I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 75



Selamat membaca readers tercinta..


"Kenapa kau membuang selimutku?" ucap Adelia.


"Selimut itu sungguh merusak pemandangan, jadi lebih baik aku buang." jawab Adrian asal.


"Dimana Eva?" tanya Adelia mengalihkan pembicaraan, memang benar Eva belum menampakkan batang hidungnya. "Apa dia belum juga datang?" sambung Adelia lagi.


"Eva akan datang sebentar lagi. Dia sedang menyiapkan sarapan untuk kita."


"Benarkah?" tanya Adelia dengan pandangan bingung mencari sesuatu.


"Apa yang kau cari?"


"Pakaian ganti, aku harus mandi." ucap Adelia sambil menurunkan kedua kakinya dari atas tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan!" menahan kaki Adelia untuk tidak turun ke lantai.


"Kenapa? Sudah tidak terasa sakit." ucap Adelia pelan dengan posisi wajah yang sangat dekat dengan Adrian.


Apa benar pria yang ada di hadapanku adalah suamiku? Oh tuhan, kenapa dia bisa memiliki wajah setampan ini. jerit Adelia dalam hati yang masih fokus memandang wajah Adrian.


"Kau memandangku?"


"Tidak!" Adelia membuang tatapannya ke sembarang arah.


"Kau berbohong." ketus Adrian dan mulai mengangkat tubuh Adelia ke dalam gendongannya.


Adelia kembali gugup, ini adalah kedua kalinya dirinya berada di dalam gendongan Adrian. Senyum indah mulai menghiasi wajah Adelia. Berada di pelukan Adrian memang sangat nyaman dan membuat Adelia tidak ingin segera mengakhirinya. Perlahan Adrian mulai melangkahkan kakinya untuk membawa Adelia masuk ke dalam kamar mandi.


"Jimy sudah menyiapkan baju yang dikirimkan Eva untukmu." ucap Adrian pelan, sebelum ia kembali menurunkan Adelia.


"Baiklah terima kasih, aku mau mandi sendirian!" satu kata sindiran agar Adrian segera keluar dari dalam kamar mandi.


Adrian yang mulai mengerti maksud Adelia saat ini, langsung beranjak pergi. Saat sampai di luar kamar mandi, tatapan matanya berubah menjadi amarah saat melihat Aldo sudah duduk manis di sofa.


"Dimana pasienku, apa dia kabur lagi?" tanya Aldo melihat ke ranjang yang terlihat kosong.


"Untuk apa kau kesini." ucap Adrian ketus.


"Apa kau lupa? Aku adalah dokter istrimu. Semua yang terjadi pada Adelia menjadi tanggung jawabku sepenuhnya." ucap Aldo.


"Semuanya?" tanya Adrian.


"Ya, maksudku soal kemarin itu..." mulai berpikir atas kesalahan yang ia lakukan.


"Kau terlalu ceroboh Aldo! Aku tidak ingin kay melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya!" ancam Adrian.


"Maafkan aku Adrian.." ucap Aldo pelan.


Adrian hanya diam tanpa ingin membahas masalah yang sudah berlalu. Pandangan matanya kembali pada Jimy yang baru saja masuk bersama Eva dengan membawa beberapa jenis makanan.


"Waktunya sarapan?" ucap Aldo dengan mata berbinar.


Adrian hanya mendengus kesal melihat kelakuan Aldo saat ini. Matanya kembali memandang ke arah pintu kamar mandi.


"Apa dia sudah selesai?" gumam Adrian.


"Nona Adelia dimana tuan?" tanya Eva.


"Di dalam kamar mandi." jawab Adrian singkat.


"Tuan, Mr. A akan tiba pukul 07.30." ucap Jimy.


Rasa khawatir kembali menyelimuti hati Adrian. Entah apa yang akan terjadi saat Adelia dan Mr. A bertemu nantinya. Adrian hanya diam tanpa memberi respon apapun atas kabar yang baru saja di katakan oleh Jimy.


"Mr. A? Apa dia orang yang sama dengan masalah penyerangan itu?" tanya Aldo menuntut penjelasan.


Tatapan mata Adrian dan Jimy hanya mereka fokuskan pada Eva yang saat ini berstatus sebagai tangan kanan Adelia. Mereka semua masih merahasiakan semuanya dari Adelia. Adrian tidak ingin ada seseorang yang menceritakan berita tentang masa lalu Adelia yang sangat mencurigakan.


"Aku tidak ingin membahas hal itu saat ini!" jawab Adrian.


