
Adrian sungguh tidak habis pikir dengan sebuah hadiah dari Nyonya Wina. Ia masih belum siap jika harus berbulan madu dengan Adelia. Tapi di satu sisi Adrian tak kuasa untuk menolak hadiah dari Nyonya Wina. Adrian tidak ingin membuat Nyonya Wina merasa sedih hanya karena masalah ini.
Nyonya Wina sudah melakukan tugasnya dengan mendekatkan hubungan Adrian dan Adelia. Sejauh ini hubungan Adelia dan Adrian masih sama-sama dingin. Belum ada tanda-tanda bahwa Adelia ataupun Adrian saling membuka hati.
"Ma, Adrian masih banyak pekerjaan di kantor. Adrian tidak bisa liburan seperti ini, Ma..." ucap Adrian yang masih mencoba menolak permintaan sang ibu.
"Jangan banyak alasan. Mama ingin kalian pergi bulan madu," ucap Nyonya Wina tegas.
"Tapi, Adelia juga harus menemani Eva," ucap Adelia.
"Disana sudah ada seorang Dokter, kamu tidak usah mencemaskan keadaan Eva,"
"Semua pekerjaan akan di urus oleh Jimy dan Alex. Kalian hanya perlu menyiapkan diri kalian, dan ingat ya untuk segera memberi Mama seorang cucu," Nyonya Wina tersenyum memandang Adelia.
"Alex baru saja Adrian kirim untuk memantau cabang perusahaan, Ma." ucap Adrian.
"Sudahlah, kau jangan banyak alasan terus. Mama sangat yakin dengan kemampuan Jimy, pasti dia bisa menyembunyikan semua pekerjaan." ucap Nyonya Wina.
Kenapa mama memikirkan hal ini, aku tidak pernah menebak kalau mama sudah merencanakan bulan madu ini. Dan Mama sangat ingin segera memiliki cucu, tapi aku harus bagaimana ini? Kenapa harus jadi begini sih, aku harus jawab apa. Jujur aku belum ingin memiliki anak!😕
Adelia masih bingung dengan keadaan yang saat ini ia hadapi. Ia dan Adrian masih belum saling mencintai. Adelia masih larut dalam pikirannya sendiri saat ini.
"Adrian, hari ini kamu segera selesaikan urusan kantor. Mama tidak mau kalau bulan madu kalian gagal karena pekerjaan." ucap Nyonya Wina ketus.
"Iya, Ma," jawab Adrian singkat.
Adrian masih tidak setuju dengan rencana bulan madu ini. Tapi ia tidak ingin berdebat lebih jauh lagi dengan sang ibu.
Adrian segera beranjak dari tempat duduknya. Pandangan matanya tidak sengaja memandang Adelia. Dengan buru-buru Adrian mengalihkan pandangan ke arah lainnya.
"Adrian pergi dulu, Ma," pamit Adrian.
"Apa kau lupa bahwa kau sudah punya istri Adrian?" tanya Nyonya Wina yang melihat Adrian mengacuhkan Adelia.
"Sayang aku pergi dulu ya," Adrian mencium kening Adelia, sebagai pelengkap kebohongan yang sudah mereka buat.
"Iya, hati-hati," balas Adelia.
Adrian hanya mengangguk dan segera melangkahkan kakinya dengan cepat, ia sungguh merasakan kesal di dalam hatinya dan tidak bisa ia lampiaskan.
Nyonya Wina hanya diam memandang punggung Adrian yang sudah mulai menjauh. Ia sangat tahu, apa yang saat ini dirasakan oleh Adrian. Tapi Nyonya Wina tidak memiliki pilihan lain, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini supaya hubungan keduanya membaik
"Ma, hari ini Adelia mau ijin ke rumah sakit untuk melihat keadaan Eva."
"Iya sayang, tapi harus ditemani beberapa pengawal. Ingat kejadian kemarin, Mama tidak ingin orang yang ingin mencelakakan kamu itu datang lagi." ucap Nyonya Wina.
Tidak ada pilihan lain lagi, aku harus ditemani pengawal jika ingin bepergian. Itu sungguh membosankan.
