
2 minggu sudah Adelia menjalani status sebagai Nona Muda. Status itu membuat diri Adelia banyak mengalami perubahan.
Dari gaya rambut, maupun pakaian. Meskipun pilihan makeup sehari-hari yang ia pilih, masih terlihat sangat natural. Pak Udin juga yang sudah membantu Adelia untuk menyesuaikan diri.
Pak Udin banyak menjelaskan pada Adelia dengan begitu rinci tanpa ada yang terlewat satu hal pun.Beberapa aturan penting yang wajib dipatuhi di rumah utama. Hal itu meliputi sarapan dan makan malam, yang memang wajib di lakukan di rumah utama. Beberapa jenis makanan kesukaan Adrian, dan beberapa hal yang tidak di sukai oleh Adrian.
"Pak Udin, anda selalu memberi tahu hal-hal yang tidak di sukai oleh Adrian. Lalu apa yang ia sukai, Pak Udin? Apa di rumah ini tidak ada satu tempat, yang ia sukai. Seperti tempat olahraga dan berenang?" tanya Adelia sambil tetap memfokuskan pandangannya pada sekeliling rumah.
"Beberapa hal yang disukai oleh Tuan Adrian, hanya dia sendiri yang mengetahuinya, Nona. Bahkan Nyonya Wina sendiri tidak mengetahui, apa yang bisa membuat Tuan Adrian bahagia. Sikapnya selalu terlihat dingin, dan senyum yang terlihat sengaja ia ukir. Tidak pernah terpancar kebahagiaan yang berasal dari hatinya, Nona." Pak Udin tersenyum manis saat menjelaskan kepribadian Adrian.
Adelia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Saat berjalan berkeliling rumah, Adelia mendengar suara tembakan. Adelia terus mencari, darimana sumber suara itu berasal.
"Apa itu?" Adelia menghentikan langkah kakinya.
''Tuan Jimy, sedang melatih beberapa pengawal rumah, Nona. Keselamatan orang yang tinggal di rumah ini, menjadi hal yang sangat penting. Setiap akhir bulan, semua pengawal dan pelayan laki-laki akab berlatih," jawab Pak Udin.
"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Adelia dengan antusias ia sangat begitu penasaran dan ingin segera melihat orang berlatih.
"Silahkan, Nona. Mari saya antar." Pak Udin berjalan pelan, membawa Adelia ke halaman samping rumah.
Setelah sampai, di sana Adelia juga melihat keberadaan Adrian dan Alex. Keduanya terlihat masih fokus, pada pelatihan yang di pimpin oleh Jimy. Jimy memberikan contoh bela diri yang ia miliki, diikuti oleh para pelayan dan pengawal yang ada di sana. Adrian yang melihat kedatangan Adelia. Pikirannya di penuhi dengan rencana licik untuk mengerjai Adelia.
"Adelia kemarilah" teriak Adrian dari kejauhan.
kenapa perasaanku jadi tidak enak ya, saat dia memanggilku.
Adelia masih diam mematung, di tempat ia berdiri bersama Pak Udin.
"Adelia!" ulang Adrian dengan menaikkan nada panggilannya ke level yang paling tinggi.
Adelia tersentak kaget, dengan cepat Adelia segera melangkahkan kakinya untuk berlari mendekati posisi Adrian, "Ada apa memanggilku, sayang!" goda Adelia dengan senyuman terpaksa. Karena disaksikan banyak orang, Adelia memanfaatkan situasi itu untuk mengerjai Adrian lebih dulu.
"Jimy, kemari bawa senapan itu kepadaku," perintah Adrian.
Tunggu-tunggu, apa dia ingin menembakku karena aku memanggilnya dengan sebutan sayang? Emang dasar mulut ini matilah aku.
Adelia mulai merasa khawatir, ia terus saja memandang ke arah Jimy yang berjalan menghampirinya.
Jimy membawa beberapa senapan dan memberikannya kepada Adrian.
Kenapa anda datang kesini, Nona.
Jimy memandang sekilas ke arah Adelia. Hatinya di penuhi kekhawatiran. Jimy sudah lama mengenal Adrian. Terkadang Adrian menggunakan cara yang tidak masuk akal, untuk memperoleh kebahagiaan.
