I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 22



Hari ini hari minggu dan kebetulan hari libur bekerja. Alana memutuskan bersiap ingin pergi ke sebuah mall untuk berbelanja kebutuhannya yang kebetulan sudah habis.


Dia segera memesan taksi online untuk pergi ke mall karena dia malas untuk menyetir mobil sendiri.


Tidak butuh waktu lama taksi pesanan Alana datang dan Alana segera masuk dan memberikan arah yang akan ia tuju kepada sang sopir.


Di jalan kebetulan sangat ramai karena ini weekend banyak yang sekedar berlibur dengan keluarganya hingga jalanan pun padat.


Tanpa butuh waktu lama Alana sudah sampai di depan sebuah mall. Dari kejauhan ia melihat seorang yang sangat ia kenal dan ya itu adalah Alex. Kebetulan macam apa dia bisa melihat wanita yang menjadi perebut kebahagiaannya sedang berada di mall yang sama dengannya.


Alana tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera mengikuti keduanya dengan sorot mata tajam ia dipenuhi dengan dendam pada wanita yang bernama Adelia.


Terlihat Adelia berhenti di sebuah toko Cake, dan duduk di sebuah kursi. Ia sangat menunggu Alex pas tidak ada di sisi Adelia dan ia akan menghancurkan wajah wanita itu.


Belum sempat Alana bergerak terlihat Alex sudah kembali ke hadapan Adelia. Melihat itu ia kesal karena gagal untuk memberi pelajaran kepada Adelia. Tapi ia tidak menyerah begitu saja.


"Sebaiknya aku membeli masker dan topi untuk mengecoh Alex agar tidak mengenaliku."


Alana segera membeli perlengkapannya di sebuah toko agar tidak ada satu orangpun yang mengenalinya. Alana segera memantau pergerakan keduanya berharap tidak kehilangan jejak sedikitpun. Ia menunggu situasi yang tepat untuk bertindak.


Di tempat Adelia dan Alex.


"Alex, sebaiknya kau duduk di situ," ucap Adelia sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya.


"Saya akan berdiri disini, untuk menjaga Nona." ucap Alex


"Kau akan membuatku menjadi bahan tontonan orang," ucap Adelia sambil memperhatikan sekelilingnya yang dari tadi telah memperhatikannya.


Tidak memiliki pilihan lain, Alex menuruti permintaan Adelia untuk duduk di hadapan Adelia.


"Nona, ini adalah kartu nama saya, di situ ada nomor saya yang bisa anda hubungi jika nanti anda tersesat," ucap Alex sambil memberikan sebuah kartu nama.


''Baiklah, aku akan menyimpannya.'' memasukkan kartu itu ke dalam tas miliknya.


Setelah selesai makan, Adelia kembali melanjutkan perjalanannya mengelilingi mall itu dengan perasaan gembira, Adelia memasuki semua toko yang ada di dalamnya.


Semua yang ia beli hanya makanan yang selama ini ia impikan. Alex melihat Nona mudanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Adelia memang wanita yang sangat ceria.


Tanpa disadari oleh keduanya bahwa ada bahaya yang sedang mengintai mereka terutama Adelia.


Alana akan membalaskan dendam nya kepada Adelia, karena Adelia ia harus merasakan sakit hati di tinggal orang yang begitu ia cintai.


"Pak beli minyak panasnya." ucap Alana di depan mall yang ada penjual aneka makanan.


Si bapak yang mendengar itu terlihat bingung, tapi dia memberikan apa yang di minta wanita di depannya karena Alana memberikan uang 100 ribu padanya.


Alana membawa minyak panas yang ada du mangkuk itu dengan senyuman menyeringai.


Aku akan sangat senang jika berhasil merusak wajahmu yang sok cantik itu.


Tanpa terasa hari sudah hampir berganti gelap. Adelia memutuskan untuk segera pulang dan berjalan menuju arah parkiran mobil.


