I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 39



Adelia berjalan riang gembira karena bisa terbebas dari para pengawal dengan sementara. Setelah sampai di toilet Adelia membasuh wajahnya dengan air. Adelia sengaja berlama-lama di dalam toilet itu.


Adelia memikirkan cara agar dirinya tidak diikuti para pengawal, kebetulan di dalam toilet yang sama ada seorang yang ingin keluar. Adelia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk keluar dengan menyelinap. Berharap tidak ada yang menyadari bahwa dirinya sudah tidak ada di dalam sana.


Di depan, pengawal tidak menyadari kepergian Adelia. Adelia segera melangkahkan kakinya kembali ke ruang rawat Eva.


Sampai disana ternyata semua orang sudah menunggunya untuk makan siang.


"Maaf, membuat kalian menunggu lama," ucap Adelia sambil menarik kursi duduk.


"Tidak masalah, Nona. Mari silahkan makan," ucap Evi menyerahkan 1 bungkus nasi kepada Adelia.


Dengan segera Adelia menerimanya dengan senang hati. " Terima kasih." ucap Adelia.


"Sama-sama Nona," ucap Evi.


"Apa kau tidak ingin makan?" tanya Adelia dengan membuka bungkusan nasi yang di berikan oleh Evi.


"Nanti saya makan setelah Nona selesai."


Adelia jadi mengerti karena Vina sedang tidur di dalam gendongannya. Adelia segera melaksanakan ritual makan siangnya yang begitu sederhana. Suasana yang sangat nyaman berada di dekat orang-orang yang sudah di anggap keluarga.


Tidak butuh waktu lama makanan Adelia sudah habis tanpa sisa, hanya menyisakan bungkusnya saja.


"Makanlah, sini Vina biar sama saya saja," ucap Adelia berdiri dari tempat duduknya.


"Terima kasih, Nona," ucap Evi.


Vina sudah beralih dalam gendongan Adelia. Adelia jadi memikirkan perkataan Nyonya Wina yang sudah ingin menimang cucu. Ada rasa bersalah di hati Adelia karena belum bisa mewujudkan keinginan Nyonya Wina.


Vina sangat begitu anteng kalau lagi tidur dan sangat menggemaskan, haruskah aku memikirkan ulang permintaan Mama?


Adelia masih bergelut dengan pikiran dan juga hatinya.


Di sisi lain, dua orang pengawal yang berada tidak jauh dari toilet, masih setia menunggu Adelia. Ada perasaan ganjil yang mereka rasakan. Karena sudah setengah jam Adelia tidak kunjung keluar dari toilet. Keduanya terus saja memperhatikan toilet, yang berada tidak jauh dari pandangan mata.


"Kita harus memeriksa ke dalam toilet, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya, hingga tidak kunjung keluar dari dalam toilet itu."


"Baiklah, kau berjaga disini dan aku akan masuk ke dalam untuk melihatnya." pengawal itu berjalan mendekati toilet, dan mencoba masuk ke dalam.


Setelah membuka pintu pengawal itu melebarkan kedua matanya. Karena tidak terlihat batang hidung Adelia di dalamnya. Perasaan panik dan khawatir seketika itu muncul.


Pergi kemana Nona muda! Kenapa tidak ada orang di dalam sini?


Pengawal itu terus bertanya-tanya dalam hati, dengan perasaan takut. Dengan segera ia membalikkan tubuhnya berlari dengan begitu cepat.


"Bagaimana, apa Nona muda ada di dalam? tanya pengawal satunya saat melihat kedatangan temannya dengan penuh harap.


Tidak ada jawaban dari temannya karena tidak menemukan Adelia. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk dalam.


"Tenang dulu, Aku akan cek di dalam ruangan Eva. Semoga Nona sudah berada di sana."


"Baiklah kabari aku secepatnya, aku akan mencari Nona muda di setiap sudut rumah sakit ini."


Tanpa menjawab, pengawal itu melaksanakan tugas mereka masing-masing.


