I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 35



Bayi yang berada di gendongan Adelia tampak diam, dan tidak merasa takut kepada orang asing. Melainkan bayi itu terlihat senang berada di pelukan Adelia.


"Apa Vina selalu bersama anda setiap hari?'' ucap Adelia memecah keheningan.


"Iya Nona, kebetulan saya saudara mbak Eva satu-satunya,"


"Jadi kamu adiknya Eva? Lalu kemana suaminya Eva sekarang, apa dia sedang bekerja," tanya Adelia.


"Suami mbak Eva pergi meninggalkannya,"


"Pergi? kemana perginya? ucap Adelia bingung.


"Saya sendiri tidak tahu Nona, sampai sekarang tidak pulang ke rumah,"


Adelia menganggukkan kepala tanda mengerti. "Maaf nama kamu siapa? Kelihatannya kamu seumuran denganku," tanya Adelia dengan tersenyum.


"Nama saya Evi Nona," jawab Evi sambil tersenyum ramah.


"Nama saya Adelia, senang bisa bertemu denganmu," ucap Adelia sambil memandang wajah manis Evi.


Evi hanya mengangguk diiringi dengan senyuman. " Mbak Eva sangat senang bisa bekerja di rumah utama keluarga Kusuma Nona, dia sampai rela berpisah dengan Vina. Karena gaji yang ditawarkan saat ia bekerja di rumah itu, bisa menghidupi kehidupan kami dengan layak," ucap Evi meneteskan air matanya.


Eva kamu sampai rela berpisah dengan Vina demi pekerjaan, dan aku sudah hampir membuat Vina kehilangan ibu yang ia sayangi.


Adelia terdiam dan kembali di penuhi rasa bersalah. Hingga ia tidak kuasa menahan air matanya yang ingin tumpah. Adelia segera memberikan bayi itu kepada Evi.


Adrian dan Jimy hanya bisa diam, mendengarkan semua perbincangan antara Adelia dan Evi. Tanpa mau mengusik perbincangan antara keduanya.


"Jimy apa Pak Udin langsung yang membawa Eva untuk bekerja? Atau Pak Udin menyuruh orang untuk mencari pelayan pribadi buat Adelia," tanya Adrian yang duduk di sebuah sofa yang berada di sudut kamar rumah sakit.


"Pak Udin langsung yang membawanya ke rumah, Tuan." jawab Jimy.


"Apa ia tahu, kalau Eva sudah memiliki suami dan anak?" tanya Adrian penasaran.


"Pak Udin sudah mengetahuinya, dan tujuannya mungkin hanya ingin membantu perekonomian Eva."


"Tapi apa kau ingat Jimy, bahwa semua yang bekerja di rumah utama tidak bisa keluar masuk rumah. Dan selama ini Eva selalu menginap di rumah utama, kenapa dia tidak memikirkan anak itu," ucap Adrian sambil memandang wajah polos yang dimiliki Vina.


"Mungkin Pak Udin hanya ingin menolong Eva, Tuan," ucap Jimy yang juga memandang Vina yang ada di pelukan Evi.


Adelia terus saja memandang ke arah Eva yang masih belum sadarkan diri. Ia berharap agar Eva segera membuka kedua matanya.


Eva mulai memberikan reaksi positif, jari-jarinya mulai bergerak. Kedua kelopak matanya mulai terbuka. Dengan perlahan ia mulai membuka matanya, dengan pandangan yang masih belum begitu jelas. Eva nasih berusaha menguasai keadaan sekitarnya.


Adelia melihat Eva yang sudah membuka mata dengan segera berdiri di sisi ranjang tempat Eva dirawat. Adelia sangat senang karena Eva sudah kembali sadar. Tidak seperti tadi yang hanya memejamkan mata. Yang dilihatnya kini adalah kenyataan.


"Eva...." ucap Adelia lirih.


"Nona, apa Nona baik-baik saja," ucap Eva dengan nada bicaranya yang masih lemah.


Tidak berselang lama Dokter dan 2 orang perawat sudah ada di ruangan Eva.


