I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 15



Di kamar pengantin baru


******


"Ma... maafkan aku. Aku tadi hanya kaget, melihat kau tiba-tiba duduk di situ." ucap Adelia dengan menunduk takut.


"Huft, berada di dekatmu sedetik saja sudah membuat aku darah tinggi." ucap Adrian lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Adelia kembali naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Berlindung dari dinginnya malam.


Adelia kembali ingat, kalau malam ini dia akan tidur satu ranjang dengan Adrian. Ia menarik selimut yang ada di bawah kaki, hingga menutupi lehernya. Matanya tidak lagi merasakan kantuk. Pikirannya membuat rasa kantuk yang ia miliki, pergi entah kemana.


"Semoga saja dia tidak berani macam-macam, awas saja jika dia berani macam-macam padaku!" ucap Adelia pelan," Tetapi kalau dia memaksaku bagaimana? apa aku tendang saja dia. Tapi kami sudah sah menjadi suami istri. Tidak tidak, aku tidak mau, tidak mau!" teriak Adelia sambil memejamkan matanya.


"Apa yang tidak mau?" tanpa ia sadari Adrian sudah berada di sampingnya. Adrian bingung, saat mendengat kata terakhir yang diucapkan oleh Adelia


" emmm... itu... hmmp..." Adelia kini mulai berpikir, ia dibuat bingung harus menjawab pertanyaan Adrian.


"Apa?" apa kau bisu. ucap Adrian sambil menjatuhkan dirinya di atas ranjang yang sama dengan Adelia.


"Hey, kau ngapain tidur disini? ucap Adelia


"Lalu aku akan tidur dimana, apa kau ingin menyuruhku tidur di sofa? kau saja sana yang tidur di sofa. Ini adalah kamarku jadi aku bebas tidur di manapun yang ku mau. ucap Adrian dengan ketus.


"Tidak, aku tidak mau nanti aku bisa terjatuh jika tidur di tempat sempit." ucap Adelia


"Memangnya aku peduli, jika kau jatuh ya bangun sendiri tidak usah manja. jawab Adrian.


"Aku tidur disini saja, tapi jangan berani macam-macam." ucap Adelia mengancam.


"Aku hanya ingin tidur, dan segera hilangkan fikiran kotormu. Apa kau pikir aku akan menyerangmu malam ini?" ucap Adrian.


"Awas saja kalau kau berani!" ancam Adelia.


" Terus, kenapa kalau aku berani?" Adrian mendekati tubuh Adelia, "Bukankah kita sudah menikah? dan kau sudah menjadi istriku, memang apa yang bisa kau lakukan jika aku memaksamu?" Adrian tersenyum penuh arti.


Adelia kini terdiam tanpa kata, ia sudah tidak dapat berkata lagi. Adelia hanya menggenggam selimut, yang telah menutupi seluruh tubuhnya.


"Apa kau takut?" Adrian mulai mengerti raut wajah Adelia saat ini.


"Ak....Aku.... Aku...." jawab Adelia terbata-bata, saat ini ia memang sedang sangat takut. Apa yang ia takuti akan terjadi.


Apa yang harus aku lakukan. Apa aku dorong saja dia, atau lari dari sini dan tidur di sofa.


Perkataan Adrian membuat ia salah tingkah. Wajahnya juga semakin memerah.


Adrian terus saja memajukan wajahnya hingga wajah mereka berhadapan," Kau sama sekali bukan tipeku. Maka jangan pernah bermimpi untuk tidur denganku mengerti!" ucap Adrian mengancam.


"Bekerja sama?" Adelia mengerutkan dahinya, menatap wajah Adrian. Menagih satu penjelasan.


"Iya, kita tidak saling mencintai. Pernikahan ini karena rencana kedua orang tua kita.


Aku harap kita bisa bersikap, seolah-olah kita bahagia di hadapan semua orang. jelas Adrian.


"Baiklah aku setuju!" jawab Adelia dengan senang, rasanya ia baru saja mendapatkan penawaran yang menyelamatkan kehidupannya.


