
Adelia kini berjalan meninggalkan kamar dengan wajah memberengut kesal. Ia ingin sekali melampiaskan amarahnya kepada Adrian tetapi dia tidak berani sehingga Adelia memilih menghentakkan kakinya melampiaskan kekesalannya.
Flashback beberapa menit yang lalu.
Setelah menunggu Adrian beberapa menit, dengan penuh penderitaan. Akhirnya sosok yang ia tunggu keluar dari kamar mandi. Adelia kaget, ketika Adrian menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
"Anda tidak makan malam, Tuan?" ucap Adelia dengan penuh hati-hati.
"Tidak, aku sudah makan di luar tadi. Lagian Mama dan Papa tidak ada dirumah. Jadi aku tidak perlu mengikuti tradisi makan malam dirumah ini." ucap Adrian sambil memejamkan kedua matanya.
Astaga, bodohnya aku sudah lama menunggunya dengan perut kelaparan, Dan sekarang dia bilang sudah makan. Sungguh menjengkelkan ingin sekali aku menjambak rambutnya.
Dengan kesal, Adelia melangkahkan kakinya keluar kamar dengan penuh kekesalan.
Adrian hanya melirik sekilas kepergian Adelia. Tanpa peduli Adrian kembali melanjutkan tidurnya.
Flashback berakhir.
Di depan pintu kamar, Adelia kini dikagetkan dengan kemunculan Pak Udin. Ia sudah berdiri di depan pintu, dan ingin menemui Adelia.
"Pak Udin." Adelia menarik napas dalam mengelus dadanya karena kaget.
"Maaf Nona, saya ingin menyuruh anda untuk makan malam. Tuan Alex mengatakan kepada saya, kalau tuan Adrian sudah makan malam di luar." ucap Pak Udin.
Pak Udin tertunduk dalam, dengan penuh rasa bersalah.
"Iya... saya sudah mengetahuinya," jawab Adelia dengan ketus.
Adelia melangkahkan kakinya meninggalkan Pak Udin yang masih mematung di sana. Pak Udin kembali mengikuti langkah Adelia.
"Nona, maafkan saya. Lain kali saya tidak akan melakukan kesalahan ini lagi." mohon Pak Udin.
Langkah Adelia menjadi terhenti setelah mendengar perkataan Pak Udin, hatinya kini justru merasa bersalah kepada Pak Udin.
Tidak seharusnya, aku bersikap seperti ini kepada Pak Udin. Bukankah aku marah dan kesal kepada Adrian. Kenapa aku harus melampiaskan kepada Pak Udin yang sama sekali tidak bersalah.
Adelia kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Pak Udin.
"Tidak perlu seperti itu Pak Udin, maafkan atas sikap saya yang tidak sopan. Saya tidak menyalahkan anda, saya hanya sedikit lapar." ucap Adelia kembali memegang perutnya.
"Tidak apa Nona. Sekali lagi saya minta maaf Nona, seharusnya saya mencari tahu lebih dulu. Apakah Tuan Adrian sudah makan atau belum," ucap Pak Udin lagi, membungkukkan tubuhnya dengan hormat.
"Apa anda bisa untuk tidak selalu mengucapkan kata maaf. Anda sama sekali tidak salah dan saya sama sekali tidak marah pada anda," jawab Adelia frustasi.
"Saya berhak mendapatkan hukuman Nona." ucap Pak Udin karena dirinya sudah salah.
"Baiklah hukuman Pak Udin, sekarang temani saya makan malam." ucap Adelia
"Tapi Nona...." Pak Udin tertegun mendengar hukuman yang di berikan Adelia.
"Pak Udin sendiri tadi yang bilang akan mematuhi hukuman yang saya berikan. Dan itu adalah hukumannya, jadi ayo kita segera makan. Saya sudah sangat lapar" ucap Adelia.
Tanpa menjawab, Pak Udin hanya membungkukkan kepalanya. Pertanda ia setuju menerima hukumannya. Karena ia tidak ingin Nona Adelia menunggu lagi.
Adelia kembali melanjutkan langkah kakinya, menuju ruang makan yang terletak si lantai bawah dengan semangat.
