
Hari ini adalah hari minggu, Adelia baru saja membuka mata dari tidur nyamannya. Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Adelia melihat Adrian, yang masih tertidur pulas disampingnya. Adelia memandang wajah adrian begitu lama.
Dia sangat begitu tampan,
Adelia tersenyum memandang Adrian.
Hari ini aku ingin berjalan jalan ke luar. Untuk sekedar mencari udara segar di luar sana. Aku akan sangat merasa bosan jika terus saja berada di dalam rumah besar ini. Selama bersama Ayah, aku tidak pernah diijinkannya untuk pergi sendirian keluar rumah. Sekarang saatnya aku berjalan jalan seorang diri tanpa ada seorangpun yang akan melarangku untuk melakukan apa yang aku suka.
Inilah sifat asli Adelia ia suka akan kebebasan, tetapi sang Ayah selalu melarangnya.
Adelia beranjak dari tempat tidur menuju ke arah kamar mandi dengan penuh semangat. Ia sudah tidak sabar, untuk segera pergi berjalan-jalan.
Beberapa saat kemudian, Adelia sudah selesai mandi. Ia keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Adelia melihat Adrian sudah bangun dari tidurnya dan sedang mengutak-atik ponselnya. Menghubungi seseorang, dengan wajah datar dan dingin. Tidak mudah ditebak apa yang dibicarakan.
"Iya, ma... iya. " Adrian mematikan panggilan tersebut dan memandang ke arah Adelia.
Ternyata yang ditelepon oleh Adrian adalah Nyonya wina. Dan mengingatkan Adrian untuk segera memberikan ia seorang cucu yang manis.
Adrian hanya pasrah dan meng iyakan keinginan sang Mama. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain mengatakan itu.
"Mau kemana? "Adrian memperhatikan penampilan Adelia, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Aku ingin berjalan-jalan keluar sebentar, yang tidak jauh dari rumah ini, "ucap Adelia pelan. Adelia berjalan ke arah lemari untuk mengambil tas.
"keluar? kemana yang akan menjadi tujuanmu?" tanya Adrian penasaran.
"Aku ingin pergi ke sebuah mall untuk cuci mata." jawab Adelia cepat.
"Oh ya? apa kau mempunyai uang? tanya Adrian beranjak dari tidurnya, dan duduk di sebuah sofa. Dengan pakaian piyama yang masih melekat di tubuhnya.
"Aku.... aku tidak punya uang, dan aku tidak butuh uang untuk jalan-jalan. Biasanya aku hanya melihat-lihat saja," ucap Adelia
"Dasar bodoh," ucap Adrian ketus.
Adelia hanya bingung apa ada yang salah dengan perkataannya barusan, sungguh Adelia tidak mengerti jalan pikiran Adrian sekarang.
Adrian berdiri dan mengambil dompet. Adrian memilih beberapa kartu debit, dan melemparkan kartu itu di atas meja, "Ambil itu, kau akan ditemani pengawal selama berada di luar rumah." ucap Adrian.
''Pengawal? aku hanya ingin pergi sendirian dan..."Belum sempat Adelia melengkapi kalimat yang ingin ia ucapkan, Adrian sudah lebih dulu memotongnya.
"Kau menurut, atau tidak usah pergi sama sekali," ucap Adrian singkat dan berlalu pergi menuju kamar mandi.
"Kenapa dia sangat menyebalkan."
Adelia mengambil kartu itu, dan memasukkannya ke dalam tas. Ia duduk di sofa, untuk menunggu Adrian selesai mandi.
Beberapa saat kemudian Adrian selesai mandi dan berpakaian kemudian berjalan menuruni tangga untuk sarapan di lantai bawah.
Di meja makan, Adrian dan Adelia sudah di sambut oleh Pak Han dan Pak Udin. Tak ketinggalan juga Jimy dan Alex juga sudah berdiri tegap, menunggu Adrian.
"Alex, hari ini kau temani Adelia. Ia ingin berbelanja di mall yang berada di dekat sini." ucap Adrian sambil duduk di sebuah kursi, dan mengambil sebuah roti.