"Tapi kau tenang saja. kau akan mendapatkan fasilitas yang pantas kau dapatkan, sebagai istri dari Adrian Kusuma," ucap Adrian dengan bangga, " Besok pengawalku akan mengurus semua kebutuhanmu."


"Lalu aku harus melakukan apa disini. bolehkah aku keluar rumah? maksudku, kau tidak akan mengurungku di rumah ini seharian kan? Adelia menatap wajah Adrian.


"Terserah kau saja, bahkan jika kau ingin menemui kekasihmu. Aku juga tidak akan keberatan. Karena hanya status yang harus kita jaga. Dan aku ingatkan padamu, jangan pernah berpikir kalau suatu saat nanti aku akan berubah pikiran dan jatuh cinta padamu," ucap Adrian penuh percaya diri.


"Baiklah aku mengerti. Aku tidak punya kekasih, mungkin aku akan menemukannya sebentar lagi. ucap Adelia dengan santai.


"Kau harus tahu batasanmu! jangan pernah membuat malu keluarga besarku. Terutama Mama, jangan pernah sekalipun menyakiti hatinya. Aku bisa melakukan hal buruk, yang tidak pernah terlintas di pikiranmu. Apa kau mengerti?" ancam Adrian dengan suara meninggi.


"Baiklah, aku akan mengingat semuanya," jawab Adelia dengan pelan. Adelia kembali merasa takut dengan ancaman Adrian, "Apa kau sudah memiliki kekasih? hingga kau harus meninggalkannya demi pernikahan ini?” tanya Adelia penuh dengan rasa takut.


"Apa kau tau Adelia, aku tidak suka dengan orang yang pembangkang. Apa kau mau aku memulai hukuman pertama? hukuman yang pantas aku berikan, bila melihat orang pembangkang sepertimu berada di hadapanku!" ucap Adrian menatap wajah Adelia dengan dingin.


"Tidak! yasudah selamat malam dan selamat tidur!" Adelia memiringkan tubuhnya, membelakangi Adrian yang masih menatap wajahnya.


Rasa takut yang ia rasakan, membuat Adelia lebih memilih diam dari pada harus menjawab. Ia sudah terbiasa mendapatkan kasih sayang. Melihat Adrian membentaknya tadi membuat Adelia merasa takut. Wajah Adrian berubah menjadi seekor harimau, yang siap memangsa musuhnya.


"Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku dan urusan pekerjaanku. Apa kau mengerti? jika kau melanggarnya maka aku akan memberikan pelajaran yang begitu menarik, yang akan membuat hidupmu menyesal. Karena sudah lahir ke dunia ini!"


Adrian berpikir bahwa Adelia sosok anak yang manja dan gambang untuk diancam. Kini ia sungguh senang seperti mendapatkan mainan baru. Adrian memiringkan tubuhnya, dengan posisi yang berlawanan dari Adelia.


Meskipun masih sangat jelas, mendengar perkataan Adrian. Ia memilih untuk diam, dan mulai memejamkan matanya.


Malam pernikahan yang seharusnya menjadi romantis bagi semua orang. Tapi tidak dengan Adrian dan Adelia. Malam pernikahan kini diwarnai dengan perjanjian dan ancaman.


Hal itu berbanding terbalik, dengan apa yang dipikirkan oleh Nyonya Wina.


Di dalam kamar Nyonya Wina masih belum tidur. Pikirannya masih melayang dengan khayalan menggendong seorang cucu yang menggemaskan. Anak Adrian dan Adelia, ya g menjadi pelengkap kebahagiaan di antara mereka.


"Pa... sebentar lagi kita akan menggendong cucu," ucap Nyonya Wina kepada suaminya yang sedang tidur karena lelah.


"Ma, mereka baru saja menikah. Sebaiknya kita tidur, ini sudah larut malam."


"Mama sangat bahagia, pa ... sekarang mereka sudah bersama. ucap Nyonya Wina.


"Sudahlah, Ma. sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya membuat mereka saling mencintai."