
Adelia terus saja memaksakan diri, untuk kembali mengingat masa lalunya, ia sungguh penasaran dengan sosok wanita yang muncul di dalam pikirannya. Namun hal itu tidak pernah membuahkan hasil. Adelia akan kembali merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa di bagian kepalanya.
Tanpa menunggu lama, pelayan telah masuk ke dalam kamar dan menyiapkan makanan untuk Adelia. Adrian juga terlihat sudah keluar dari kamar mandi. Melihat Adelia hanya duduk di atas tempat tidur, Adrian berjalan mendekati Adelia.
"Apa kau baik-baik saja?'' Adrian berdiri di samping ranjang.
"Aku, aku ingin mandi tetapi tubuhku terasa lemah," jawab Adelia lirih.
Pernyataan Adelia membuat Adrian menjadi bingung. Pelayan perempuan yang bertugas sudah beristirahat, Adrian tidak mungkin membangunkan pelayan hanya karena keinginan Adelia.Mengingat bahwa pekerjaan seharian sungguh sangat barat.
Bagaimana ini, aku tidak mungkin membangunkan pelayan untuk membantunya mandi.
Adrian masih diam melamun, untuk memikirkan cara agar Adelia bisa mandi.
Kenapa dia diam seperti itu? Bukannya ia ingin makan malam di bawah tadi.
Memikirkan sesuatu tanpa menemukan solusi sedikitpun, Adrian langsung menggendong Adelia dan membawanya ke kamar mandi.
"Hei, apa yang kau lakukan?'' ucap Adelia dengan keras.
"Diamlah, kau akan menyakiti telingaku jika berteriak seperti itu. Aku hanya membantumu untuk membersihkan diri. Aku tidak ingin tidur satu ranjang dengan orang yang belum mandi dan itu sangat jorok," jawab Adrian cepat sambil membawa Adelia masuk ke dalam kamar mandi.
Adelia hanya diam mendengar perkataan Adrian setelah ia diturunkan dari gendongan.
"Apa kau ingin aku membantumu membuka bajumu juga," goda Adrian ia sangat gemas karena Adelia hanya mematung di dalam kamar mandi.
"Tentu saja tidak, kau bisa keluar sekarang,'' ucap Adelia pelan.
"Baiklah, aku akan menunggumu di luar." Adrian berlalu pergi meninggalkan Adelia di kamar mandi.
"Untuk apa dia menungguku? Lagian aku bisa berjalan sendiri dengan pelan," ucap Adelia sambil memulai ritual mandinya.
Adrian kini menunggu Adelia di sofa, mengambil sebuah handphone dari saku celananya, jarinya kini sedang memilih nama Pak Udin sebagai orang yang ingin ia hubungi.
"Pak Udin, tolong siapkan 1 pelayan wanita untuk membantu semua keperluan Adelia. Dan satu lagi, bawakan makananku ke kamar, saya tidak jadi makan di bawah," ucap Adrian singkat sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
Pak Udin diam sejenak, ia masih mencerna apa yang diucapkan oleh Adrian barusan. Ini pertama kalinya ia mendapat perintah dari Adrian, untuk membawakan makan malam ke kamar. Pak Udin segera menyuruh pelayan untuk membereskan semua makanan yang ada di meja, dan membawa makanan ke dalam kamar lagi.
"Ini pertama kalinya, Tuan Adrian ingin makan di dalam kamar. Apa karena Nona Adelia," ucap Pak Udin pelan.
Di dalam kamar mandi, Adelia telah menyelesaikan ritual mandinya. Dia juga sudah mengenakan setelan baju tidur untuk tidurnya malam hari ini. Dengan pelan ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang ganti.
Adrian melihat Adelia yang baru saja keluar. Pria itu segera berdiri dan berjalan mendekati Adelia.
"Apa kau sudah bisa berjalan sendiri?" Tanya Adrian ketus.
"Sudah sedikit," ucap Adelia pelan. Sungguh tidak sama seperti apa yang tubuhnya rasakan. Badannya melemah ketika ingin melangkahkan kakinya menuju meja yang berisi makan malamnya.
