I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 27



Masih di dalam kamar Adelia


Adrian berpikir sejenak. Ia kembali mengingat, perlakuannya selama ini terhadap Adelia mungkinkah itu sangat keterlaluan.


"Saya sudah membuat resep obat, Tuan.


Tolong usahakan jangan berikan tekanan yang memberatkan pikirannya. Saya permisi dulu,'' ucap sang Dokter sambil melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Diikuti oleh Pak Udin dari belakang.


Adrian hanya bisa diam tanpa merespon ucapan Dokter. Ia sedang larut dalam pikirannya sendiri saat ini. Ia sangat merasa bersalah terhadap Adelia. Andai ia tadi tidak memaksa Adelia untuk menembak, maka dia tidak akan mengalami tekanan seperti ini.


"Kalian bisa keluar, tinggalkan aku sendiri" ucap Adrian singkat.


"Baik, Tuan," ucap Jimy dan Alex bersamaan.


Kini keduanya meninggalkan Adelia dan Adrian, berdua di kamar.


Di depan kamar, Jimy dan Alex hanya bisa saling pandang dengan isi pikiran yang sama. Mereka tidak ingin membuat satu kesimpulan dengan cepat, Jimy dan Alex memilih untuk kembali melanjutkan pelatihan yang sempat terhenti saat Adrian ingin menghukum Adelia.


Di dalam kamar, pandangan Adrian terus saja ia tujukan kepada Adelia, yang masih betah memejamkan mata. Perasaan bersalah kini tiba-tiba muncul di kepalanya. Hingga tanpa dia sadari, tangannya kini telah menyentuh pipi Adelia.


"Maafkan aku Adel! aku seharusnya tidak menyalahkanmu atas terjadinya pernikahan ini." Adrian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pikirannya sedang kacau atas kejadian yang hari ini menimpa Adelia.


Apakah saat dia pingsan di taman dulu juga sama seperti ini? dan sangat untuk membuka matanya!


Adrian bertanya-tanya di dalam hatinya.


Hari yang cerah sudah berubah menjadi gelap. Malam pun kembali tiba, sejak sore tadi Adelia belum juga sadar.


Adrian sungguh mencemaskan keadaan Adelia saat ini. Ia kembali merasa bersalah kepada Adelia.


Kabar Adelia pingsan juga sudah sampai ke telinga Nyonya Wina. Rasa khawatir tiba-tiba muncul, Nyonya Wina memutuskan kembali ke rumah utama untuk memeriksa keadaan Adelia. Tibanya Nyonya Wina di rumah utama. Tempat yang paling pertama ia datangi adalah kamar Adrian dan menantu kesayangannya.


Tiba di depan kamar Adrian, Nyonya Wina segera berlari mendekat ke arah tempat tidur.


"Apa yang terjadi padanya Adrian? tanya Nyonya Wina.


Adrian memandang wajah Nyonya Wina.


''Mama, kapan Mama tiba dirumah?" ucap Arian tidak percaya.


"Mama sangat mengkhawatirkan Adelia. Apa dia baik-baik saja?" tanya Nyonya Wina.


"Adelia baik-baik saja, kata Dokter dia akan segera sadar." jelas Adrian.


"Benarkah? Apa hanya itu yang dikatakan oleh Dokter?" tanya Nyonya Wina penasaran.


"Iya ma, Adelia hanya kelelahan, sehingga ia jatuh pingsan," ucap Adrian.


Aku tidak mungkin memberi tahu Mama, kalau Adelia pingsan karena tekanan yang aku berikan selama ini dan dia terbebani di dalam pikirannya.


Sedangkan Nyonya Wina kini mulai khawatir terbongkarnya amnesia Adelia.


Mendengar suara gaduh, akhirnya Adelia mulai membuka matanya perlahan, namun kepalanya masih terasa sakit. Sambil memegang kepalanya yang sakit, Adelia mencoba untuk bangun dari tidurnya.


"Adelia kau sudah bangun sayang, apa yang saat ini kau rasakan? ucap Nyonya Wina dan membantu Adelia untuk duduk bersandar.


Akhirnya, dia sadar juga. Semoga dia tidak menceritakan kejadian tadi kepada Mama.


Adrian menarik napas dengan perasaan lega.


