
Tembakan di arahkan ke sembarang arah, hingga peluru yang ia miliki tidak sebanding dengan jumlah orang yang ada di hadapannya. Devan dan Adrian larut dalam pertarungan yang cukup menegangkan itu. Sedangkan Adelia hanya bisa diam mematung menyaksikan pemandangan yang kini ada di hadapannya. Hatinya tidak bisa lagi untuk sabar menunggu.
Tanpa memperdulikan janji yang sudah dikatakan untuk tetap berdiam diri di dalam mobil, kini Adelia sudah turun dari mobil. Ia menemukan sebuah pistol di dalam laci mobil dan segera di ambil olehnya untuk menjadi senjata demi menyelamatkan Adrian dari orang-orang yang ingin mencelakainya.
Dorr... Dor..
Adelia mulai menarik pelatuk pistol yang ada ditangannya, tidak ada keraguan di dalam diri Adelia saat menembak. Ia seperti sudah terbiasa melakukan hal itu.
Adelia mulai menembak dengan santai dan tepat pada sasaran. Ekspresi wajahnya dingin dengan tatapan mata tajam seperti ingin menghabisi siapa saja yang menghalanginya.
Beberapa orang telah menjadi korban dari peluru yang di lepas oleh Adelia. Langkah kakinya semakin dekat dengan posisi Adrian. Hanya ada Adrian yang ada di kepalanya, secepat mungkin ia mempercepat langkah kaki yang kini hampir mendekati punggung Adrian.
Dorr..
Seperti sebuah bom waktu yang baru saja di ledakkan oleh Max di depan Adelia. Pandangan mata mulai gelap, sosok wajah Adrian di hadapannya juga sudah samar-samar seperti sebuah bayangan.
Dengan memberanikan diri untuk melihat ke arah perut yang sudah di penuhi banyak darah segar. Sebuah kata yang sangat ingin ia sebutkan.
"Adrian..." ucap Adelia lirih sebelum akhirnya ia terjatuh di atas tanah.
Adrian dan Devan menolehkan kepala dengan mata melotot kaget.
"Adelia!" teriak Adrian dan Devan bersamaan.
Sosok yang menjadi target utama untuk mereka lindungi sudah terjatuh di atas tanah. Banyak darah yang keluar sudah mengganti warna dres putih yang dikenakan Adelia menjadi merah.
Dengan sigap Devan mengambil pistol yang tidak jauh dari posisi ia berdiri, dua tembakan ia tujukan ke arah Jo dan max secara bersamaan.
Dalam waktu yang bersamaan, rombongan bawahan keluarga besar Kusuma sudah tiba di lokasi, Jo dan Max sudah tidak memiliki kemampuan untuk melawan lagi.
Jumlah yang sudah tidak tertandingi itu telah membekuk semua orang yang berada di pihak Max. Tidak memiliki jalan keluar untuk kabur melarikan diri, Jo dan Max hanya bisa pasrah melihat kekalahan yang datang pada nasib hidupnya.
"Setidaknya aku sudah berhasil menembakmu, Adelia." ucapnya pelan dengan senyum licik yang terukir jelas di bibirnya.
Hingga akhirnya ia juga terjatuh karena sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit yang dirasakan. Sebuah tancapan peluru yang tepat mengenai dadanya.
Adrian segera berlari menuju Adelia yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Tubuh Adelia kini sudah ada dalam pelukannya. Air mata menetes dari mata Adrian. Seperti tidak memiliki tenaga lagi. Adrian hanya diam sambil memeluk kepala Adelia yang ada tepat di depan dadanya.
"Adelia bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit."
***
Dengan wajah panik dan langkah kaki yang cepat, kini Adrian sudah berada di rumah sakit. Adelia masih ada dalam gendongan. Ia terus berlari mencari seorang Dokter yang berjaga di sana. Terlihat Devan juga mengikuti langkah lebar Adrian dari belakang. Keduanya di penuhi raut wajah kecemasan yang begitu besar.