Pak Udin menggeleng sesaat, sebelum mengikuti langkah Adelia.
Di meja makan Adelia kembali dikejutkan, dengan aneka menu yang telah dihidangkan. Sayur, Ikan dan buah-buahan telah tertata rapi di atas meja. Adelia kembali memegang perutnya yang kini sangat lapar.
Ia ingin memakan semua makanan, yang ada di meja itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat aneka makanan, memenuhi isi meja makan di rumah utama.
Tadi siang, Pak Udin tidak membawa banyak makanan ke kamar. Ia hanya menghidangkan sepiring nasi yang lengkap dengan lauk, dan jus buah untuk makan siangnya.
Sangat jauh berbeda, dengan makanan yang dulu pernah ia makan. saat ia masih tinggal satu rumah dengan Tuan Wijaya. Dulu ia makan dengan begitu sederhana.
"Pak Udin, apa saya boleh memakan semua makanan yang ada di sini?" ucap Adelia.
Adelia ingin mencoba semua makanan yang tersedia. Pak Udin menarik kursi untuk duduk Adelia. Perlahan, Adelia duduk di kursi itu.
"Silahkan, semua makanan ini milik Nona," ucap Pak Udin.
"Benarkah?" baiklah, ayo kita makan Pak" ucap Adelia penuh semangat. Adelia memandang Pak Udin sesaat.
Makan malam bersama Pak Udin mengingatkanku sama Ayah. Kami selalu menghabiskan waktu makan berdua, di sebuah meja yang sederhana. Ayah.... semoga kau bahagia disana. Aku rela menjalani kehidupan seperti ini selama Ayah bahagia disana.
Adelia memulai makan malamnya, sambil tersenyum memandang Pak Udin.
Selama makan, Adelia banyak melamun.
Pikiran Adelia terus melayang, ia kembali memikirkan proses pernikahan yang begitu cepat terjadi. Satu pernikahan, yang tidak pernah terlintas di dalam pikirannya.
Semua masih terasa seperti mimpi.
Adelia masih mengingat jelas, semua memori pertunangannya dengan Adrian. Hingga kepergian Ayah tercinta untuk selamanya.
Setelah menyelesaikan makan malamnya dengan Pak Udin. Adelia kembali menuju kamar untuk segera tidur. Mengistirahatkan pikirannya sejenak karena memori kejadian sebelum pernikahannya dengan Adrian terus saja ia ingat.
"Pak Udin, saya sudah selesai makan dan saya akan kembali ke kamar untuk istirahat." ucap Adelia.
"Baik Nona, mari saya antar." ucap Pak Udin kembali menundukkan kepalanya.
"Tidak perlu Pak, saya bisa kembali sendiri dan anda pasti sudah lelah karena bolak balik naik tangga." ucap Adelia.
"Itu sudah menjadi tugas saya Nona, selamat istirahat Nona dan hati-hati." ucap Pak Udin.
Adelia hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu berjalan menuju arah kamar dengan kembali melamun.
Sebuah pernikahan yang terjadi karena permintaan terakhir, orang yang paling ia cinta dan ia sayangi. Janjinya kepada Tuan Wijaya, untuk tetap merahasiakan identitas dirinya kini kembali berputar didalam ingatannya.
Adelia sangat merindukan Ayahnya, orang yang selalu menemani dirinya di setiap hari. Beliau yang selalu mendengarkan semua keluh kesahnya. Beliau yang sangat sabar menghadapi tingkahnya yang begitu manja terhadap ayahnya. Menuruti semua keinginan dengan sepenuh hati. Tertawa bahagia setiap harinya. Itulah yang membuat Adelia begitu merindukan Ayahnya.
Hatiku juga terluka parah karena ini. Setiap detik ingatan itu hadir dalam pikiranku.
Adelia melangkahkan menaiki satu persatu anak tangga. Dengan pandangan kosong ia dalam melangkah. Lamunan panjangnya telah terhenti dan Adelia sudah berada di depan pintu kamar. Pintu ia buka dengan perlahan dan melangkah masuk. Sesudah menutup pintu ia melangkah menuju tempat tidur dan segera memejamkan matanya menuju mimpi.