"Kenapa bisa sampai seperti ini Adelia? Ini ke dua kalinya kau pingsan bukan," ucap Nyonya Wina dengan wajah penuh rasa khawatir.


" Aku....." Adelia memandang ke arah Adrian sejenak dan dia terlihat tidak suka jika ia menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Nyonya Wina.


"Adelia, sebaiknya kau jangan terlalu kelelahan dan kau harus selalu menjaga kesehatan. Mama sangat khawatir kepadamu." ucap Nyonya Wina


"Iya, Ma," jawab Adelia sambil tersenyum.


"Mama akan segera pulang jika semua urusan telah usai," ucap Nyonya Wina.


"Iya, Mama juga jaga kesehatan disana dan cepatlah pulang." ucap Adelia lirih.


Nyonya Wina hanya mengangguk.


"Adrian, Mama harus kembali menyusul Papa.


Di perusahaan yang saat ini ditangani Papa, memiliki masalah yang besar. Jadi Mama berharap, kau bisa menjaga istrimu dengan baik,'' pinta Nyonya Wina kepada Adrian sebelum memeluk Adelia,'' Mama sangat menyayangimu Adelia." tambah Nyonya Wina.


"Mama tidak perlu khawatir, Adrian akan menjaga Adelia," ucap Adrian sambil memandang ke arah Adelia.


Hatiku merasa sangat nyaman dan tenang setiap kali Mama memeluk tubuhku seperti ini. Jadi beginilah rasanya pelukan hangat seorang Ibu.


Adelia tersenyum manis dan melepas pelukan Nyonya Wina.


Nyonya Wina beranjak dari duduknya dan pergi melangkahkan kakinya keluar kamar. Sebelum menutup kembali pintu kamar, Nyonya Wina kembali memandang Adelia dengan penuh kekhawatiran.


Apa yang terjadi jika suatu haru nanti ia kembali mengingat segalanya? Aku berharap semoga Adelia tetaplah menjadi Adelia yang sekarang.


Nyonya Wina kembali menutup pintu kamar.


Di dalam kamar, Adelia dan Adrian sibuk mengalihkan pandangan, rasa canggung mulai muncul di antara keduanya saat ini.


Adelia sungguh tidak berani membuka pembicaraan. Ia lebih memilih diam. Sedangkan Adrian yang masih merasa sangat bersalah juga memilih untuk diam.


Keheningan mereka berdua pecah, saat Pak Udin mengetuk pintu kamar.


"Masuk," ucap Adrian.


Pak Udin langsung segera masuk ke dalam kamar dan memberi salam hormat kepada Adrian dengan membungkukkan kepalanya.


" Makan malam sudah siap Tuan. Anda ingin saya membawa ke kamar atau di bawah saja? tanya Pak Udin.


"Apa Mama sudah pergi?'' tanya Adrian penasaran.


''Nyonya Wina sudah pergi, mengejar penerbangan malam ini, Tuan." jawab Pak Udin.


"Tolong siapkan makanan di kamar saja, Pak Udin. Tubuhku masih terasa lemas," ucap Adelia memotong pembicaraan antara keduanya.


Perutku sudah terasa sangat lapar sekali, ternyata aku terlalu lama tak sadarkan diri. Hingga kini hari sudah malam.


"Baik Nona. Apa Tuan ingin makan di kamar juga?" Pak Udin memandang ke arah Adrian.


"Tidak, aku akan makan di bawah saja," jawab Adrian singkat.


Mendengar perintah Adrian, Pak Udin langsung segera beranjak pergi meninggalkan Adelia dan Adrian di dalam kamar.


Pak Udin segera memerintahkan beberapa pelayan, untuk mempersiapkan makan malam di meja makan dan di kamar untuk Adelia.


Setelah Pak Udin keluar dari kamar, Adrian pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Adelia hanya bisa berdiam diri di atas tempat tidur. Ia sungguh merasakan badannya sangat lemas.


Rasa ingin mandi harus ia lupakan,karena tubuhnya saat ini masih lemas. Tiba-tiba Adelia kembali mengingat kejadian tadi sore, yang membuatnya jatuh pingsan.


Adelia kembali berpikir sejenak.


"Kenapa aku bisa menembak dengan begitu mudah?'' ucap Adelia pelan.