I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 70



Di sebuah taman yang tidak terlalu luas, terdapat banyak pasien yang menggunakan kursi roda di sana. Tempat itu memang sengaja di buat oleh pihak rumah sakit sebagai tempat hiburan bagi semua pasien yang di rawat. Bunga-bunga berwarna-warni terlihat bermekaran indah, harumnya juga tercium dari kejauhan.


Adelia duduk di kursi roda yang di dorong oleh Eva, sangat menikmati udara segar yang ada di sekitar taman bunga. Adelia terus saja menggerakkan kepala untuk memperhatikan sekeliling taman yang ada di sebelah kanan dan kiri dirinya berada.


"Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya Devan." gumam Adelia pelan sambil tersenyum bahagia menatap ke arah bunga yang ada di dekatnya saat ini.


"Sudah aku bilang bukan, jika kau akan menyukainya." Ucap Devan tersenyum tipis.


"Iya kau benar. Kenapa akhir-akhir ini aku selalu saja menemui aksi baku tembak!" gumam Adelia pelan namun tetap terdengar di telinga Devan dan Eva.


"Nona, sebaiknya jangan memikirkan hal itu dulu. Nona baru saja sembuh, sebaiknya nona menikmati suasana indah taman bunga ini." pinta Eva.


"Aku akan membelikan makanan untuk kalian berdua." ucap Devan.


"Makanan?" tanya Adelia semangat.


"Ya, di depan ada toko cake. aku akan ke sana." ucap Devan sambil menatap ke arah toko kecil yang berada tidak jauh dari posisi mereka saat ini.


"Aku mau cake cokelat, bisakah kau membelikannya untukku?" pinta Adelia dengan wajah penuh harap.


"Tentu, aku akan membelinya untukmu. Eva, apa kau ingin memilih rasanya juga?" tanya Devan.


"Terserah anda saja Tuan." jawab Eva singkat.


"Baiklah, tunggu di sini. Aku tidak akan lama." ucap Devan sambil melangkah cepat menuju toko.


Adelia dan Eva hanya diam memandang kepergian Devan. Ia terus saja memperhatikan sekeliling taman bunga yang kini mengelilingi dirinya. Meskipun rasa khawatir masih menyelimuti hati dan pikirannya, namun semua itu hilang karena suasana taman bunga telah membuat hatinya tenang.


Sementara Eva, masih berdiri dengan posisi tidak nyaman, rasa bersalah dan takut terus saja menghantui pikirannya saat ini. Tidak pernah terlintas di pikirannya apa yang akan di lakukan oleh Adrian ketika melihat pemandangan ini.


"Eva, bagaimana dengan Vina? Apa dia lagi bersama Evi?" tanya Adelia yang tiba-tiba saja merindukan bocah kecil yang sangat imut itu.


"Iya Nona. Saya menitipkan Vina bersama adik saya." jawab Eva dengan perasaan rindu.


"Sebaiknya kau tidak usah bekerja lagi." ucap Adelia.


"Tapi kenapa Nona? Apa saya melakukan kesalahan? Maafkan saya Nona, saya masih ingin bekerja untuk nona." ucap Eva secara cepat, hatinya sudah di penuhi rasa takut jika harus di berhentikan bekerja dari rumah utama.


"Tidak Eva, aku tidak bermaksud seperti itu." jelas Adelia sambil mendongakkan kepala menatap Eva.


"Lalu, apa maksud nona?" tanya Eva yang masih bingung.


"Aku yang akan membiayai kehidupan Angel, jadi kau tak perlu meninggalkannya lagi." ucap Adelia sambil tersenyum memandang Eva.


"Tidak nona, saya tidak ingin merepotkan nona." tolak Eva secara halus.


"Tidak, saya tidak merasa di repotkan. Kau boleh kembali bekerja saat Vina sudah besar. Dia masih terlalu kecil untuk kau tinggal." ucap Adelia lirih sambil membayangkan wajah Vina.


"Saya juga tidak bisa meninggalkan nona, saya sudah sayang dengan nona." jawab Eva pelan dengan wajah sedih.