Adelia kembali diam menganggukkan kepalanya. Tanda ia menuruti keinginan Nyonya Wina.
"Adelia," panggil Tuan Agung.
"Kamu harus ingat Nak, kami sangat menyayangimu," ucap Tuan Agung dengan tersenyum memandang Adelia.
"Adelia juga sangat menyayangi kalian,"
"Aku tahu, apa kau sudah menyayangi Adrian?" tanya Tuan Agung.
Deg...
Pertanyaan Tuan Agung membuat Adelia terdiam dan tidak tahu harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ayah mertuanya. Tangannya meremas dress yang kini ia kenakan. Bibirnya seperti bisu tidak bisa mengeluarkan kata.
"Papa dan Mama tahu, semua ini hanya karena paksaan dari kami. Tapi kami ingin kalian selalu bahagia." ucap Tuan Agung.
"Maafkan Adelia, Pa. Tapi Adelia akan selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Adrian," Adelia tertunduk menatap lantai yang ada di bawahnya.
"Adelia, kami mengerti apa yang terjadi di antara kalian saat ini. Mama merencanakan bulan madu ini, untuk membuat hubungan kalian semakin dekat." ucap Nyonya Wina.
Adelia kini menyadari kalau sikap pura-pura yang ia lakukan bersama Adrian. Kini sudah diketahui oleh Nyonya Wina.
"Adelia akan belajar membuka hati untuk mencintai Adrian. Dan berusaha membuat Adrian mencintai Adelia," ucap Adelia penuh keyakinan.
"Terima kasih sayang, apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkan Adrian, berjanjilah untuk Mama sayang," pinta Nyonya Wina dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Ma. Adelia berjanji tidak akan meninggalkan Adrian apapun yang akan terjadi," jawab Adelia dengan tersenyum.
"Papa dan Mama senang mendengarnya." Nyonya Wina ikut tersenyum bahagia memandang Adelia.
Setelah selesai melakukan perbincangan yang sangat serius. Dan cukup menguras perasaan. Adelia pamit kepada Tuan Agung dan Nyonya Wina untuk menjenguk Eva.
Tidak lupa ditemani beberapa pengawal, Adelia menaiki mobil yang dikemudian oleh supir pilihan yang ditugaskan menjaga Adelia.
Begitu sulit mencintai Adrian, di dalam hatinya terasa ada benteng pertahanan yang menghalangi dirinya untuk mencintai Adrian. Seolah ada sesuatu yang hilang di dalam hati ini. Tapi apa? Kenapa harus begini.
Adelia hanya diam di dalam mobil dan memandang ke arah luar jendela. Pikirannya masih melayang memikirkan perasaan yang kini ia rasakan.
Apakah Adrian juga sama sepertiku? dia sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia mencintaiku. Tapi aku akan tetap berusaha walaupun terasa sulit. Aku tidak ingin mengecewakan Mama.
Adelia bertekad di dalam hatinya untuk berusaha memperjuangkan cinta Adrian. Bisakah ia mencintai Adrian atau tidak setidaknya ia sudah berusaha.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit hanya ada keheningan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Adelia maupun yang lainnya. Adelia berharap agar perjalanannya menuju rumah sakit tidak ada hambatan. Ia ingin segera bertemu dengan Eva.
Pandangan matanya terhenti, saat ia melihat seorang nenek penjual kacang dan makanan ringan lainnya. Adelia ingin membelinya untuk di bawa ke rumah sakit.
"Pak, hentikan mobilnya saya ingin membeli makanan," perintah Adelia cepat.
"Baik, Nona," mobil segera dihentikan mengikuti perintah Adelia. Begitu juga dengan dua mobil di belakang ikut berhenti. Beberapa pengawal juga turun dari mobil saat melihat Adelia turun dari mobil.
"Nona, anda mau kemana? Sebaiknya anda kembali masuk ke dalam mobil. Ini sangat membahayakan diri anda, Nona," salah satu pengawal mendekati Adelia dan melarang Adelia untuk pergi menjauhi mobil.
"Saya hanya ingin membeli makanan yang ada di situ," ucap Adelia sambil menunjuk sang penjual.