
Entah apa yang sedang di bicarakan oleh Nyonya Wina saat bertelepon dengan Adrian. Tapi Nyonya Wina seakan seperti mempunyai firasat, untuk mengganggu pembicaraan serius antara Adelia dan Adrian. Satu cerita yang sudah mulai mengarah ke arah masa lalu Adelia. Adrian sampai sekarang belum mengetahui sebuah rahasia, kalau selama ini Adelia mengalami hilang ingatan.
Setelah selesai berbicara dengan Nyonya Wina, Adrian segera mengakhiri panggilan itu.
"Apa kau sudah selesai, Adelia? Adrian berkata, dan beranjak dari tempat duduknya.
"Sudah, apa kita akan pulang ke rumah sekarang?" ucap Adelia mendongakkan kepalanya, memandang ke arah Adrian yang sudah berdiri.
Adrian hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya, Adelia sudah mengerti maksud dari anggukan itu. Adelia kemudian segera berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamar, untuk mengambil tas yang selalu menjadi tas kesayangannya. Adrian menunggu Adelia di depan kamar. Setelah siap keduanya berjalan beriringan, melewati lorong apartemen. Di dalam lift, keduanya hanya diam tanpa kata. Sesekali Adelia melihat penampilannya, melalui kaca yang mengelilingi lift.
Sampai di lantai dasar apartemen, beberapa pengawal sudah menyambut kedatangan Adrian dan Adelia. Sebuah mobil juga sudah di siapkan. Dengan hati yang mulai tenang, Adelia sudah bisa melupakan luka yang terjadi semalam.
Kau memiliki sikap yang lembut dan terkadang bisa berubah menyeramkan saat sedang marah denganku!
Ucap Adelia di dalam hati,dan memandang wajah Adrian yang kini ada di sampingnya. Tidak ada yang bisa ia ucapkan selain memandang Adrian dalam diam.
Beberapa menit kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Adrian dan Adelia sudah sampai di rumah utama. Seperti sudah berpisah sekian lama, Nyonya Wina di temani oleh Pak Udin sudah menyambut kedatangan Adrian dan Adelia di pintu utama. Wajah Nyonya Wina berubah secerah sinar mentari saat melihat mobil yang ditumpangi Anak dan menantu kesayangannya.
"Mereka sudah datang, Pak Udin," ucap Nyonya Wina dengan wajah penuh bahagia.
"Mama," sapa Adelia saat pertama kali turun dari mobil.
"Adelia sayang, Mama sangat merindukanmu." Nyonya Wina melangkah maju untuk memeluk tubuh Adelia dengan bahagia.
"Ma, Adelia hanya pergi sebentar. Bukan satu tahun," ketus Adrian sambil melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Nyonya Wina dan Adelia di depan sana.
"Apa kau baik-baik saja, sayang." Tanya Nyonya Wina yang menyimpan rasa curiga.
"Adelia baik-baik saja kok, Ma." jawab Adelia.
Nyonya Wina kembali memeluk Adelia dengan penuh kasih sayang, "Kau harus ingat Adelia, Mama sangat menyayangimu. Ayo kita masuk." ajak Nyonya Wina menggenggam tangan Adelia masuk ke dalam rumah.
"Ma, dimana Papa?" tanya Adelia sambil mencari-cari Tuan Agung yang tidak kunjung muncul.
"Papa sedang berada di kamar. Adelia apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dari Mama?" tanya Nyonya Wina penasaran.
Nyonya Wina sangat khawatir, jika Adrian menyakiti perasaan Adelia. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi, Nyonya Wina akan cepat bertindak. Demi masa depan keduanya.
"Tidak, Ma. Adelia baik-baik saja." ucap Adelia dengan tersenyum manis, untuk meyakinkan Nyonya Wina.
Nyonya Wina berusaha mempercayai perkataan Adelia. Dan mengajak Adelia duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Adrian, kemarilah." pinta Nyonya Wina saat melihat Adrian melangkah dari arah dapur.