Aldo hanya bisa diam tanpa mau protes lagi. Adrian memang sosok sahabat yang sangat baik selama ini. Namun dia bisa berubah menjadi sosok yang sangat menakutkan jika membuat kesalahan besar pada dirinya.


Eva melangkah ke meja yang sudah di kelilingi Adrian, Aldo dan Jimy. Eva mengeluarkan beberapa jenis makanan yang sudah disiapkan untuk sang majikan. Adelia juga terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Eva berlari cepat menghampiri Adelia dan membantunya berjalan.


"Hati-hati nona." ucap Eva pelan.


"Kau sudah datang Eva!" ucap Adelia.


"Iya nona, saya baru saja tiba. Apa nona mau duduk di sofa untuk sarapan?" tanya Eva yang masih membantu Adelia berjalan.


"Sarapan?" ucap Adelia melirik ke meja yang sudah di penuhi aneka makanan. "Aku rasa aku sudah sangat rindu dengan masakan rumah!" gumam Adelia pelan dan melangkah ke arah sofa.


Beberapa jam sebelum kehadiran Mr. A. Kamar Adelia di warnai dengan canda tawa dari semua orang yang menyayanginya. Rasa bahagia sudah melekat kuat di dalam hati Adelia. Impiannya selama ini untuk memiliki sahabat, sudah terwujud sejak ia menikah dengan Adrian. Bukan hanya satu sahabat, namun Adelia mendapatkan bonus beberapa.


Meskipun isi hati Adrian saat ini sangat berbeda jauh dengan apa yang di rasakan oleh Adelia. Sudah berkali-kali Adrian memandang ke arah jam dinding yang sudah menuju ke pukul 07.30. Di dalam hatinya kini hanya di penuhi dengan rasa khawatir.


Disisi lain...


Jam sudah menunjukkan ke angka 07.00 tepat. Mr. A mengancing kemeja putih yang saat ini ia kenakan dengan perlahan. Satu orang pengawal setia terlihat berdiri di belakang untuk membantu Mr. A memakai jas hitam favoritnya. Satu dasi di simpul dengan begitu rapi. Sepatu hitam yang mengkilat menyempurnakan penampilannya pagi ini.


"Aku harus memberikan ucapan terim kasih pada wanita itu. Karena dirinya, Max bisa lenyap dari dunia ini." gumam Mr. A pelan.


Kaki kanan memulai langkahnya untuk berangkat menuju ke satu alamat penting yang ingin ia kunjungi saat ini. Ribuan rasa penasaran sudah memenuhi isi kepalanya. Tarikan nafas yang kasar mengawali dirinya untuk mencari tau sebuah teka-teki antara Max dan Adrian.


"Kita langsung ke rumah sakit!" perintah Mr. A pada supir yang kini sudah siap untuk melajukan mobil ke tempat yang diinginkan sang majikan.


"Aku begitu penasaran dengan istri seorang Adrian." ucap Mr.A dengan senyum tipisnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus keramaian kota yang sudah dipenuhi banyak orang. Kegiatan pagi sudah mulai berjalan normal sejak sang fajar kembali menyinari bumi. Beberapa orang yang mengenakan pakaian seragam juga sudah berlalu lalang memenuhi padatnya jalan raya.


Bukan hanya satu mobil yang kini melaju menuju rumah sakit. Tapi ada empat mobil yang berisi pengawal setia Mr. A juga sudah mengikuti sang majikan dari belakang. Keselamatan sang majikan menjadi prioritas utama bagi mereka.


Tidak butuh waktu lama rombongan Mr. A sudah tiba di parkiran rumah sakit. Perlahan ia turun dari mobil dengan menatap tajam ke arah sekelilingnya. Memang pagi menjadi pilihan yang tepat bagi Mr. A untuk berkunjung. Selain rumah sakit yang masih terlihat sunyi, dia juga tidak perlu membuang banyak waktu ketika harus meninggalkan pekerjaan kantor yang sudah menanti dirinya.


Satu orang pengawal sudah berjalan di depan untuk memberi petunjuk atas kamar istimewa yang saat uni ingin mereka kunjungi.


Di kamar Adelia...


Masih dengan suasana canda tawa di antara semua orang. Untuk beberapa detik yang menegangkan bagi Adrian dan Jimy. Tapi dengan Adanya Aldo yang bisa mencairkan suasana membuat suasana hati menjadi teralihkan.


Tring...tring...tring!


Suara deringan ponsel mengalihkan pandangan semua orang. Dengan wajah yang tidak terbaca lagi, Jimy mengangkat panggilan dan melangkah menjauh dari yang lainnya.


