I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 50



"Apa maksudmu Adelia?" tanya Adrian bingung sambil kembali membenahi posisi duduknya.


"Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi beban untuk hidupmu." ucap Adelia pelan mencoba menjelaskan isi hatinya kepada Adrian.


"Jangan membuatku tambah pusing Adelia, kau hanya perlu mengatakan inti dari perkataanmu itu." jawab Adrian dengan wajah yang mulai serius.


"Apa kau mau berteman denganku?" tanya Adelia pelan dengan perasaan yang mulai campur aduk tidak karuan.


"Berteman?" Adrian bertanya dan mengerutkan keningnya menatap tajam ke arah Adelia.


"Iya berteman, kita tidak harus bersikap seperti ini. Kita bisa saling mengenal."


"Akan aku pikirkan." jawab Adrian dengan santai, tidak terlihat wajah serius atas jawabannya.


Suasana kembali hening setelah percakapan barusan, kini giliran Adelia memandang ke arah Adrian dengan wajah serius. Hatinya terasa amat lega setelah berhasil mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ingin ia ungkapkan.


Adelia menampakkan senyum di bibirnya dan wajahnya tampak berseri-seri. Meskipun belum ada jawaban yang pasti dari Adrian dan belum ada gambaran kalau Adrian akan menyetujui permintaannya, namun Adelia sudah merasa sangat bahagia.


Beberapa menit kemudian, pelayan masuk ke dalam ruangan dan menghidangkan beberapa jenis makanan dan minuman. Semua makanan di hidangkan di atas meja yang ada di hadapan Adelia dan Adrian. Kini meja yang menjadi pemisah antara keduanya itu telah penuh dengan aneka makanan yang begitu menggugah selera makan.


Adelia sudah menelan salivanya sejak makanan sedang di hidangkan di atas meja. Nafsu makannya seketika itu muncul ingin segera menyantap semua makanan yang ada di meja itu, namun gerak tubuhnya masih mencegahnya untuk melakukan hal itu. Pandangan matanya masih fokus ke arah Adrian. Ia takut melakukan kesalahan lagi, dan menyebabkan Adrian bicara kasar padanya. Adelia hanya bisa diam dan menatap wajah Adrian.


"Kenapa kau tidak memakannya? Bukankah kau lapar." tanya Adrian bingung, saat melihat Adelia hanya diam dan malah memandang ke arahnya.


"Apa aku boleh memakannya?" tanya Adelia pelan.


Adrian yang mendengar perkataan Adelia jadi tertawa terbahak-bahak, tawa Adrian sungguh bukan hal yang sengaja ia buat-buat. Kali ini Ia benar-benar tertawa terpingkal atas perilaku polos Adelia.


Beberapa pelayan yang baru saja selesai menghidangkan makanan itu, hanya bisa saling tatap. Tingkah Adrian tidaklah seperti biasanya, belum pernah Adrian tertawa selepas itu apalagi tawa itu ia lakukan di hadapan pengawal dan pelayan, yang berstatus sebagai bawahannya.


"Kenapa malah tertawa." ucap Adelia ketus, bukannya mendapatkan ijin untuk mulai makan ia malah justru menjadi bahan tawa Adrian.


"Menyenangkan? Apa maksudmu Adrian?" Adelia membuang pandangannya ke beberapa pelayan yang masih berdiri di depan pintu sambil menundukkan kepala.


"Kenapa kau meminta ijin untuk memakan makanan ini? Lihatlah wajahmu jika sedang ketakutan, itu sangat lucu." ucap Adrian yang sudah mulai menghentikan acara tawanya.


Menyebalkan, kan aku harus minta ijin darinya kalau mau makan. Bukan seenaknya aja asal makan!🙄 batin Adelia.


"Kau memang menyebalkan." jawab Adelia dan mengambil sepasang sendok dan garpu ia memulai makan siangnya tanpa memperdulikan Adrian.


"Hei, aku belum mengijinkanmu makan." ucap Adrian.


"Aku tidak perduli" Adelia terus melanjutkan makan siangnya. Karena sudah merasa sangat kelaparan.


Suasana yang di awali dengan keseriusan kini di akhiri dengan sebuah canda tawa yang di ciptakan oleh Adrian dan disebabkan oleh Adelia. Sesekali Adrian masih tersenyum melihat tingkah Adelia. Perasaan Adrian yang tidak pernah bisa di tebak memang membuat Adelia selalu saja bingung. Terkadang pemarah, kadang juga ceria seperti pada saat di dalam pesawat ini.


Hatiku sangat senang saat melihatnya tertawa lepas seperti itu. Andai saja sikapmu selalu begini Adrian. Mungkin saja aku bisa dengan cepat membuka hatiku untukmu tanpa rasa takut lagi. batin Adelia.


Adelia terus tersenyum memandang Adrian. Begitupula dengan Adrian keduanya saling pandang dengan senyuman yang menghiasi wajah masing-masing.


Hari sudah mulai sore, matahari sudah mulai tenggelam. Tidak lagi berada di udara, Adrian dan Adelia sudah tiba di sebuah negara yang telah menjadi tempat bulan madu yang telah di siapkan oleh Nyonya Wina. Seorang pengawal melangkah mendekati Adrian dan Adelia.


"Selamat datang, Tuan Adrian, Nona Adelia. Mari saya antar, Tuan." ucapnya penuh hormat sambil melangkah menuju sebuah mobil dan diikuti oleh Adrian dan Adelia di belakangnya.


Beberapa pengawal yang bertugas untuk menjaga Adrian dan Adelia juga turut mengiringi langkah keduanya menuju mobil. Keberadaan Adelia dan Adrian yang diiringi beberapa pengawal pribadi menjadikan keduanya pusat perhatian semua orang yang ada di bandara saat itu.


Apa seperti ini rasanya jadi orang kaya, di hormati dan di segani saat berada di mana saja.


Mobil melaju dengan cepat, tidak ada hambatan di perjalanan. Jalanan yang terlihat lapang memudahkan mobil itu untuk terus melaju kencang menuju ke arah tujuan. Hingga beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di sebuah tempat. Tempat yang kini menjadi lokasi bulan madu antara Adrian dan Adelia. Dengan wajah yang tidak terbaca, Adelia turun dari mobil dan berdiri mematung melihat lokasi yang ada di hadapannya saat ini.