I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 74



Agung dan Wina hanya bisa menarik napas dalam melihat sikap Adrian yang terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Pikiran keduanya masih di penuhi rasa bersalah dan menyesal, namun tindakan untuk menyerah akan menjadikan semua usahanya selama ini menjadi sia-sia.


"Maafkan mama Adrian, kau pasti sangat kecewa dengan kami." batin Wina sedih.


"Ma..." sapa Adelia.


"Iya sayang!"


"Mama tidak pulang? Sudah malam." melihat ke arah jam dinding.


"Iya sayang mama dan papa akan pulang ini. Cepat sembuh ya sayang." ucap Wina dengan memberi satu pelukan hangat.


"Iya ma, hati-hati di jalan." ucap Adelia sambil melepas pelukan Wina.


"Cepat sembuh sayang." ucap Agung sambil mengelus rambut Adelia dengan sayang.


Agung kembali melirik ke arah Adrian yang sudah memejamkan mata. "Maafkan papa Adrian, papa akan menjelaskan semuanya jika waktunya sudah tepat!" gumamnya pelan sambil berlalu pergi.


Kamar yang tadi ramai, kini kembali terasa sunyi. Hanya ada Adrian dan Adelia di dalamnya. Detik jarum jam di dinding menjadi satu irama khas yang kini harus mereka dengarkan. Dari kejauhan, Adelia menatap Adrian dengan intens. Ingin sekali ia turun dari ranjang untuk memberi selimut pada tubuh Adrian yang sudah terlelap. Namun, luka tembakan itu masih terasa sakit tiap kali ia berusaha bergerak.


"Kau pasti sangat begitu lelah, maafkan aku karena membuat satu kekacauan yang menyita banyak waktu berhargamu." ucap Adelia pelan sebelum ia mulai memejamkan mata.


Hari yang melelahkan telah dilalui semua orang hari ini. Malam menjadikan waktu untuk melampiaskan rasa lelah yang sudah tertumpuk sejak pagi. Mata yang berat memudahkan pemiliknya untuk segera berada di alam mimpi.


***


Adrian baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jas lengkap yang telah di siapkan oleh Jimy. Datang di waktu yang tepat menjadi satu kedisiplinan yang dimiliki Jimy selama ini.


Adrian melangkah pelan ke tempat tidur Adelia yang masih tidur dengan nyaman di temani satu lembar selimut yang selalu setia menghangatkan tubuhnya yang mungil.


Adrian duduk di sebuah kursi yang berada dekat dengan Adelia. Kedua matanya masih fokus pada wajah Adelia yang sangat natural. Sebuah senyum indah melingkar di bibir Adrian. "Cantik." gumam Adrian pelan.


Seperti sudah waktunya untuk bangun, Adelia membuka mata dengan pandangan yang masih belum jelas. Ia menguek-ngucek kedua matanya untuk memperjelas wajah seseorang yang ada di depan matanya.


"Adrian!" ucap Adelia kaget, lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.


Adelia mengintip di ujung selimut, untuk kembali memastikan wajah yang ia pandang benar adanya.


"Kenapa kau cepat sekali bangun?" ucap Adrian melirik ke jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Aku tidak bisa tidur lagi." jawab Adelia yang masih menutupi dirinya dengan selimut.


"Kenapa kau menutupi wajahmu seperti itu?" tanya Adrian mulai curiga.


"Aku...aku belum mandi!" ucap Adelia melirik sebentar ke arah Adrian yang sudah terlihat rapi.


"Apa ada masalah jika kau belum mandi?" tanya Adrian sambil menarik selimut Adelia dan dijatuhkan ke lantai.