
Adelia dan Pak Udin telah berada di depan lemari yang berukuran besar. Pak Udin telah menyiapkan beberapa barang yang akan diperlukan oleh Adrian selama perjalanan. Sedangkan Adelia malah hanya diam mematung memandang lemari tanpa melakukan apapun.
"Nona Adelia, apa anda sedang memikirkan sesuatu?" tanya Pak Udin memecah lamunan Adelia.
"Tidak, Pak Udin." jawab Adelia mengambil sepotong baju, dan meletakkan di atas kursi.
"Nona, sebaiknya anda tidak perlu membawa baju. Anda hanya perlu membawa beberapa barang yang anda butuhkan selama di perjalanan." ucap Pak Udin sambil mengunci satu buah koper yang sudah berisi barang-barang penting.
"Jangan membawa baju? apa maksud anda, Pak Udin?" tanya Adelia bingung.
"Semua yang diperlukan oleh Nona Adelia, sudah disiapkan oleh Nyonya Wina. Jadi anda tidak perlu repot-repot membawa baju." jelas Pak Udin.
"Baiklah, saya tidak memiliki barang berharga. Hanya ada handphone ini yang saya punya.'' tunjuk Adelia ke sebuah handphone yang berada tidak jauh dengan dirinya.
"Apa anda tidak ingin membawa barang yang lainnya, Nona?'' tanya Pak udin.
Adelia hanya diam dan menggelengkan kepalanya, Adelia bukan seorang wanita karir yang bekerja seperti Adrian saat ini. Tidak ada barang yang sangat ia butuhkan selain handphone, kenyamanan dan makanan.
Beberapa menit berlalu, Adelia dan Pak Udin telah selesai dengan tugas mereka. Pak Udin juga sudah meninggalkan kamar Adelia dan Adrian. Adrian juga terlihat sudah membersihan diri dan mengenakan sebuah jas berwarna biru yang menambah kesan profesional di tubuhnya. Adelia lebih memilih sebuah dress panjang yang menutupi mata kakinya membuat penampilan Adelia semakin menawan.
Adelia dan Adrian berjalan menuruni anak tangga. Menuju ke arah luar rumah.
"Kau sudah siap, sayang," ucap Nyonya Wina yang telah menyambut Adrian dan Adelia yang baru saja menuruni anak tangga.
"Ma, ada yang ingin Aku tanyakan sama Mama." ucap Adrian.
"Apa itu Adrian?" jawab Nyonya Wina penasaran.
Tatapan mata Adrian beralih ke arah Adelia yang juga memasang wajah penasaran dengan pertanyaan yang akan di ajukan oleh Adrian.
"Aku duluan ke meja makan, Ma," ucap Adelia singkat, tatapan Adrian memang memberikan kode kepadanya untuk tidak mengetahui apa yang ingin ia bicarakan dengan Nyonya Wina.
"Apa yang ingin kau tanyakan Adrian?" tanya Nyonya Wina dengan wajah serius.
"Adelia adalah putri tunggal dari Tuan Wijaya, tapi kenapa dia mengatakan hidupnya selama ini sangat begitu sederhana. Dia bahkan tidak pernah bersikap seperti seorang putri, yang terlahir dari keluarga kaya, Ma." Adrian menatap wajah Nyonya Wina dengan serius. Ia menagih suatu penjelasan, yang selama ini disembunyikan oleh Nyonya Wina.
"Adrian, apa Adelia sudah mengetahui semuanya?" tanya Nyonya Wina panik.
"Mengetahui apa yang Mama maksud?" Adrian mengerutkan dahinya.
"Kalau Tuan Wijaya adalah pemilik salah satu perusahaan ternama di kota ini." ucap Nyonya Wina.
"Tidak, Ma. Adrian belum sempat menceritakan itu kepadanya." jawab Adrian.
Nyonya Wina menarik napasnya dengan lega. Rasanya hidup menutupi satu kebohongan sangat sulit jika ia lakukan di hadapan Adrian.
"Adrian, sebenarnya Adelia itu amnesia," ucap Nyonya Wina hati-hati.
"Amnesia? dan Mama baru memberi tahuku sekarang." Adrian terbelalak kaget, matanya memandang kesal ke wajah Nyonya Wina.