Adelia hanya tersenyum menatap Eva, hatinya semakin senang saat Eva mengatakan hal itu.


"Kenapa kau berkata hal seperti itu Eva, aku akan semakin bersemangat untuk menyuruhmu menjaga Vina." sambung Adelia.


"Nona...." gumam Eva terharu.


" Aku akan membicarakan hal ini dengan Adrian." ucap Adelia sambil mengedipkan sebelah matanya.


Adelia dan Eva telah larut dalam percakapan itu, hingga tidak menyadari kehadiran Devan. Dengan membawa sebuah bungkusan yang berisi cake cokelat favorit Adelia dan beberapa cake varian rasa lainnya.


"Apa aku terlalu lama?" ucap Devan yang tiba-tiba muncul di hadapan Adelia dan Eva.


"Tidak, apa cake cokelat pesananku ada?" tanya Adelia antusias.


"Ada, aku membelikan dua cake cokelat untukmu Adelia." ucap Devan sambil mengeluarkan sebuah kotak dari dalam kantong plastik.


"Terima kasih Devan." ucap Adelia dengan raut wajah senang.


****


Jimy masih terus menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan Adelia. Beberapa ruang terapi ia periksa untuk mengecek keberadaan Adelia di dalamnya. Sudah lebih dari lima ruangan yang ia datangi, namun Adelia tidak kunjung di temukan.


"Dimana kini kau berada nona muda." gerutunya mulai bingung saat pencariannya tidak kunjung membuahkan hasil.


Dengan langkah berat, Jimy kembali ke kamar Adelia dengan raut wajah kecewa karena mendapatkan kamar yang masih belum berpenghuni.


"Semua akan berantakan, jika nona Adelia tidak kunjung di temukan" batinnya dengan gusar.


Namun, satu ide cemerlang muncul di kepalanya detik itu juga. Ia berniat menghubungi nomor Eva dan beberapa pengawal yang berjaga di depan kamar Adelia. Dengan penuh percaya diri akan memperoleh sebuah informasi, Jimy menghubungi nomor yang sangat tidak asing bagi dirinya.


"Eva, ayo angkat teleponnya." ucap Jimy sambil memandang sekeliling kamar.


Bukan hasil yang bagus, handphone Eva justru berbunyi di dalam kamar itu juga.


"Sial!" umpat Jimy frustasi.


Jimy masih tidak menyerah dan beralih menghubungi pengawal. Namun, masih dengan hal yang sia-sia. Nomor pengawal itu tidak bisa di hubungi saat ini. Dengan perasaan campur aduk, Jimy keluar dari kamar Adelia dan memilih menunggu kedatangan Adrian.


Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan Aldo tanpa memperdulikan satu pasien yang sedang di tangani oleh Dokter itu.


"Dimana Adelia?" tanya Adrian.


"Kau? Kenapa kau tiba-tiba saja masuk Adrian!" gumam Aldo sambil memandang ke arah pasien yang ada di hadapannya.


"Sebaiknya anda segera menebus obat yang sudah saya tulis nona, anda akan segera sembuh setelah meminum obat." jelas Aldo. " Tolong hantarkan nona ini keluar!" sambung Aldo memberi perintah pada perawat yang tengah berdiri.


Tatapan matanya kembali ia fokuskan pada Adrian yang masih berdiri tegap di depan meja kerjanya.


"Dimana dia? Kenapa kau membiarkan pasien yang belum sehat untuk keluar kamar!" ucap Adrian dengan tatapan menyalahkan Aldo.


"Dia hanya pergi ke taman bunga yang ada di bawah." ucap Aldo mulai bingung menjelaskan pada Adrian tentang sosok yang membawa Adelia pergi keluar.


"Kau ini! Kalau terjadi sesuatu padanya, kau adalah orang pertama yang aku minta pertanggung jawaban!" ucap Adrian sambil berbalik badan ingin keluar menemui Adelia.


"Adrian!" teriak Aldo untuk menghentikan langkah Adrian.


"Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu!" tanya Adrian kesal sambil membalikkan tubuhnya menghadap Aldo.


"Adelia pergi bersama Devan!" ucap Aldo pelan sambil tertunduk merasa bersalah.