"Permisi Nona, ijinkan saya memeriksa kondisi pasien," ucap seorang dokter. Adelia memberi ruang untuk Dokter memeriksa keadaan Eva, tangan sang Dokter terlihat memeriksa beberapa bagian tubuh Eva, untuk memastikan keadaannya.


"Bagaimana Dokter, apa dia baik-baik saja?" tanya Adelia dengan raut wajah khawatir.


"Semua baik-baik saja Nona, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebaiknya jangan biarkan dia banyak bergerak Nona. Karena luka tembakan itu masih belum terlalu kering. Saya permisi dulu, Nona," jelas Dokter dan berlalu pergi diikuti perawat meninggalkan Adelia dan yang lainnya di dalam ruangan.


"Maafkan saya Eva, jika bukan karena saya ingin pergi ke taman, pasti ini tidak akan pernah terjadi," ucap Adelia sedih.


Apa-apaan dia, dia masih saja menyalahkan dirinya, padahal jelas-jelas dia tidak bersalah.


Adrian terus memandang Adelia dari sofa.


"Tidak Nona, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Nona. Karena saya tidak bisa menjaga Nona dengan baik," ucap Eva lirih.


"Tidak, ini bukan salahmu sama sekali. Apa kau tidak merindukan putri kecilmu?" tanya Adelia.


"Vina," ucap Eva saat matanya tertuju pada putri semata wayangnya.


"Dia sangat merindukanmu mbak," ucap Evi memberikan Vina kepada Eva.


" Ibu juga sangat merindukanmu sayang," ucap Eva sambil memeluk dan mencium Vina, air mata mulai menetes membasahi pipinya. Rasa rindu yang selama ini ia simpan, kini sudah terbayarkan saat ia bisa memeluk sang putri kembali.


Adelia memandang ke arah Ibu dan anak itu dengan haru. Ia ikut meneteskan air matanya menyaksikan hal itu di depannya. Melihat Vina kecil Adelia jadi teringat masa kecilnya, saat dia merindukan sosok ibunya. Tetapi Ayahnya selalu mengatakan bahwa ibunya sudah berada di surga.


Walau Adelia dalam keadaan hilang ingatan, tetapi semua yang di ceritakan oleh sang Ayah, masih terekem jelas di dalam ingatannya. Cerita yang begitu sangat menyakitkan baginya.


"Tuan, hari sudah malam kita harus segera kembali pulang," ucap Jimy memecah keheningan di dalam kamar itu.


"Iya Nona, sebaiknya anda segera pulang. Mbak Eva biar saya yang menjaganya di sini. Saya adalah saudaranya tidak mungkin saya tega meninggalkan dia sendiri disini." ucap Evi.


"Baiklah terima kasih Evi, dan kau harus cepat sembuh Vina sangat membutuhkanmu Eva,"


"Saya pasti akan segera sembuh, Nona jangan terlalu mengkhawatirkan keadaan saya," ucap Eva.


"Kalau begitu saya pamit pulang. Hai Vina tante pulang dulu ya, nanti kita akan berjumpa lagi," Adelia mendapatkan satu kecupan di kening Vina.


Adelia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Eva diikuti Adrian dan Jimy dari belakang. Memang sudah menjadi sifat Adrian, dia hanya diam tanpa kata. Mandang dan memperhatikan yang terjadi disekitarnya. Tanpa mau ikut campur lebih dalam.


Eva bukanlah orang penting dan perlu dikhawatirkan baginya. Langkah kaki yang membuat dirinya kini berada di dalam ruangan tempat Eva di rawat itu hanya karena Adelia. Adrian tidak ingin Adelia bertanya-tanya tentang keadaan Eva. Dia sungguh tidak tega melihat Adelia selalu merenung merasa bersalah memikirkan keadaan Eva.


"Terimakasih sudah menemaniku menjenguk Eva," ucap Adelia saat berada di dalam mobil.


"Hemm..." Hanya itu tanggapan yang diberikan oleh Adrian tanpa semangat.