
Suasana malam, di rumah utama sangat hening. Embun pagi juga mulai menetes membasahi dedaunan yang melekat di pohon. Malam yang sangat melelahkan telah terlewati. Semua penghuni rumah sudah tertidur dengan lelap, dengan mimpi mereka masing-masing. Kecuali para penjaga, yang memiliki tugas malam untuk memastikan keamanan seisi rumah.
Pagi telah tiba...
Hari ini adalah hari pertama Adelia menjalani hidup sebagai isti Adrian. Adelia kini sudah terlihat begitu cantik dengan dress merah muda yang ia kenakan. Di depannya juga sudah ada Adrian, yang telah bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Aku rasa tidak seburuk yang ku bayangkan," ucap Adelia yang terus memandang wajah Adrian.
"Apa kau mulai terpesona denganku," Adrian mulai melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Terkadang kau terlalu percaya diri Tuan!" ucap Adelia mengikuti langkah Adrian menuruni tangga.
Di meja makan sudah terlihat Nyonya Wina dan Tuan Agung yang menunggu kedatangan sang pengantin baru.
"Selamat pagi Ma, Pa!" sapa Adrian sambil mengambil posisi duduk di meja makan.
Adelia kini juga mengikuti arah suaminya. Dan duduk di kursi, yang berada di sebelah Adrian.
"Pagi, " Mama sangat senang, bisa melihatmu bahagia Nak. Mulai sekarang kami adalah keluarga kamu. Kamu tidak akan merasa sendirian lagi setelah ini Adelia." Nyonya Wina tersenyum kepada Adelia.
Mendengar apa yang Mama ucapan. Aku menjadi terharu. Aku sangat bahagia, bisa memiliki keluarga lagi. Setelah kepergian Ayah.
Suasana di meja makan, berubah menjadi hening seketika. Tidak ada yang berani berbicara, bahkan jika ada telepon berdering, juga tidak akan ada yang berani mengangkatnya. Rumah ini memiliki peraturan, untuk tidak berbicara pada saat makan sedang berlangsung.
Tidak butuh waktu lama, Adrian sudah menyelesaikan sarapannya. Sementara Adelia, masih belum menghasilkan makanannya.
Adelia kini menjadi panik, saat melihat Adrian sudah berdiri untuk berangkat ke kantor. Ia pun berdiri dengan cepat. Hingga tanpa sengaja, tangan Adelia menyenggol susu yang ada di hadapannya. Susu itu tumpah, terkena jas hitam yang di kenakan Adrian.
Adelia menutup mulutnya karena takut Adrian akan marah dengannya. Ia dengan segera mengambil tisu, dan membersihkan jas itu.
"Maaf...aku tidak sengaja melakukannya. ucap Adelia takut.
"Tidak masalah, sayang. Lagian ini cuma jas yang kotor, aku bisa menggantinya dengan jas yang baru," ucap Adrian dengan senyum terpaksa.
Sial, hari ini sungguh sial. Baru pertama menjadi istriku saja sudah ceroboh dan merusak hariku. Awas saja kau !
Adrian mengumpat di dalam hati karena perbuatan Adelia. Adrian membuang napasnya dengan kasar. Menandakan ia saat ini sedang marah.
Astaga, bisa-bisanya tangan ini menyenggol susu. Hingga mengotori jas kerjanya. Aku yakin pasti dia sangat marah denganku. Dan semoga saja dia tidak menghukumku nantinya.
Adelia menunduk dengan penuh rasa khawatir.
Tidak menunggu waktu lama. Jimy telah tiba, dengan jas yang baru saja ia ambil dari lemari. Dia segera membantu Adrian untuk mengenakan jas itu. Jimy memandang Adelia, dengan tatapan mata yang tak kalah tajam dari Adrian.
Sungguh mereka membuatku sangat takut!
Jimy dan Alex adalah pengawal pribadi Adrian, yang memiliki sifat berbeda. Jimy lebih serius, dan ia tak segan untuk membunuh.
Sedangkan Alex, ia pria yang ramah dan lebih sering tersenyum dan ia lebih memilih berpikir sebelum bertindak. Kedua pengawal itu telah melengkapi hidupnya.