Adrian yang melihat itu langsung sigap menangkap tubuh Adelia agar tidak terjatuh, " Kau itu selain menyebalkan juga sangat keras kepala," ucap Adrian sambil membawa Adelia duduk di atas tempat tidur.
Pak Udin terlihat sudah sampai di kamar, dengan membawa makan malam yang diminta oleh Adrian.
"Bawa kemari makanan itu Pak Udin," perintah Adrian.
Adrian menerima piring tersebut dan memberikan piring itu kepada Adelia.
"Makanlah," ucap Adrian.
Sedangkan Adelia hanya diam mematung melihat perlakuan Adrian padanya.
"Kau ingin makan atau tidak?" ucap Adrian lagi.
Entah mengapa kau terlihat sangat manis jika bersikap lembut seperti ini.
"Pak Udin, pergilah untuk istirahat," ucap Adrian pelan saat melihat Pak Udin masih berdiri di ujung tempat tidur.
"Baik Tuan, pelayan nanti akan mengambil piring setelah Tuan dan Nona makan. Dan ini obat yang harus di minum oleh Nona Adelia." Pak Udin menyodorkan sebuah piring kecil yang berisikan obat.
"Terima kasih Pak Udin, saya akan meminumnya nanti." ucap Adelia sambil memakan makanannya dengan begitu lahap.
Adelia memang sangat kelaparan sehingga ia makan dengan begitu lahapnya.
Adrian duduk di sebuah kursi yang telah tersedia makanan di sana. Dia mulai menyantap makan malamnya sambil memandang ke arah Adelia yang terlihat makan dengan begitu cepat.
Apa dia sangat kelaparan, kenapa dia makan cepat sekali. Dasar gadis aneh.
Adrian melanjutkan makan malamnya. Walaupun sesekali masih melirik ke arah Adelia.
Adelia bingung melihat Adrian yang ikut makan di dalam kamar.
Bukankah tadi dia bilang ingin makan di bawah saja, kenapa sekarang ia makan di sini juga, dan kenapa dia terus saja memandangku seperti itu. Apa ada yang salah dengan cara makan ku?
Adelia yang sudah selesai makan. Ia segera mengambil obat yang telah di siapkan oleh Pak Udin kemudian meminumnya.
Adrian dan Adelia masih diam tanpa kata, mereka terus bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing. Malam pun semakin larut, Adrian dan Adelia mengambil posisi untuk segera tidur. Malam yang begitu melelahkan bagi semua orang.
Yang ada di rumah utama. Semua orang kembali dengan mimpi mereka masing-masing. Adelia sudah mulai memejamkan kedua matanya.
Selamat tidur Adrian semoga tidurmu nyenyak dan mimpi indah.
Ucap Adelia dalam hati disertai senyuman yang sangat manis.
Adelia begitu senang saat mengingat perlakuan Adrian yang sedikit manis menurutnya. Ia ingin sikap Adrian selalu lembut kepadanya. Dan itu sungguh membuatnya merasa bahagia.
Walaupun belum ada tanda cinta yang tumbuh di dalam hati keduanya, tetapi jika sikap Adrian selalu baik terhadapnya. Maka bisa jadi lama-lama ia akan jatuh cinta dengannya.
Membayangkan itu Adelia menjadi geli sendiri. Akankah ia akan segera mencintai Adrian atau justru sebaliknya, Adrian yang jatuh cinta kepadanya duluan. Memikirkan itu Adelia jadi bergidik ngeri.
Adelia belum pernah merasakan jatuh cinta kepada seorang laki-laki, sosok yang selama ini yang begitu dekat dengannya adalah sang Ayah tercinta yang kini sudah tiada untuk selamanya.
Jujur Adelia juga merindukan sosok yang begitu ia cintai, sosok itu adalah mendiang Ayahnya. Adelia selalu berdoa semoga sang Ayah selalu bahagia disana.
******
Jangan lupa tinggalkan jejak kawan, terimakasih 🤗