"Dokter, dimana dokter." teriak Adrian dengan nada tinggi wajahnya memerah saat menemui seorang perawat yang menyambut kedatangannya.
"Tuan, sebaiknya letakkan istri anda di sini." ujar perawat membawa brankar dan mendorong cepat ke arah Adrian.
"Tidak, dimana Dokter!" ulang Adrian dengan suara yang mulai serak sambil kembali berjalan menuju seorang Dokter wanita yang juga berjalan panik menuju ke arah Adrian.
"Tolong selamatkan istri saya Dok." ucap Adrian dengan memohon.
"Baik, bawa dia ke dalam." perintah sang dokter kepada seorang perawat.
"Sebaiknya anda menunggu di sini Tuan, kami akan segera melakukan tindakan operasi." jawab Dokter itu sambil masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Adrian yang masih mematung di sana.
"Adel..." ucap Adrian dengan lirih, dengan tatapan mata yang masih fokus pada pintu yang sudah tertutup.
"Adrian." ucap Devan pelan.
"Aaaaaa..."
Teriak Adrian dengan meninju sebuah dinding ruangan sebagai pelampiasan emosi yang saat ini memenuhi hatinya. Saat ini kondisi tidak bersahabat. Raut wajahnya memerah dengan tatapan mata tajam yang di penuhi dendam dan amarah. Ia kembali mengingat kejadian penyerangan yang terjadi. Adrian mulai mengepal tangannya dengan kuat.
"Siapapun kau. Harus menerima pelajaran yang setimpal atas perbuatan yang sudah kau lakukan." ucap Adrian dengan penuh kemarahan.
Saat ini bukan saat yang tepat, Devan memilih pergi meninggalkan Adrian seorang diri di sana. Hatinya juga merasa hancur saat ia gagal melindungi Adelia dari bahaya yang menyerangnya. Sebuah penyesalan juga muncul di wajah Devan.
"Maafkan aku."
Pikiran keduanya telah larut pada keadaan Adelia yang masih berbaring lemah di ruang operasi.
****
Dirumah utama, terlihat Nyonya Wina yang sedang berbaring di atas tempat tidur megah yang ada di kamarnya. Pak Udin dan Tuan Agung dengan setia menemani di dalam. Terlihat Aldo yang baru saja beranjak dari duduknya saat selesai memeriksa keadaan Nyonya Wina.
"Nyonya hanya sedikit syok Tuan, beliau akan segera sadar. Ini adalah obat yang harus di berikan pada Nyonya." ucap Aldo singkat lalu melangkah pergi diikuti Pak Udin dari belakang untuk meninggalkan kamar.
"Apa yang terjadi Pak Udin?" tanya Aldo sambil terus melangkah.
"Saya tidak mengetahui masalah apa yang terjadi Tuan, tapi Tuan muda Adrian dan Nona Adelia kini berada dalam bahaya." jawab Pak Udin yang sedari tadi belum mengetahui kejadian yang telah terjadi.
"Adrian? Kemana dia membawa istrinya pergi?" tanya Aldo sambil mengerutkan keningnya dan mulai menghentikan langkah kakinya.
"Mereka di minta Nyonya untuk pergi bulan madu Tuan. Tapi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi di sana." jelas pak Udin.
"Sesuatu? Aku harus segera menghubunginya." ucap Aldo kembali melanjutkan langkah kaki menuju mobil yang telah terparkir.
Di dalam kamar, Tuan Agung terus menggenggam tangan Nyonya Wina. Raut wajah cemas terpancar jelas di sana. Sambil terus memandang wajah sang istri tercinta yang kini sudah mulai tersadar.
"Adrian..." ucap Nyonya Wina pelan sambil memegang pucuk kepalanya.
"Jangan banyak pikiran, semua akan baik-baik saja." bujuk Tuan Agung agar Nyonya Wina tidak kembali jatuh sakit.
Tanpa membantah Nyonya Wina mulai menuruti permintaan suaminya demi kesehatan yang harus dijaga.