I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 32



Happy reading 🤗


Adelia masih saja terus berlari tanpa arah tujuan, didalam pikirannya dipenuhi dengan keadaan Eva yang masih berada di taman.


Adelia sudah berlari sangat jauh menjauhi taman, berharap orang jahat itu tidak mengejarnya. Adelia saat ini teringat dengan Alex dengan segera ia menghubunginya.


Ah iya aku baru ingat bahwa aku bisa meminta bantuan pada Alex, kenapa baru terpikirkan sekarang !


Gerutu Adelia dalam hati.


Adelia berhenti sejenak dan mulai membuka isi tasnya, dan mengambil ponsel. Satu-satunya nomor yang ia cari adalah nomor Alex. Saat itu Alex memberikan nomor teleponnya ketika menemani Adelia berjalan-jalan ke mall.


Dengan cepat Adelia menghubungi Alex. Namun Alex tidak kunjung mengangkat panggilan tersebut.


Adelia sungguh sangat kesal karena dalam keadaan genting seperti ini Alex tidak mengangkat panggilan darinya.


"kenapa dia tidak mengangkatnya" ucap Adelia panik.


"Aku akan mencoba sekali lagi"


Adelia kembali menghubungi Alex berharap kali ini dia mengangkat panggilan tersebut.


*****


Di perusahaan, Alex terlihat sibuk menyiapkan beberapa berkas untuk di bawa ke salah satu cabang perusahaan yang akan ia kunjungi.


Handphone yang berada di dalam saku celananya berdering menandakan ada panggilan masuk.


Alex mengambil ponselnya dan melihat siapa yang saat ini menelepon dirinya.


"Nona Adelia, kenapa ia menelepon kemari? ucap Alex mengerutkan keningnya.


Alex dengan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Selamat siang Nona, ada yang bisa saya ...." belum siap memberi salam kepada Adelia.


"Alex tolong aku, ada seorang penembak yang mengincarku di taman, dan Eva masih berada di taman itu aku takut terjadi sesuatu dengannya," ucap Adelia diseberang sana dengan panik.


" Sekarang Nona ada di mana?" ucap Alex mulai cemas.


"Aku.... aku tidak tahu dimana sekarang, yang pasti saat ini aku sedang berlari mencari bantuan. Cepatlah tolong aku Alex," ucap Adelia.


"Baik, Nona tetap disana. Saya akan segera ke sana menolong Nona," ucap Alex, mengakhiri panggilan tersebut.


Alex dengan segera berlari kencang menuju ruangan Adrian. Disana terlihat Adrian dan Jimy sedang sibuk membicarakan masalah perusahaan.


"Tuan, Nona Adelia...."ucap Alex dengan wajah panik.


"hei, kenapa kau seperti itu. Ada apa dengannya. Aku sudah pernah bilang untuk jangan memberitahu, apa yang sedang terjadi padanya. Masih banyak pekerjaan yang masih belum aku selesaikan!" ucap Adrian acuh sambil terus memperhatikan layar laptopnya.


"Nona sedang dalam bahaya Tuan, ada seseorang yang ingin mencelakai Nona," ucap Alex tanpa memperdulikan perkataan Adrian.


Adrian dan Jimy mengalihkan pandangannya setelah mendengar penjelasan Alex dan mulai mengkhawatirkan keadaan Adelia.


"Sekarang Adelia ada dimana?" ucap Adrian mulai panik dan berdiri dari tempat duduknya.


"Nona sekarang tidak tau ada dimana, dia sedang bersembunyi dari orang yang ingin mencelakai Nona. Tapi sepertinya Nona masih berada tidak jauh dari taman bunga, Tuan," jelas Alex.


"Kita ke sana sekarang," Adrian melangkah cepat untuk keluar dari ruangannya.


"Tuan, saya sudah menyuruh orang untuk mencari Nona. Mereka menemukan pengawal kita, dalam keadaan tidak bernyawa dengan luka tembak mengenai kepalanya. Dan untuk Eva sekarang masih kritis," ucap Jimy yang telah mendapatkan kabar terbaru dari anak buah yang telah ia perintahkan.


