I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 54



"Adelia!" teriak Adrian dari kejauhan.


Dengan cepat, Adelia menghentikan langkah kakinya. Adelia memutar tubuhnya menghadap ke arah Adrian. Adelia melipat kedua tangannya, karena kesal dengan Adrian yang sok sibuk.


Kenapa dia memanggilku, apa dia marah denganku karena aku mulai berani melawannya akhir-akhir ini.


Adelia masih bertahan pada posisinya, ia tidak ingin melangkah sedikitpun.


"Adelia!" ulang Adrian dengan nada yang semakin tinggi.


Dengan langkah seribu, kini Adelia sudah berada tepat di hadapan Adrian.


"Ada apa, Adrian." jawab Adelia dengan gugup.


"Temani aku nanti sore untuk berkeliling di vila ini." ucapnya singkat, dan melangkah meninggalkan Adelia sendiri yang masih dalam posisi mematung.


"Apa aku sedang bermimpi, dia mau menerima tawaranku." ucap Adelia sambil menepuk kedua pipinya.


Sakit itulah yang Adelia rasakan, itu tandanya dirinya sedang tidak mengalami hal mimpi. Adelia sangat bahagia saat ini.


****


Di sisi lain, Kedatangan Nyonya Wina telah di sambut sosok pria berjas hitam yang di kelilingi beberapa pengawal. Dengan penuh hormat dan menundukkan tubuhnya menyambut kedatangan Nyonya Wina di sana.


"Aku tidak suka menerima kegagalan, lakukan tugasmu dengan cepat dan tanpa meninggalkan jejak." ucap Nyonya Wina.


"Baik, Nyonya. Saya akan segera melakukan penyerangan ke markas mafia itu."


"Satu hal lagi, aku tidak ingin Alex dan Jimy mengetahui hal ini, terutama Adrian." pinta Nyonya Wina.


"Tuan Alex dan Jimy sudah ada di pesawat untuk menuju vila, Nyonya."


"Bagus, ingat jangan tinggalkan jejak sedikitpun." ucap Nyonya Wina yang kembali mengingatkan pria itu.


Seorang pria yang menjadi kepercayaan Nyonya Wina dalam melaksanakan tugas rahasia. Pria yang namanya hanya diketahui oleh Nyonya Wina seorang. Pria yang tidak pernah gagal dalam semua tugas yang di perintahkan oleh Nyonya Wina. Dengan senyum bahagia, Nyonya Wina pergi meninggalkan pria itu sendirian di tempat itu.


Langkah kaki Nyonya Wina selalu diikuti beberapa pengawal yang bertugas menjaganya dari segala bahaya yang mungkin akan terjadi. Dengan kekayaan yang kini ia miliki, Nyonya Wina selalu membayar orang untuk menyelesaikan sebuah masalah yang akan mengancam keluarganya.


****


Di Vila.


Sebuah dres warna putih menjadi pilihan Adelia saat ini. Sebuah jas berwarna putih juga dikenakan oleh Adrian sore itu. Ini sebuah kebetulan tidak ada namanya janjian, pilihan warna Adrian dan Adelia sore itu memang sama. Penampilan keduanya sore ini benar-benar serasi.


Dengan senyuman manis yang menghiasi wajah Adrian disertai lesung pipi yang menambah kesempurnaan wajah tampan Adrian. Serta pipi chubby dengan rambut hitam lurus milik Adelia. Semua mata yang memandang pasti setuju jika mereka memang berjodoh.


Adrian sudah berdiri tegap di ambang pintu, menghadap ke arah perkebunan teh yang terbentang luas. Vila yang hanya memiliki lantai dasar itu, kini sudah terpancar sinar matahari yang begitu cerah. Embun yang tadinya membasahi daun-daun teh sudah hilang di serap.


Kenapa dia terlihat begitu tampan sekali sore ini. batin Adelia dalam hati.


Adelia melangkah mendekat menghampiri Adrian yang sudah menunggunya sejak tadi.


"Apa kau sudah siap?" tanya Adrian sambil memandang tajam ke arah Adelia.


"Adrian....." ucap Adelia pelan.


"Ada apa, Adelia?" tanya Adrian sambil mengerutkan keningnya.


"Terima kasih sudah mau menemaniku, Adrian." ucap Adelia.


"Kau tahu Adelia, semua ini ide Mama. Jadi katakan terima kasihmu padanya." ucap Adrian sambil memulai langkah kakinya menuju ke perkebunan teh yang sudah tidak di kunjungi para pekerja. Tatapan Adrian hanya ia alihkan ke sembarang arah, namun ada senyum bahagia tersirat di bibirnya.


Berjalan sore di dampingi sosok pria yang berstatus menjadi suaminya membuat Adelia merasa sangat bahagia. Meskipun beberapa pengawal masih berada di posisi masing-masing, untuk melindungi Adrian dan Adelia dari bahaya yang tidak diinginkan.