"Baik Tuan," ucap Alex sopan.
"Aku hanya ingin jalan-jalan, bukan untuk berbelanja," protes Adelia.
Adelia hanya diam. Ia juga mengambil sebuah roti, dan memberikan selai coklat yang menjadi favoritnya. Kemudian memakannya perlahan.
Tanpa butuh waktu lama, Adelia dan Adrian telah menyelesaikan sarapan mereka. Adrian beranjak dari tempat duduknya menuju ke ruang kerjanya.
Adelia hanya memandang punggung Adrian yang kini mulai menjauh. Ia juga beranjak dan berjalan ke arah pintu utama diikuti oleh Alex.
"Silahkan, Nona,"ucap Alex yang sudah membukakan pintu mobil. Alex mempersilahkan Adelia untuk masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih."Adelia masuk ke dalam mobil dengan senyum ceria khas miliknya. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang.
"Apa Nona mau langsung jalan ke mall?" tanya Alex melirik Adelia dari balik spion.
"Tentu saja, ini adalah hari pertamaku bisa keluar dari rumah yang besar itu," ucap Adelia dengan girang.
"Baiklah Nona." ucap Alex kembali melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall terbesar yang ada di kota ini.
"Alex, berjanjilah untuk tidak melarangku melakukan apapun yang aku inginkan," ucap Adelia dari kursi belakang.
"Saya tidak akan melarang Nona, jika hal itu tidak membahayakan diri Nona." ucap Alex tersenyum manis mendengar perkataan Adelia.
"Mana mungkin aku mencelakai diriku sendiri," jawab Adelia dengan wajah kesal.
Alex hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan Adelia.
Tanpa menunggu lama, mobil yang ditumpangi Adelia kini telah tiba di sebuah mall. Gedung mall itu menjulang tinggi ke atas, sesuai dengan apa yang diinginkan Adelia.
"Hari ini adalah hari minggu, mall akan dipenuhi dangan banyak orang Nona. Sebaiknya Nona tidak jauh-jauh dari saya," ucap Alex dengan penuh rasa khawatir.
"Baiklah, aku bukan anak kecil lagi. Kau tidak perlu khawatir, Alex. Jika aku terpisah darimu aku bisa pulang sendiri ke rumah dengan menggunakan taksi," ucap Adelia sambil melangkah masuk ke dalam mall.
Alex yang mendengar jawaban Adelia, hanya bisa menggelengkan kepala. Kelakuan nona mudanya, sungguh berbeda dari wanita kelas atas yang pernah ia jumpai. Ia dengan segera mengikuti langkah Adelia dari belakang tanpa mau kehilangan jejak.
"Alex, berapa lama kau bekerja dengan Adrian?" tanya Adelia memecah kecanggungan di antara mereka. Sambil melihat sekeliling.
"Sejak Tuan Adrian menyelesaikan kuliahnya, dan menerima warisan yang diberikan kepada Tuan Agung, Nona," jawab Alex sopan.
"Berarti sudah sejak lama ya," ucap Adelia lagi.
"Iya, Nona." ucap Alex.
"Alex, sepertinya aku ingin memakan itu. Apa kau mau membelikannya untukku," pinta Adelia dengan wajah penuh harap.
"Anda tidak berniat untuk kaburkan, Nona?" tanya Alex dengan penuh rasa curiga.
"Hahahaha.... kau bercanda, atas dasar apa aku ingin kabur. Aku juga tidak ingin membuatmu dalam masalah," jawab Adelia yang kini sudah duduk, di sebuah bangku yang telah disediakan.
Adelia meminta Alex untuk membelikannya sebuah Cake. Cake favorit yang sangat ia sukai. Alex mempercayai Adelia, dan pergi menuju ke tempat yang ditunjuk Adelia.
Beberapa menti kemudian.
''Ini pesanan anda, Nona," ucap Alex sambil memberikan sebuah Cake Coklat, dan kembali berdiri tegap di samping Adelia.
Adelia segera menerima Cake tersebut dengan gembira.