Adrian mendengar laporan Jimy kini mulai khawatir dengan kondisi Adelia. pikirannya kini berkecamuk berharap tidak terjadi apa-apa dengan Adelia.


"Apa mereka sudah menemukan Adelia?' tanya Adrian dengan khawatir.


"Belum Tuan, saya rasa Nona Adelia bersembunyi di suatu tempat," ucap Jimy.


Semoga Nona Adelia baik-baik saja.


Hanya itu yang mereka harapkan untuk saat ini yaitu keselamatan Adelia.


Alex terus menambah kecepatan mobil yang mereka tumpangi.


Adrian merasa khawatir, saat mendengar satu pengawal yang seharusnya menjaga Adelia kini telah tewas. Tidak pernah ada di dalam pikirannya, kalau Adelia akan dalam bahaya seperti saat ini. Meskipun sudah sejak lama, Adrian menyiapkan banyak pengawal untuk melindungi keluarganya. Namun, para pengawal itu tidak pernah mendapatkan tugas, untuk bertempur melawan siapapun.


***


Di salah satu toko, yang menjual beberapa makanan ringan. Yang berada di dalamnya. Adelia bersembunyi di dalam toko itu dan menyamar sebagai pembeli.


"Beli air mineral satu," ucap Adelia kepada penjual.


"Ini mbak, harganya 5000," ucap penjual.


Adelia dengan segera membayarnya dan dia duduk di sebuah kursi yang disediakan di dalam toko tersebut.


Adelia masih memikirkan keadaan Eva.


Aku yang membawanya, dan sampai sekarang aku masih belum mengetahui keadaannya. Aku sama sekali tidak takut dengan penembak itu, yang aku takutkan adalah keadaan Eva, dia punya anak yang masih kecil.


Air mata Adelia mulai menetes membasahi kedua pipinya. Ia sungguh merasa bersalah kepada Eva karena ia meninggalkannya di taman itu.


Para pengawal yang dikerahkan Jimy, mulai bertebaran dimana-mana. Mereka mulai mencari keberadaan Adelia saat ini.


Adelia hanya duduk diam di sebuah kursi dan menangis memikirkan keadaan Eva.


Pemilik toko itu sangat bingung saat melihat ke arah luar, ada banyak pengawal yang berada di depan tokonya.


Salah seorang pengawal masuk ke dalam toko, yang dijadikan oleh Adelia tempat persembunyian. Pengawal itu melihat keberadaan Adelia di sana, yang duduk sendirian dengan tatapan kosong.


"Tuan, kami sudah menemukan Nona muda," ucap pria itu yang sedang melakukan telepon.


Dengan penuh hati-hati, pengawal itu mengawasi Adelia dari jarak yang tidak terlalu jauh. Tidak ada yang mencurigakan di toko itu. Toko itu hanya menjual beberapa makanan ringan yang sedang memiliki banyak pelanggan itu.


Rata-rata penduduk kota, hanya mengenali wajah Tuan Agung dan Nyonya Wina. Adrian yang baru saja meneruskan bisnis sang ayah, juga masih jarang muncul di media. Hanya beberapa petinggi perusahaan yang pernah bertatap muka secara langsung dengan Adrian. Sementara untuk beberapa orang kelas menengah ke bawah, sangat sulit mengetahui wajah dari pewaris tunggal keluarga Wijaya.


Sementara itu, Adrian dan beberapa pengawal sudah tiba di sebuah toko yang telah diberitahukan sebelumnya. Seorang pengawal telah menyambutnya di sana.


"Dimana dia?" tanya Adrian singkat.


"Nona muda ada di dalam Tuan, mari saya antar," ucap pengawal sambil melangkah masuk ke dalam toko.


Adrian mengikuti langkah pengawal dan diikuti Jimy dan Alex di belakangnya.


Semua orang yang ada di dalam toko terlihat bingung. Melihat pengawal masuk ke sebuah toko sederhana seperti itu. Hal itu juga penuh tanda tanya, dengan pemilik toko yang langsung berjalan mendekati Adrian dan rombongan. Belum sempat mengeluarkan satu katapun untuk bertanya, pandangan tajam Jimy sudah membuat pemilik toko itu lebih memilih menyaksikan apa yang akan terjadi.