Alex dengan segera membuka pintu untuk Adelia masuk ke dalamnya.


"Nona, sebaiknya anda tutup kaca nya." ucap Alex.


"Tidak alex, aku ingin menikmati udara segar dan melihat pohon sekitar tanpa adanya penghalang." ucap Adelia.


Alex hanya diam, dia tidak bisa membantah keinginan Nona mudanya. Ia dengan segera memutar tubuhnya dan masuk ke dalam mobil. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang menghampiri Adelia.


"Permisi" ucap orang itu tepat di depan jendela mobil Adelia.


Adelia menoleh dan bergeser ke samping dan di saat bersamaan itu juga orang itu menumpahkan minyak panas ke wajah Adelia.


Aaaaaaaa !


Adelia berteriak kencang merasakan panas di wajahnya. Orang itu segera berlari menjauhi Adelia dengan wajah puas karena sudah berhasil menghancurkan wajah Adelia.


Kejadian itu sangat cepat sehingga Alex tidak bisa melihat siapa pelakunya. Sekarang yang ia khawatirkan adalah keadaan Adelia.


"Nona, apa yang terjadi?" tanya Alex dengan khawatir karena Adelia menutupi wajahnya.


"Alex, wajahku panas hiks ini sakit sekali." Adelia menangis dengan keras.


"Tahan sebentar Nona, saya akan segera membawa anda ke rumah sakit." ucap Alex.


Alex dengan segera menginjak gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Agar Adelia bisa segera mendapatkan pertolongan.


Setelah sampai di rumah sakit Alex segera menggendong Adelia ala bridal style. Adelia sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan karena merasakan panas di wajah dan juga tangannya. Alex melihat Adelia dengan tatapan iba. dia sungguh ngilu melihat tangan dan wajah Adelia melepuh.


Adelia segera dibawa masuk ke dalam ruang perawatan. Alex hanya menunggu di luar ruangan dengan wajah cemas. Bersamaan itu ponsel Alex berdering menandakan ada panggilan masuk. Dengan segera ia mengangkat panggilan tersebut karena panggilan itu dari Tuan Adrian.


"Alex, kau lupa arah jalan pulang? ini sudah malam jika Adelia tidak mau pulang seret paksa dia untuk pulang" ucap Adrian di seberang sana.


"Maaf, Tuan ada musibah yang menimpa Nona Adelia. Ada seseorang yang menyiramnya dengan minyak panas." jelas Alex lirih.


"Apa!!! sekarang keadaannya bagaimana?" tanya Adrian.


"Nona, sekarang berada di rumah sakit Tuan, saya belum tahu pasti keadaannya karena saya berada di luar." jelas Alex.


"Baiklah tunggu, aku akan segera ke rumah sakit menyusulmu.'' Adrian mematikan panggilan dengan sepihak.


Alex kembali menyimpan ponsel nya ke dalam saku. Dan pikirannya kembali menerawang siapa sebenarnya orang yang mencelakai Adelia.


Di rumah utama.


Adrian berada di ruang kerjanya bersama dengan jimy. Ia dikagetkan atas kabar yang baru saja ia terima dari Alex. Kabar bahwa ada seseorang yang mencelakai Adelia dengan menyiram minyak panas ke wajahnya.


Dendam apa yang dimiliki oleh orang itu kepada Adelia. Apa mungkin itu adalah dari saingan bisnis nya atau orang lain yang sedang sekedar iseng. Memikirkan itu Adrian pusing dan ia sangat takut jika kedua orangtuanya mengetahui hal tersebut.


"Jimy cari tahu siapa orang yang mencelakai Adelia nanti, sekarang kita harus pergi ke rumah sakit." ucap Adrian melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Baik, Tuan,'' ucap Jimy dengan segera mengikuti langkah Adrian dengan cepat.


Jangan lupa tinggalkan jejak komentar di setiap bab terimakasih 🙏