
Dia tidak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun kepadaku, padahal aku sudah susah-susah menuruti permintaannya. batin Adrian.
"Adrian..." sapa Adelia yang kini berhenti melangkah.
"Ada apa?" jawab Adrian singkat.
"Apa kau sudah memikirkan pertanyaanku, tentang pertemanan di antara kita?"
"Untuk apa aku harus memikirkannya."
"Sudah aku duga, dia tidak akan pernah ingat dan memiliki jawaban atas pertanyaanku." ucap Adelia pelan.
"Apa kita tidak terlalu jauh melangkah, Adrian." tanya Adelia saat mulai menyadari kalau vila yang menjadi tempat tinggalnya beberapa hari ini sudah tidak terlihat lagi.
"Kenapa, apa kau takut?"
"Tunggu Adrian, ini di mana sebenarnya?" tanya Adelia lagi.
"Ini jalan menuju danau, Adelia."
"Benarkah? kau pernah ke sini?" tanya Adelia lagi.
"Seseorang pernah memaksaku untuk datang ke sini." ucap Adrian dengan santai.
Kenapa aku tidak bisa lagi bersikap tegas padanya. batin Adrian dalam hati.
"Seseorang? siapa itu?" sebuah pertanyaan yang hanya di simpan dalam hati.
Sebuah Danau yang berada di salah satu kaki gunung. Terdapat burung-burung berterbangan mengitari permukaan Danau. Rerumputan hijau yang terbentang di sepanjang daratan menambah kesan indah saat berada di dekat Danau itu.
Kini Adrian dan Adelia sudah benar-benar menjauhi Vila. Para pengawal yang tadi mengikuti mereka juga sudah lebih waspada untuk menjaga mereka.
Pria misterius yang sama dengan sosok yang ada di bandara juga sudah ada di antara mereka saat ini. Wajahnya yang tenang dan santai, tidak terbaca aura jahat sedikitpun di sana.
"Aku tidak membawanya, kenapa Adrian?"
Adrian hanya diam, entah firasat apa yang kini merasuki pikiran Adrian. Hatinya kini merasa tidak tenang. Merasa kalau posisi mereka kini dalam bahaya.
"Kita harus segera kembali ke Vila, Adelia." ucap Adrian dengan gelisah.
"Tapi kita belum sampai di pinggir danau itu, Adrian." protes Adelia yang tidak ingin kembali tanpa hasil.
Hanya diam tanpa ingin membantah, Adrian terus melangkahkan kakinya menuju arah pulang ke Vila. Sedangkan Adelia hanya diam tanpa protes terhadap keputusan Adrian. Baru saja hatinya bahagia bisa mendapat sikap lembut yang di miliki Adrian, kini Adrian sudah kembali ke sifat aslinya yang dingin dan arogan.
"Kenapa mengajakku ke sini, jika hanya melihat dari jarak jauh. Aku akan pergi ke sini esok hari, tanpa di temani olehnya." ucap Adelia pelan.
"Adelia!" teriak Adrian dari kejauhan.
"Iya, aku akan segera ke sana." jawab Adelia dengan kesal.
Merasa tidak ingin kehilangan mangsanya, pria misterius itu segera mengeluarkan sebuah pistol ke arah Adelia dan siap menarik pelatuknya dengan hati-hati.
"Aduh!" Adelia terjatuh terjerembab ke atas tanah. Kakinya menyandung sebuah batu yabg berukuran sedang. Jalan yang di lalui Adelia di penuhi banyak bebatuan. Dan langkah Adelia yang cepat untuk segera tiba di samping Adrian menjadi penyebab Adelia tersandung dan terjatuh.
"Aduh, kenapa luka ringan seperti ini bisa terasa sakit sekali." ucap Adelia dengan menggerutu.
Adrian merasa kesal, karena menunggu Adelia terlalu lama di situ. Adrian memutuskan untuk melangkah mendekati Adelia. Matanya melebar saat melihat sosok pria misterius yang sudah siap melepas sebuah tembakan ke arah Adelia. Dengan berlari cepat Adrian segera menghampiri Adelia. Karena bahaya sedang mengincar Adelia.
"Adelia, awas!" teriak Adrian.
Adelia hanya diam mematung. Kedua bola matanya melihat Adrian yang dengan cepat berlari ke arahnya. Pria itu menabrak dirinya hingga mereka berdua tergeletak di samping pepohonan teh yang rindang.
Dorr....