal.
****
Kau pria yang sangat menarik tuan. batin Mr. A yang masih fokus pada punggung Adrian yang sudah menjauh.
Di dalam kamar mandi, Adrian berdiri di depan kaca untuk memandang pantulan wajahnya. Kedua tangannya ia kepal dengan erat. Entah apa yang kini ada di pikirannya, permintaan Mr. A membuat isi hatinya di penuhi perasaan khawatir.
"Tuan!" ucap Jimy yang baru saja tiba di samping Adrian.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Adrian.
"Saya akan mengganti jas anda dengan yang baru." tawar Jimy.
"Tidak usah! Sebaiknya kita segera menemui Mr. A. Aku tidak ingin dua menyimpan perasaan curiga terhadap kita!" ucap Adrian dan melangkah pergi meninggalkan Jimy yang masih berdiri mematung.
Adrian sudah kembali ke kursi yang menjadi tempat pertemuan dengan Mr. A. Adrian berusaha sekuat tenaga mengubah sikapnya menjadi senatural mungkin seperti yang biasa ia lakukan.
"Sampai di mana tadi pembicaraan kita tuan?" tanya Adrian.
"Bukannya bulan madu anda berantakan tuan? Sekarang istri anda berada di rumah sakit."
"Benar tuan, istri saya masih di rawat di rumah sakit." jawab Adrian yang terlihat santai.
"Ijinkan saya menjenguk istri anda, untuk menjalin tali persaudaraan di antara kita tuan." ucap Mr. A dengan penuh harap.
Kenapa dia sangat kekeh ingin menjenguk Adelia? batin Adrian bertanya-tanya dalam hati.
"Jika anda keberatan, tidak masalah tuan."
"Anda boleh menjenguk istri saya tuan. Saya akan menyambut kedatangan anda besok." ucap Adrian dengan senyum ramah.
"Terima kasih tuan, baiklah pertemuan kali ini cukup sampai di sini." Mr. A berdiri dan mengulurkan tangan kepada Adrian untuk bersalaman. " Satu lagi, jangan lupa untuk hadir pada acara peresmian gedung saya tuan." sambungnya lagi.
"Baik tuan, saya pasti akan datang." ucap Adrian menyambut uluran tangan Mr. A.
Rombongan Mr. A sudah pergi meninggalkan restoran. Kini hanya tersisa Adrian di meja itu seorang diri. Jimy entah kemana perginya dari tadi belum muncul di hadapan Adrian setelah bertemu di toilet.
"Dimana Jimy, bukannya tadi kami berada di toilet yang sama." ucap Adrian dan mulai mencari ke sembarang arah lalu mengangkat kedua tangan untuk menopang kepalanya yang terasa berat.
Ada perasaan takut di dalam diri Adrian saat Mr. A akan menemui Adelia. Entah apa yang terjadi sebenarnya tetapi Adrian merasakan perasaan tidak rela.
Dari kejauhan Jimy melangkah cepat untuk menghampiri Adrian. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya saat ini. Tidak ingin membuat sang majikan menunggu terlalu lama, Jimy terlihat berlari kecil.
"Maafkan saya tuan." ucap Jimy gugup.
"Darimana saja kau Jimy!" bentak Adrian.
Jimy hanya dian tanpa berani memberi penjelasan, kepalanya tertunduk dalan menatap lantai.
"Jimy!" ulang Adrian.
"Saya..." ucap Jimy terputus.
"Sudahlah, kita harus segera kembali ke perusahaan." potong Adrian yang sudah beranjak dari duduk dan berjalan cepat menuju mobil.
Tatapan mata Jimy kembali pada sosok pria misterius yang berada jauh dari posisinya saat ini. Jimy mengangguk pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi mengikuti Adrian.
*****
Jangan lupa dikomen kakak 😊