Pak Udin dan Alex, tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk membela Adelia. Dengan tangan gemetar, Adelia mengambil pistol yang disodorkan oleh Adrian. Di depan terlihat ada beberapa meja yang berbaris. Buah apel yang telah tersusun rapi, sebagai sasaran tembak. Adelia mulai mengarahkan pistol itu, ke arah buah apel yang ingin ia tembak. Dengan tangan yang gemetaran, Adelia mencoba untuk menembaknya.
"Tembak!" teriak Adrian tiba-tiba, membuat Adelia menembak ke arah lain dengan mata terpejam.
Adrian hanya tersenyum tipis, karena berhasil membuat wajah Adelia menjadi ketakutan. Bagi Adrian, Adelia sebuah tontonan yang menyenangkan. Ia merasa bahagia, melihat Adelia dalam keadaan terancam.
Namun hal itu tidak sama dengan Adelia,
suara tembakan itu justru membuat sebuah bayangan kembali muncul. Bayangan seorang wanita sedang menembak ke beberapa orang dengan cepat dan tepat.
Tiba-tiba, tangan Adelia kembali menarik pelatuk pistol itu. Adelia menembak ke arah buah apel, dengan tepat sasaran. Tembakan itu terus ia ulangi. Semua tembakan Adelia, tidak ada satupun yang meleset.
Hal itu membuat semua orang kaget, melihat aksi Adelia menembak. Adrian yang berdiri di samping Adelia juga terlihat syok. Adrian memandang ke arah apel yang sudah dilumpuhkan oleh Adelia.
Apa ini? kenapa dia bisa melakukannya!
Adrian memandang Adelia dengan tatapan tidak percaya. Apel itu berserakan, terkena tembakan dari tangan Adelia.
Adelia kini masih dengan bayangannya, bayangan itu membuat kepalanya menjadi sakit yang amat luar biasa, kakinya mulai lemas. Semua yang ada di hadapannya tiba-tiba saja bergoyang.
"Kepalaku sangat sakit," ucap Adelia pelan sebelum Adelia jatuh pingsan. Adrian yang kini berada di samping Adelia, langsung sigap menangkap tubuh Adelia. Wajahnya kini berubah menjadi panik, saat melihat Adelia tiba-tiba pingsan.
"Adelia! hey bangunlah," menepuk pipi Adelia pelan.
Adelia tidak memberikan respon. Dengan cepat, Adrian menggendong tubuh Adelia, ia berlari cepat dan membawanya masuk ke kamar, "Pak Udin, cepat panggil dokter!" perintah Adrian yang sudah terlihat begitu panik.
Pak Udin segera menghubungi Dokter. Alex dan Jimy mengikuti Adrian membawa Adelia ke kamar.
Kenapa Nona Adelia bisa menembak dengan tepat sasaran. Apa hanya sedang kebetulan saja ia bisa melakukannya.
Jimy sangat tidak percaya,saat melihat aksi Adelia menembak ke beberapa sasaran dengan tepat.
Mau tidak percaya, tapi aku melihat kejadian itu di depan mataku sendiri. Apa mungkin Nona bukan wanita biasa. Ia bahkan bisa menembak apel itu dengan tepat sasaran. Bahkan Tuan Adrian tidak sehebat itu.
jimy dan Alex sedang bingung dengan pikirannya masing-masing.
Tidak butuh waktu lama, seorang Dokter telah tiba di rumah utama. Tatapan matanya ia pusatkan pada Adelia, yang masih tidak sadarkan diri. Dengan beberapa alat, yang sudah ia siapkan. Dokter itu memulai pemeriksaannya, terhadap Adelia.
"Nona Muda mengalami tekanan yang sangat berat, Tuan. Sehingga membuat kepalanya tidak kuat, untuk menahan dan membuat Nona jatuh pingsan. Mungkin Nona sering memikirkan sesuatu, yang membuat tekanan ini ada dikepalanya." ucap Dokter menjelaskan dengan pelan.
Tekanan apa itu? Apakah aku sudah bersikap sangat keterlaluan kepadanya selama ini.