Salah satu pengawal masuk ke dalam kamar Eva dengan tergesa-gesa. Memperhatikan isi ruangan, untuk mencari keberadaan Adelia.


Perasaannya sungguh lega karena mendapati Adelia berada di dalam kamar Eva, dan sedang menggendong seorang bayi.


"Ada apa? kenapa kau berisik sekali!" ucap Adelia dengan ketus.


"Maaf, karena tadi saya tidak pamit. Saya sangat risih diikuti dengan kalian." ucap Adelia.


"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Nyonya Wina untuk menjaga Nona,"


"Baiklah, aku mengerti. Sekarang kembalilah ke luar dan jangan lupa tutup kembali pintunya." ucap Adelia kepada pengawal.


"Baik, Nona saya permisi," pengawal itu berbalik dan menutup pintu.


Adelia tidak menyadari bahwa tingkahnya barusan sudah membuat semua orang panik untuk mencarinya. Itulah Adelia yang sesungguhnya. Entah mengapa Adelia jadi susah di atur padahal dulu saat bersama Ayahnya dia baik dan penurut.


Di sisi lain, di sebuah perusahaan seseorang tengah berdiri menghadap jendela yang mengarahkan pandangan di sekeliling. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


Di ruangan itu hanya ada Adrian seorang diri. Jimy dan Alex sedang makan siang bersama karyawan yang lainnya.


Adrian masih tidak menyangka Nyonya Wina akan bertindak sejauh itu untuk mendekatkan hubungan antara dirinya dan Adelia.


"Mama ingin seorang cucu? Memang dikira bikin cucu itu mudah? Sungguh Mama tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Harusnya Mama tahu kalau aku akan menyentuh Adelia setelah aku mencintainya," ucap Adrian dengan lirih.


Haruskah aku membuka hati untuknya? Tapi berada di dekatnya saja aku sudah jengkel.


Adrian terus bertanya di dalam hatinya. Dirinya sungguh tidak tau apa yang dirasakannya saat ini. Adrian sama sekali tidak mengenal dengan namanya cinta.


Adrian mengingat bahwa Adelia saat ini sedang menjenguk Eva di rumah sakit. Ia dengan segera mengambil handphone yang ada di saku celananya untuk memastikan keadaan Adelia.


Adrian mengurungkan niatnya kala mengingat dirinya tidak memiliki nomor telepon Adelia. Ia sangat merutuki kebodohannya karena malah memikirkan Adelia.


Apa yang aku pikirkan? Dia sama sekali tidak penting bagiku. Dan otak ini malah isinya hanya ada dia!


Adrian sangat bingung dengan pikirannya dan juga hatinya. Ia memilih menyibukkan diri dan segera menyelesaikan semua pekerjaan yang telah di perintahkan Nyonya Wina.


******


Waktu sudah semakin sore. Adelia segera berpamitan dengan Eva. Dengan berat hati Adelia meninggalkan ruangan itu. Dirinya bahagia karena mendapatkan teman yang mau mengobrol dan berbagi cerita dengannya. Tidak seperti saat dirumah Adelia sangat begitu kesepian.


"Eva, lekas sembuh ya." ucap Adelia.


"Iya, Nona." ucap Eva.


"Aku pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik,"


"Hati-hati, Nona. Jangan seperti tadi lagi ya?" pinta Eva mengingatkan.


"Iya Eva." Adelia perlahan berbalik dan segera melangkah keluar ruangan dan tidak lupa menutup pintu kembali.


****


Tok...Tok....


Jimy mengetuk sebuah pintu yang bertuliskan Direktur utama. Tanpa menunggu lama, sang penghuni ruangan telah mempersilahkan Jimy untuk masuk.


"Ada apa Jimy, kau baru saja keluar dari ruanganku? tanya Adrian yang masih fokus menatap layar laptopnya.


Alana masih berada di ruangan Adrian untuk membacakan agenda.


Aku rasa dia memang pengganggu yang harus segera aku singkirkan!


Umpat Alana menatap Jimy, dengan tatapan tidak suka.