"Devan!" tanpa banyak kata lagi, Adrian segera mempercepat langkah kakinya menuju ke taman bunga yang ada di lantai dasar.


Rasa marah dan kecewa sudah bercampur aduk di dalam hatinya. Adrian semakin memperkuat genggaman tangannya saat ia melihat pemandangan yang kini ada di hadapannya. Terlihat Devan yang memberikan sesuatu pada Adelia. Dan Adelia menerima dengan senyum indah yang ia miliki. Raut wajah bahagia Adelia memang sangat jelas terlihat di sana. Hingga dada Adrian terasa sakit, dan mulai ingin untuk berontak.


"Adelia!" teriak Adrian dari kejauhan.


Tatapan mata ketiganya kini teralihkan pada pria yang berdiri tegap tidak jauh dari posisi mereka. Wajahnya sudah di penuhi dengan amarah.


"Adrian!" gumam Adelia pelan, tubuhnya sudah gemetar menyambut kedatangan Adrian yang melangkah cepat ke arah dirinya.


"Maaf!" ucap Adelia cepat sebelum Adrian sempat meluapkan amarah yang ia miliki.


Namun apa yang ada di pikiran Adelia saat ini sangat jauh dari apa yang Adrian lakukan. Dengan cepat Adrian mengangkat tubuh Adelia ke dalam gendongan dan melangkah pergi membawanya kembali ke kamar. Cake cokelat yang ada di pangkuan Adelia jatuh berserakan di tanah.


Eva dan Devan hanya bisa diam tanpa berani mengeluarkan kalimat pembelaan. Saat ini tidak akan menang jika mengeluarkan kalimat apapun di hadapan Adrian.


Dengan cepat Eva dan beberapa pengawal mengikuti langkah Adrian dari belakang dan meninggalkan Devan di taman seorang diri.


Tatapan Adrian saat ini memang tidak terbaca lagi. Adelia hanya melirik sebentar wajah Adrian tanpa berani mengeluarkan satu patah katapun. Adelia lebih memilih diam dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Adrian saat ini. Kedua tangan Adelia yang sudah melingkar di leher Adrian semakin ia perkuat.


Adelia masih merasa takut, jika tiba-tiba Adrian akan menjatuhkan dirinya dari gendongan itu karena marah.


Di depan pintu kamar Adelia, terlihat Jimy yang sudah berdiri tegap. Napasnya kembali lega saat ia melihat kehadiran Adrian dengan membawa Adelia. Jimy kembali memusatkan perhatiannya pada beberapa pengawal dan Eva yang melangkah cepat mengikuti Adrian. Rasa curiga tiba-tiba saja muncul di kepala Jimy.


"Darimana nona Adelia, kenapa wajah Tuan Adrian.." ucapannya terhenti saat Adrian sudah berada di hadapannya.


Dengan cepat Jimy membuka pintu kamar untuk memberi jalan kepada Adrian agar segera masuk ke dalam.


"Biarkan kami berdua di dalam." perintah Adrian dengan tegas.


Eva dan beberapa pengawal hanya bisa menghentikan langkah mereka dengan tiba-tiba dan tertunduk diam penuh rasa bersalah.


"Apa yang terjadi?" tanya Jimy yang masih bingung dengan keadaan saat ini.


"Maafkan kami tuan, kami sudah mengijinkan nona Adelia keluar kamar tanpa ijin dari anda!" ucap salah satu pengawal dengan nada takut.


"Apa hanya itu yang terjadi?" tanya Jimy lagi yang masih tidak percaya dengan pernyataan pengawal itu.


"Nona Adelia, pergi bersama." ucapan pengawal itu terhenti, hatinya di penuhi rasa takut yang amat dalam saat harus berkata jujur di depan Jimy.


"Dengan siapa? Katakan!" bentak Jimy.


"Tuan Devan." sambung pengawal itu cepat.


Wajah Jimy berubah merah padam saat itu juga, napasnya sudah ia buang dengan kasar.


Plakk! Plakk!


