I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 40



Alana masih berada di ruangan Adrian, untuk membacakan seluruh agenda yang akan dilakukan Adrian hari ini. Semua pekerjaan Alex, diserahkan kepada Alana. Sehingga membuat Alana senang karena memiliki banyak waktu, untuk berada di dekat Adrian.


Alana merasa terganggu karena kedatangan Jimy ke ruangan Adrian, bahkan satu menit saja tidak membiarkan Alana untuk berduaan bersama Adrian.


Jimy sangat tahu betul, bahwa Alana mempunyai perasaan kepada Adrian. Maka dari itu Jimy selalu menjaga jarak diantara keduanya. Mengingat status Adrian sudah menikah dengan Adelia.


"Ada apa Jimy?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Saya ingin memberi kabar bahwa Nona Adelia, sudah pulang dari rumah sakit dengan selamat Tuan." ucap Jimy.


"Bagus, para pengawal hari ini bekerja dengan baik." ucap Adrian.


"Kalau begitu, saya permisi Tuan," ucap Jimy menunduk hormat, membalikkan tubuhnya segera keluar ruangan.


Aku tidak perlu melakukan apapun, untuk mengusirmu. Kau sudah pergi dengan sendirinya!


Alana berteriak kegirangan dalam hati, dan memancarkan wajah kemenangan saat Jimy sudah pergi.


"Tuan, nanti malam kita akan ada rapat dengan Mr. A. Rapat kali ini, kini akan membahas tentang hasil kerja sama kita yang sudah berjalan dengan lancar," ucap Alana mencoba menjelaskan kegiatan yang harus di hadiri Adrian.


"Di mana?" jawab Adrian singkat.


"Di restoran yang letaknya tidak jauh dari gedung ini, Tuan."


"Atur semuanya, Alana. Satu lagi, tolong tinggalkan saya sendiri," ucap Adrian ketus.


"Baik, Tuan." Dengan wajah tidak senang, Alana segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Adrian.


Apa ada yang salah dengan penampilanku Adrian! sehingga kau tidak mau dekat-dekat denganku. Bahkan memandang wajahku saja kau tidak mau. Setidaknya hargailah perasaanku sedikit saja Adrian!


Gerutu Alana dalam hati.


Sejak pernikahannya dengan Adelia, Adrian selalu meminta Alana untuk menjaga jarak dengannya. Bahkan Adrian meminta Alana untuk tidak memanggil namanya saat di luar jam kerja. Adrian meminta Alana untuk menghargai dirinya sebagai seorang atasan. Dengan berat hati, sejak permintaan Adrian waktu itu, Alana mulai membiasakan diri untuk memanggil Adrian dengan sebutan Tuan.


"Lagi-lagi aku gagal untuk merayunya, seharusnya ini adalah kesempatan bagiku. Tapi aku tidak berhasil," Alana melangkah pergi dengan hati yang kesal.


Di ruangannya, Adrian tidak lagi fokus untuk menyelesaikan tugasnya. Pikirannya kini hanya dipenuhi dengan nama Adelia.


"Sial, kenapa aku selalu saja memikirkannya," ucapnya pelan.


Adrian menjambak rambutnya dengan kasar berharap, nama Adelia segera enyah dari dalam pikirannya.


****


Langit yang tadinya cerah kini mulai gelap, malam kini telah menyelimuti kota. Cahaya matahari sudah berganti, dengan sorot lampu yang bersinar menerangi malam.


Adelia berdiam diri di dalam kamar apartemen. Sementara Adrian menghadiri rapat yang penting malam ini. Pandangan Adelia hanya ia alihkan di luar jendela.


Beberapa saat lalu, Jimy menjemputnya. Tanpa memberi tahu arah tujuannya. Adelia hanya diam mengikuti perintah Jimy.


1 jam yang lalu......


"Tuan Adrian meminta anda untuk menunggunya di sini, Nona," ucap Jimy santai.


"Ngapain kesini?" tanya Adelia saat tahu dirinya sudah tiba di sebuah apartemen.


"Maaf, Nona sebaiknya anda ikuti saya untuk masuk ke dalam.


