
Di perusahaan....
Alex baru saja tiba di sebuah perusahaan milik keluarga Kusuma. Alex sangat rindu untuk kembali menemani keseharian Adrian seperti biasanya. Kebersamaan Adrian dan Jimy, merupakan salah satu hal yang saat ia begitu nantikan. Wajahnya dipenuhi raut bahagia, membayangkan sambutan Jimy yang kini telah menanti kedatangannya.
Dengan hati-hati, Alex membuka pintu yang menjadi ruang kerja milik Jimy. Alex memegang handle pintu dan mendorongnya secara perlahan. Dengan satu senyuman manis, Alex melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Alex ingin membuat kejutan untuk Jimy. Tapi ia harus mendapat kekecewaan, saat melihat Jimy sudah tersenyum manis di depan meja. Menyambut kedatangan Alex. Perkiraan Jimy memang tidak pernah meleset. Ia selalu tahu kapan Alex akan tiba dan muncul di hadapannya.
"Kau terlambat 5 menit, Alex." ucap Jimy dengan penuh bahagia. Jimy melangkah pelan mendekati Alex, sambil mengulurkan tangan untuk menyambut kedatangan Alex.
"Kau selalu tahu kapan aku tiba. Meskipun aku tidak pernah memberitahumu, Jimy." Alex menjabat tangan Jimy dengan senang hati.
"Aku yang terbaik bukan." Jimy tersenyum penuh arti, melipat kedua tangannya di dada.
"Bagaimana dengan Tuan Adrian, Jimy?" tanya Alex sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang terletak di depan meja.
"Tuan Adrian dan Nona Adelia, sedang berada di Vila." jawab Jimy dan duduk di kursi besar miliknya, menghadap ke arah Alex.
"Benarkah? dan aku mendengar kabar tentang penyerangan di restoran malam itu. Apa mereka musuh kita?" Alex mengerutkan dahinya, ia sangat khawatir dengan keselamatan Adrian saat ini.
"Tidak, mereka musuh dari Mr. A."
"Aku semakin mengkhawatirkan Nona Adelia." Alex tertunduk dalam.
"Alex, pernahkah kau berpikir, kalau Nona Adelia bukan wanita biasa?'' Jimy menatap tajam ke arah Alex, kedua tangannya ia letakkan di atas meja.
"Kenapa kau memikirkan hal itu Jimy?" tanya Alex dengan bingung.
"Kau mencurigai wanita yang menjadi Nona muda kita, Jimy?" Alex beranjak dari duduknya. Ia tidak suka dengan penilaian singkat, yang diberikan oleh Jimy kepada Adelia.
"Alex... maksudku Nona Adelia." Jimy juga beranjak dari duduknya, untuk menghentikan Alex pergi.
"Ya, dia wanita yang pantas menemani Tuan Adrian."
Jimy mengalah, ia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Jimy juga merasa bersalah, karena sudah berani mencurigai Adelia. Wanita yang saat ini memiliki status penting dalam kehidupan Adrian.
"Kita tidak punya hak untuk mencurigai Nona Adelia, yang harus kita lakukan adalah melindunginya." ucap Alex sambil menepuk punggung Jimy.
"Kita harus berangkat, Alex. Tuan Adrian pasti sudah menunggu kehadiran kita."
Aku memiliki pemikiran yang sama denganmu, Jimy. Tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas siapa sebenarnya Nona Adelia.
Ungkap Alex dalam hati. Dengan senyum khas yang dimiliki oleh Alex, ia menyetujui pernyataan Jimy dan segera bersiap untuk menyusul Adrian yang berada di Vila keluarga Kusuma.
****
Hanya diam menikmati pemandangan, tidak ada canda tawa maupun obrolan ringan di sana. Keduanya hanya asyik dalam pemikiran mereka masing-masing. Adelia dan Adrian berjalan perlahan, menghirup udara segar yang berasal dari pegunungan yang menjulang tinggi.
Tidak ada yang berbeda, semua sama saja seperti tidak ada dirinya di sini." ucap Adelia pelan sambil terus mengikuti langkah Adrian.