Adelia mengangguk dan kembali menyantap makanannya.
"Sayang, aku pergi kerja dulu ya!" kamu baik-baik dirumah. Mengecup pipi Adelia, "Siap-siap menerima hukuman pertamamu!" bisik Adrian di telinga Adelia.
Adelia langsung terperanjat kaget. Namun ia kembali ingat, kalau semua ini hanyalah sandiwara. Agar Nyonya Wina tidak mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Namun ucapan Adrian yang terakhir membuat Adelia kehilangan sebagian kekuatannya. Ia kembali takut dan memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Adrian padanya nanti.
"Iya, sayang," jawab Adelia dengan penuh penderitaan memikirkan apa yang terjadi nantinya.
Kepergian Adrian dengan kedua pengawalnya. Setelah itu disusul oleh Tuan Agung yang melangkah ke arah kamar.
Adelia hanya tersenyum bahagia, melihat keharmonisan kedua mertuanya itu.
Adelia kini sudah selesai dengan sarapannya.
" Sayang, ayo ikut Mama." ucap Nyonya Wina.
Adelia kini dibawa ke halaman belakang. Di sana terlihat, beberapa pelayan yang telah berkumpul. Adelia memandang orang yang ada di samping Pak Udin. Dengan pakaian serba putih yang ia kenakan, Adelia sudah mengerti bahwa dia adalah seorang chef.
Melihat kedatangan Nyonya rumah dengan segera mereka menundukkan kepala.
"Selamat pagi Nyonya dan selamat pagi Nona muda," sapa Pak Udin yabg yang di ikuti oleh semua pelayan yang ada di situ.
"Selamat pagi," jawab Nyonya Wina dan Adelia bersamaan.
"Adelia, ini adalah Pak Udin kepala pelayan di rumah ini. Kau pasti sudah mengenalnya kan, dia yang mengantarkan kamu ke kamar tadi malam. Nyonya Wina menunjuk pria yang ada di samping Pak Udin, "Ini pak Han, koki yang akan memasak makanan apapun yang kamu inginkan." jelas Nyonya Wina lagi.
Nyonya Wina memandang ke arah Pak Udin dan Pak Han, " Pak Udin tolong temani Adelia berkeliling rumah," pinta Nyonya Wina.
"Sayang, pagi ini Mama dan Papa akan berangkat ke luar kota. Ada urusan bisnis, dalam beberapa hari yang harus segera diselesaikan. Adrian sudah mengetahuinya. Semua kebutuhanmu dan keinginanmu jangan sungkan meminta kepada Pak Udin. Anggaplah rumah ini seperti rumah mu sendiri. ucap Nyonya Wina dengan wajah sedih, karena ia masih ingin berada di rumah ini bersama menantu kesayangannya.
"Baik, Mama dan Papa hati-hati dan segera kembali pulang, Adelia pasti sangat merindukan Mama" Adelia memeluk wanita paruh baya itu. memejamkan matanya, sambil memikirkan sikap Adrian terhadapnya.
Apa yang akan dia lakukan, jika Mama nya tidak ada dirumah ini. Rasanya ingin sekali aku mengatakan untuk ikut pergi bersama Mama.
Adelia melepaskan pelukannya dengan Nyonya Wina.
"Pasti Mama akan segera pulang," ucap Nyonya Wina meninggalkan Adelia dengan Pak Udin, yang masih berada di halaman belakang.
"Ini adalah Nona Muda kita, Nona Adelia.
Mulai sekarang bersikap sopanlah kepada Nona muda kita. Tidak di benarkan, untuk berbicara yang tidak penting. Terutama kepada Nona Muda dan memandang wajah Nona Muda," ucap Pak Udin dengan tegas.
"apa maksud anda Pak Udin? tanya Adelia dengan wajah kesal.
Maafkan saya, nona. Tapi pelayan disini sebagian adalah pria. Dan ini peraturan sejak lama sudah diterapkan. Memang tidak di benarkan untuk melakukan yang tadi disebutkan!"