Rasa lelah yang kini ia rasakan, membuat Adelia ingin segera istirahat. Tetapi apalah daya dirinya, tidak bisa menolak semua aturan yang sudah ada. Mengikuti perintah Adrian adalah aturan yang saat ini harus dipatuhi.


Gerutu Adelia dalam hati.


Adelia terus mengikuti langkah Jimy. menaiki lift, hingga berjalan menulusuri lorong yang sunyi. Dan disinilah Adelia sekarang berada.


"Tuan Adrian ada rapat dengan tamu penting, Nona. Sebaiknya anda masuk ke dalam, dan membersihkan diri anda. Semua perlengkapan yang anda butuhkan sudah disiapkan." Jimy menghentikan langkahnya di salah satu pintu yang ada di lorong itu.


"Baiklah," jawab Adelia malas.


"Anda bisa menghubungi saya, jika memerlukan sesuatu, Nona." Jimy membungkukkan tubuhnya dan meninggalkan Adelia.


"Aku tidak ingin meminta bantuanmu," ucap Adelia kesal sebelum masuk ke dalam ruangan.


Sebuah ruangan yang megah, terdapat sebuah kamar, dapur yang terletak di sudut ruangan. Balkon yang bisa memandang pusat kota, dari ketinggian gedung tempat ia kini berada. Banyak lampu yang menerangi malam itu.


"Kenapa tubuhku sangat lelah sekali, perutku juga lapar. Dia menyiapkan semuanya, tapi kenapa tidak menyediakan makanan untuk ku makan," keluh Adelia yang merasakan perutnya kelaparan.


"Aku harus cepat turun ke bawah, dan mencari makanan. Perutku sangat lapar,"


***


Sementara itu, di sebuah restoran. Adrian sedang mengobrol santai dengan Mr.A. Tidak ada wajah keseriusan di sana, setelah penjelasan yang diberikan oleh Alana. Rapat itu berubah menjadi makan malam. Adrian sungguh melupakan Adelia yang saat ini sedang kelaparan di dalam kamar. Obrolan ringan yang mereka bicarakan, hanya seputar kehidupan pribadi. Tidak ada lagi hal yang menyangkut masalah pekerjaan.


Jimy sudah tiba di Restoran, yang terletak di lantai dasar Apartemen. Restoran mewah yang biasa digunakan, untuk rapat para pengusaha sukses yang ada di kota itu.


Tatapan mata Adrian teralihkan, saat ia melihat kedatangan Jimy. Meskipun ia belum menanyakan satu hal tentang Adelia, kehadiran Jimy di situ sudah bisa menjawab pertanyaannya.


Jimy sudah berada di sini, berarti Adelia juga sudah sampai.


Adrian tersenyum dalam hati.


"Tuan Adrian, apa Nona Alana ini kekasih anda?" tanya Mr.A dengan meletakkan sebuah gelas, kembali ke atas meja.


"Alana bukan kekasih saya, Tuan. Saya sudah menikah, dan baru saja menikah." jawab Adrian santai.


"Saya salah mengira berarti, kelihatannya kalian sangat dekat sekali." ucap Mr. A.


"Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan saja, Tuan." jawab Adrian.


Mr. A mengangguk mengerti.


"Dia wanita yang beruntung, karena mendapatkan pria sukses seperti, anda,"


Tidak ingin membahas lebih dalam tentang pernikahannya, Adrian lebih memilih tersenyum menjawab pertanyaan yang diajukan Mr. A.


"Kenapa anda menggunakan inisial Mr. A, Tuan? Apa anda merasa tidak nyaman menggunakan nama asli anda? tanya Adrian yang mulai penasaran dengan Mr. A yang kini ada di hadapannya.


"Itu sebuah kejutan, Tuan Adrian," jawabnya begitu santai.


"Kejutan apa itu?" Adrian sungguh begitu penasaran.


"Semua orang akan mengetahui siapa nama saya, di acara peresmian gedung saya nanti. Anda harus datang dengan membawa istri anda." Mr. A mengambil gelas yang sudah berisi minuman, dan meneguknya perlahan.


"Baiklah, saya akan menunggu undangan dari anda, Tuan," ucap Adrian semangat .


Anda memang terlihat sangat misterius Tuan, sampai menyamarkan nama aslinya!