Tamparan bertubi-tubi dilayangkan Jimy ke wajah beberapa pengawal yang berbaris di depannya.


"Kenapa kalian bisa seceroboh ini hah?" teriak Jimy yang masih di penuhi dengan amarah.


Eva yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa tertunduk diam penuh rasa bersalah. Penyesalan demi penyesalan terus memenuhi isi kepalanya. Ia tidak lagi berani mendongakkan kepala menatap wajah Jimy yang sudah berubah menjadi monster yang mengerikan.


Di dalam kamar, Adrian meletakkan Adelia di atas tempat tidur dengan begitu hati-hati. Tanpa banyak kata, Adrian duduk di sebuah kursi dengan posisi menghadap Adelia. Dengan tatapan yang sudah di penuhi amarah yang besar, Adrian menatap Adelia menagih sebuah penjelasan.


Adelia hanya tertunduk diam penuh rasa bersalah, menggenggam erat sprei dan mempersiapkan dirinya untuk menerima satu hukuman yang akan segera di berikan kepada dirinya.


"Apa aku akan koma lagi!" gumam Adelia dalam hati saat bayangan-bayangan buruh amarah Adrian mulai terlintas di kepalanya.


"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku Adelia?" ucap Adrian pelan, masih dengan tatapan mata yang tajam.


"Maaf!" ucap Adelia singkat. Matanya sudah mulai terasa perih, namun sekuat tenaga ia cegah agar buliran air mata itu tidak sempat untuk menetes membasahi pipinya.


"Maaf kau bilang? Untuk apa?" tanya Adrian lagi.


Pertanyaan yang di ucapkan Adrian semakin menyudutkan posisi Adelia saat ini, bibirnya tidak bisa untuk membela diri. Kesalahannya kali ini memang sudah tidak lagi termaafkan bagi Adrian. Hanya menunduk semakin dalam tanpa berani memandang wajah Adrian.


Adrian membuang napasnya secara kasar, untuk meredam emosi yang saat ini melanda dirinya. Kepala ia sandarkan di kursi dan memejamkan mata sejenak untuk memberi ketenangan pada pikirannya saat ini.


"Maafkan aku Adrian." batin Adelia sambil melirik sebentar ke arah Adrian dan kembali menundukkan kepalanya.


Masih dalam keadaan diam, kini ruangan menjadi terasa sangat sepi. Hanya ada suara jarum jam yang terdengar di setiap detiknya. Adelia masih tertunduk diam dalam rasa bersalahnya. Permintaan maaf sudah tidak lagi mampu ia bentuk di dalam pikirannya.


Matanya sudah terasa perih sejak tadi, gumpalan air mata juga sudah memenuhi bola matanya. Adelia semakin memperkuat genggaman tangan pada sprei yang melapisi tempat tidurnya saat ini.


Perlahan Adrian mulai membuka kedua matanya, hatinya masih di penuhi perasaan yang teramat sakit.


Kedekatan Adelia dan Devan membuat sebuah irisan yang menjadikan hatinya terluka dan terasa perih. Adrian mulai mengatur hembusan nafas menjadi normal kembali.


"Kenapa harus dia Adelia?" tatapan mata Adrian kembali tajam memandang Adelia.


"Maafkan aku Adrian." ucap Adelia lirih dan mulai memberanikan diri menatap wajah Adrian.


"Kenapa kau hanya bisa mengatakan hal itu? Jelaskan padaku Adelia! Kenapa harus dia pria yang kau pilih untuk dekat denganmu?" ucap Adrian yang masih menahan amarahnya.


"Aku hanya ingin berteman dengan Devan, tidak lebih dari itu!" jawab Adelia mencoba menjelaskan keadaan sebenarnya.


"Aku tidak ingin melihatmu bertemu dengannya lagi Adelia! Dengan alasan apapun itu, aku tidak akan mengijinkanmu!" perintah Adrian dengan tegas dan tidak bisa untuk di tawar lagi.


Adelia kembali membisu, buliran air mata yang sejak tadi ia tahan sudah mulai jatuh membasahi pipinya. Tangis Adelia pecah, ia tidak bisa mengatur napasnya dengan normal lagi.


