
Tring...tring..tring..
Suara handphone yang tergeletak di meja mengalihkan perhatian Nyonya Wina. Hingga ia dengan segera menggeser tombol berwarna hijau.
"Nyonya, kami sudah berhasil masuk ke dalam markas para mafia itu. Dan hanya ada beberapa anggota yang melawan. Kami tidak menemukan pemimpin yang bernama Maxim di dalam. Sepertinya mereka sudah mengetahui rencana kita,Nyonya." ucap seseorang dari seberang telepon.
"Apa kau bilang? Lalu bagaimana keadaan Adrian dan Adelia sekarang." ucap Nyonya wina dengan wajah yang sangat panik.
"Baru saja salah seorang pengawal memberi kabar kepada saya, kalau terjadi penyerangan di Vila, Nyonya." jawabnya penuh hati-hati.
Mendengar hal itu perasaan Nyonya Wina menjadi tidak karuan. Inikah alasan mengapa dirinya gelisah dari tadi dan terus memikirkan anak dan menantunya. Nyonya Wina jatuh ke lantai. Pikirannya sudah tidak dapat mencerna perkataan yang baru saja ia dengar. Pandangan matanya perlahan mulai menggelap dan kini Nyonya Wina sudah tidak sadarkan diri.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja?" suara dari penelepon yang mulai panik dan segera memutuskan panggilan telepon itu.
Seakan mengerti kalau sang majikan dalam keadaan tidak baik-baik saja, pria itu segera melajukan mobilnya menuju rumah utama untuk menemui Nyonya Wina secara langsung.
Kembali dengan Adelia dan Adrian sekarang ...
"Sekarang kita ada di mana Adrian, hari sudah mulai gelap." Adelia mulai bertanya setelah menyadari lokasi sekelilingnya.
"Aku tidak tahu kita berada di mana Adelia,tapi kegelapan di malam hari bisa melindungi kita dari para penjahat itu." ucap Adrian sambil menatap wajah Adelia.
"Adrian, kenapa mereka menginginkanku? Siapa mereka sebenarnya?" tanya Adelia dengan penuh kesedihan, pikirannya di penuhi rasa bersalah, karena sudah menjadi penyebab kekacauan yang telah terjadi.
"Kau mau melindungiku Adrian? Apa itu artinya kau sudah bersedia menjadi temanku?" tanya Adelia penasaran.
"Tidak Adelia, tetaplah seperti ini menjadi istriku, jangan berubah untuk menjadi temanku." ucap Adrian sambil menarik Adelia ke dalam pelukannya.
Perasaan nyaman dan tenang bercampur menjadi satu di dalam hati Adelia. Matanya terpejam merasakan kehangatan pelukan yang di berikan oleh Adrian padanya. Sebuah senyuman terukir di bibir Adelia. Merupakan senyuman bahagia yang tercetak jelas di wajahnya. Hal yang tidak pernah ada dalam impiannya, sosok pria yang belum lama ia kenal dan sudah berstatus menjadi suaminya kini rela melindunginya dari bahaya manapun bahkan rela mempertaruhkan satu-satunya nyawa yang ia miliki.
Aku tidak ingin lepas dari pelukanmu Adrian, berada di posisi sekarang ini sangat nyaman.
Adelia mempererat pelukannya, seakan tidak ingin jauh dari tubuh Adrian memejamkan matanya untuk sesaat.
Hanya ada cahaya bulan yang menembus sela-sela pohon. Udara sudah berubah menjadi dingin, tidak ada makanan ataupun minuman di sana. Adrian mulai melepas jas yang ia kenakan untuk melindungi tubuh Adelia dari rasa dingin yang menusuk tubuhnya.
"Jangan lakukan itu, kah akan kedinginan Adrian." tolak Adelia saat Adrian hendak menutupi tubuhnya dengan jas yang ia miliki.
"Aku tidak lagi memperdulikan hal itu, kesehatanmu adalah hal utama saat ini Adelia."
"Baiklah, bagaimana dengan Jimy dan Alex, apa mereka baik-baik saja di sana Adrian." ucap Adelia sambil melangkah ke sebuah pohon dan bersandar dengan rasa lelah yang ia rasakan.
****