"Maafkan Mama, Adrian. Ini semua demi kebaikan Adelia dan dirimu." ucap Nyonya Wina dengan menyesal telah membohongi anaknya.
"Mama hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya padamu,"
"Jadi Adelia tidak mengingat secuil pun tentang hidupnya?" tanya Adrian.
"Adelia hanya mengingat saat bersama Tuan Wijaya. Tuan Wijaya berpura-pura menjadi sosok yang sederhana, untuk melindungi Adelia. Adelia lupa ingatan karena sebuah kecelakaan. Ada seseorang yang ingin mencelakainya, dan membunuhnya. Untuk itu, Tuan Wijaya membawa Adelia pergi menjauh dari kota dan memulai hidup baru bersama Adelia." jelas Nyonya Wina panjang lebar.
"Apa Adelia mengetahui kalau dia amnesia, Ma?" Tanya Adrian penasaran.
"Adelia mengetahui kalau dirinya sedang lupa ingatan, tapi yang ada di pikirannya Tuan Wijaya memang orang yang sangat sederhana. Tuan Wijaya bilang bahwa beliau adalah seorang karyawan yang bekerja di perusahaan milik Papamu! Mama mohon lindungi Adelia, Adrian. Jaga dia seperti kau melindungi Mama dan Papa dari bahaya," pinta Nyonya Wina dengan wajah penuh harap.
"Baik, Ma. Adrian janji sama Mama untuk selalu melindungi Adelia dari bahaya."
"Terima kasih Adrian." Nyonya Wina memeluk tubuh Adrian dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, Adelia hanya bisa memandang Adrian dan Nyonya Wina dengan wajah penuh rasa penasaran. Meskipun ia sudah memasang pendengarannya untuk dapat mendengarkan pembicaraan antara keduanya, tetapi tetap saja Adelia tidak memperoleh informasi apapun.
Hatinya hanya bisa berucap kesal, karena tidak bisa ikut berbincang dalam percakapan serius antara Ibu dan anak itu.
"Adelia, apa yang sedang kau lihat disana?" tanya Tuan Agung yang sedari tadi memperhatikan sikap aneh dari Adelia.
"Adelia hanya...." ucap Adelia terbata-bata.
Aduh, tidak mungkin aku katakan sama Papa kalau aku sedang berusaha menguping pembicaraan antara Mama dan Adrian!
Ucap Adelia dalam hati.
"Adelia?" tanya Tuan Agung lagi.
"Emm...itu Adelia hanya sedang memikirkan bulan madu nanti, Pa," jawab Adelia pelan sambil menunduk menatap lantai di bawahnya.
"Adelia, tidak perlu dipikirkan. Nikmati saja liburan kalian. Papa ingin kalian bisa hidup dengan bahagia." ucap Tuan Agung sambil tersenyum kepada Adelia.
Adelia hanya tersenyum mendengar perkataan yang baru saja di lontarkan oleh Tuan Agung. Hatinya masih saja penasaran dengan pembicaraan serius antara Adrian dan Nyonya Wina. Hingga beberapa saat kemudian, Adrian dan Nyonya Wina telah selesai dalam perbincangan serius itu.
"Adelia," sapa Nyonya Wina ketika tiba di hadapan Adelia.
"Iya, Ma," jawab Adelia pelan.
"Apa kau sudah siap memulai perjalanan dengan Adrian," ucap Nyonya Wina sambil melirik sebentar ke arah Adrian.
"Adelia...." jawab Adelia lirih.
"Apa kau masih memikirkan sesuatu, sayang?" tanya Adrian dengan penuh perhatian.
Adelia hanya menggeleng pelan. Wajahnya berubah menjadi sebuah kesedihan. Entah hal apa yang menyebabkan Adelia berubah menjadi murung. Hingga bulir air mata mengalir deras membasahi kedua pipinya.
"Adelia, kenapa sayang?" ucap Nyonya Wina panik saat melihat Adelia menangis, dan langsung menarik Adelia ke dalam pelukannya.
"Terima kasih karena sudah menerima Adelia didalam keluarga ini Ma, Adelia tidak tau harus bagaimana jika Mama tidak membawaku. Meskipun pernikahan ini terjadi karena permintaan terakhir Ayah, tapi Mama mau menyayangi Adelia dengan sangat tulus," ucap Adelia dengan suara serak.