"Kenapa kau menangis Adelia? Apa kau sedih karena tidak lagi bisa bertemu lagi dengan Devan lagi?" batin Adrian yang masih menatap wajah Adelia dengan kecewa.


"Maafkan aku Adrian, aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Adelia dengan lirih.


Semua kalimat yang sejak tadi ingin ia katakan hanya tertahan di bibir, Adrian tidak mengucapkan satu katapun untuk melampiaskan emosinya saat ini. Wajah sedih Adelia mengunci hatinya untuk tidak lagi menyakiti Adelia.


Tatapan amarah Adrian perlahan mulai hilang, air mata Adelia kembali meluluhkan hatinya. Adrian menggenggam tangan dengan erat dan membuang tatapan mata dari Adelia. Hatinya di penuhi rasa tidak tega saat melihat Adelia menangis.


Adrian beranjak dari duduknya, masih berdiri tegap tanpa ingin memulai langkah kakinya. Perlahan Adelia mendongakkan kepala untuk memandang wajah Adrian yang masih berdiri mematung menghadap ke tubuhnya.


"Adrian..." gumam Adelia lirih.


Adrian menarik tubuh Adelia untuk mendekat dan masuk ke dalam pelukannya. Perlahan Adrian mulai mencengkram dagu Adelia dan mulai mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman itu kini menjadi bentuk pelampiasan amarahnya pada Adelia.


Mata Adelia yang terbelalak kaget kini kembali terpejam, tangannya mulai dilingkarkan pada leher Adrian. Entah berapa lama ciuman itu berlangsung, kini keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.


"Aku akan kembali menemuimu nanti malam." ucap Adrian singkat dan melepaskan pelukannya dari tubuh Adelia.


Adelia hanya menganggukkan kepala pelan, pandangan matanya mulai mengikuti langkah Adrian yang berjalan pergi meninggalkan dirinya. Perlahan Adelia memberanikan diri untuk menyentuh bibirnya. Senyuman indah terukir di wajah Adelia, detak jantung yang sejak tadi berdetak cepat kini sudah kembali normal.


"Dia baru saja menciumku?" ucap Adelia pelan dirinya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Di depan kamar, terlihat Jimy dan beberapa pengawal sudah berdiri tegap. Keluarnya Adrian dari dalam kamar justru membuat semua orang menjadi semakin khawatir dengan keadaan Adelia di dalam. Semua tertunduk hormat menyambut kedatangan Adrian.


Adrian hanya menatap sebentar, sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan langkah kakinya. Meskipun tidak mengeluarkan kalimat perintah, dengan cepat Jimy mengikuti langkah kaki Adrian dari belakang.


Eva yang sejak tadi ingin segera menerobos masuk untuk menemui Adelia, kini sudah berlari cepat masuk ke dalam kamar. Nafasnya terlihat lega ketika melihat Adelia tidak terluka sedikitpun.


"Apa nona baik-baik saja?" ucap Eva sambil berlari kecil mendekati ranjang Adelia.


"Aku baik-baik saja Eva." jawab Adelia sambil mengusap air mata di pipinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa nona Adelia seperti habis menangis?" tanya Eva dalam hati.


"Apa Adrian sudah pergi?" tanya Adelia pelan.


"Sudah, Tuan Adrian sudah pergi bersama Tuan Jimy." jawab Eva pelan yang masih menyimpan raut wajah khawatir terhadap Adelia.


Keduanya kembali larut dalam pikiran mereka masing-masing. Eva masih belum memiliki keberanian untuk bertanya pada Adelia tentang apa yang baru saja terjadi di dalam kamar. Sedangkan Adelia larut dalam lamunannya mengingat kejadian yang baru pertama kali ia rasakan menurut ingatannya.


Maafkan aku Adrian, karena sudah sering membuatmu kecewa. batin Adelia dalam hati.


Tok....Tok..


Suara ketukan pintu kembali mengalihkan pandangan keduanya.


"Selamat siang nona Adelia, apa kau baik-baik saja?" tanya Aldo yang memang sejak tadi sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Adelia.


"Saya baik Dok."


*****