"Ada apa, Ma?" jawab Adrian sambil melangkah mendekat ke arah Nyonya Wina.
"Adrian, kalian tidak lupa kan, kalau hari ini kalian akan berangkat bulan madu?" tanya Nyonya Wina saat melihat Adrian sudah mendudukkan dirinya di sofa yang sama dengan dirinya.
"Adrian tidak lupa, Ma." ucap Adrian sambil memandang wajah Nyonya Wina.
"Mama sangat senang mendengarnya, sebaiknya kalian ke kamar untuk mempersiapkan keperluan yang akan kalian bawa saat bulan madu." ucap Nyonya Wina.
"Mau pergi kemana, Ma?" tanya Adelia dengan penasaran begitu tinggi.
Wajah Adelia seketika berubah merona, kalimat yang diucapkan oleh Nyonya Wina membuat dirinya sedikit salah tingkah di hadapan Adrian. Sementara Adrian yang melihat sikap Adelia, hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arah Adelia.
"Ayo, sayang. Kita ke kamar," ajak Adrian sambil menarik tangan Adelia.
"Ma, Adelia ke kamar dulu." pamit Adelia kepada Nyonya Wina dan mengikuti langkah Adrian dengan perlahan.
Meskipun hanya sebuah sandiwara yang sudah di ketahui oleh Nyonya Wina. Sikap Adrian dianggap sebagai nilai untuk mempererat hubungan antara keduanya. Nyonya Wina hanya tersenyum memandang kedua anak yang begitu ia cintai.
"Mama akan menyelesaikan semua masalah yang telah terjadi di sini, tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi kebahagiaan kalian." ucap Nyonya Wina pelan.
Belum sampai di kamar, Adrian sudah melepas genggaman tangannya.
"Apa kau bahagia?" tanya Adrian singkat.
"Aku? Kenapa kau menanyakan hal itu padaku?" ucap Adelia menunjuk ke arah wajahnya.
"Kau kelihatan begitu bahagia, saat Mama membahas tentang bulan madu." Adrian membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya.
"Jangan asal bicara, aku hanya bahagia karena hanya ingin menikmati liburannya saja, dan aku tidak akan menyusahkanmu di sana." jawab Adelia, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk dan nyaman.
"Berlibur?" tanya Adrian bingung.
"Iya, Pasti Mama menyiapkan tempat yang indah. Mungkin sebuah pulau dengan pantai yang begitu indah...." Adelia mengkhayal dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Apa kau tidak punya tempat lain, yang ingin kau kunjungi? Selain pantai!" ucap Adrian kesal.
"Tidak, karena pantai adalah tempat banyak kenangan dengan Ayah," ucap Adelia dengan lirih. Matanya kini sudah mulai berkaca-kaca saat mengingat kenangan yang begitu indah saat Ayahnya masih hidup.
Adrian hanya diam memandang wajah Adelia yang dipenuhi kesedihan.
Tok tok tok. . .
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan keduanya.
Masuk," ucap Adrian.
Pintu terbuka dengan perlahan, ternyata Pak Udin yang mengetuk pintu.
"Saya akan membantu Tuan dan Nona Muda bersiap-siap." ucap Pak Udin, sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
"Silahkan, Pak Udin." ucap Adrian dan kembali menatap Adelia.
"Jangan, Pak Udin," ucap Adelia.
"Kenapa?" Adrian mengerutkan keningnya.
"Maksudnya, biar semua yang saya butuhkan, saya siapkan sendiri," ucap Adelia sambil tersenyum.
"Baik, Nona." jawab Pak Udin penuh hormat.
Adelia segera beranjak dari tempat tidurnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah ruang ganti, mengikuti langkah Pak Udin dari belakang. Adelia dan Pak Udin kini sudah berada di depan lemari besar. Pak Udin menyiapkan beberapa barang yang diperlukan selama perjalanan.