"Baiklah, saya akan segera ke sana!" ucapnya singkat dengan tatapan wajah yang sudah tidak sama dari sebelumnya.


"Ada apa?" tanya Adrian yang sudah menaruh curiga atas perubahan sikap Jimy saat ini.


"Mr. A sudah tiba tuan, beliau sudah ada di parkiran. Saya akan segera ke sana untuk menyambutnya." ucap Jimy meminta ijin dari Adrian.


Adrian hanya mengangguk pelan, hatinya juga sudah berubah drastis saat ini. Tatapan matanya kembali ia arahkan ke wajah Adelia yang kini duduk di sampingnya. Entah apa yang akan terjadi beberapa menit lagi, tapi Adrian sudah menguatkan hatinya untuk menerima semua yang akan terjadi.


"Ada apa?" tanya Adelia bingung saat satu senyuman yang tadi terukir di bibir Adrian, kini sudah tidak terlihat lagi.


"Ada seseorang yang ingin menjengukmu Adelia." jawab Adrian pelan.


"Mr. A yang bary saja kalian bicarakan itu siapa?" tanya Adelia penasaran.


"Rekan bisnis, dia ingin menjengukmu karena kau adalah istri dari CEO perusahaan yang bekerja sama dengan dirinya." jelas Adrian lagi.


Kenapa dia harus membawa kata CEO, sungguh menyebalkan. Dasar orang kaya! batin Adelia dengan tatapan kesal kepada Adrian.


"Sebaiknya kau kembali berbaring Adelia!" ucap Aldi memberi perintah.


"Adelia?" ulang Adrian.


"Ya, Adelia. Bukankah nama istrimu?" jawab Aldo dengan santai.


"Sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan itu?" tanya Adrian tidak suka.


"Apa ada yang salah, jika Aldo memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Adelia mulai bingung.


"Dan kau? Aldo? sejak kapan kalian berteman?" tanya Adrian yang masih tidak suka mendengar panggilan akrab di antara keduanya.


Aldo tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Adrian, ini pertama kalinya ia melihat Adrian dekat dengan seorang wanita. Wanita yang berhasil mengubah hidup Adrian menjadi 180 derajat, sekaligus berstatus sebagai istrinya. Adrian tidak pernah peduli dengan hidup orang lain selain keluarga yang selalu ia cintai. Namun, satu panggilan akrab yang terjadi di antara Aldo dan Adelia membuat sahabat yang ada di hadapannya cemburu.


"Baiklah, sebaiknya kita menghapus pertemanan di antara kita nona Adelia." ucap Aldo meledek sambil melirik sebentar ke arah Adrian.


"Tapi kenapa?" tanya Adelia dengan polos.


"Panggil aku dokter Aldo!" sambil mengedipkan sebelah matanya untuk memberi kode kepada Adelia.


Adelia kembali sadar atas keberadaan Adrian saat ini. Matanya terbelalak kaget, saat kini ia tau letak kesalahan yang baru saja ia lakukan.


Apa dia marah, karena aku dekat dengan pria lain selain dirinya? batin Adelia yang sudah mengatur posisi tidurnya di atas ranjang.


"Aku harap, kau selalu tau batasan dokter Aldo!" ucap Adrian dengan satu tekanan peringatan.


"Baiklah, tuan Adrian yang terhormat." ucap Aldo santai dan kembali memulai ritual pemeriksaan terhadap Adelia.


***


Jimy sudah melangkah cepat untuk menemui Mr. A yang kini ada di parkiran. Meskipun kini isi hatinya ingin sekali mengulur waktu lebih lama lagi. Tidak jauh dari pandangan matanya, sudah terlihat rombongan Mr. A yang berjalan menuju ke arah dirinya berada.


Sambil menunduk hormat, Jimy menyambut kedatangan rombongan Mr. A.


"Selamat pagi Tuan, senang bertemu dengan anda." sapa Jimy.


"Pagi, senang bertemu dengan anda lagi tuan Jimy."


Pandangan mata Mr. A terpusat pada sosok pria yang berjalan cepat menghampiri dirinya. Beberapa pengawal juga sudah terlihat mengeluarkan senjata yang sebelumnya mereka simpan. Satu kode yang diberikan Mr. A menghentikan semua pengawal setianya untuk menembak sosok yang kini semakin dekat dengan posisi dirinya berada.


Jimy membalikkan tubuhnya untuk melihat sosok yang membuat Mr. A kembali menghentikan langkah kakinya. Matanya juga terbelalak kaget saat melihat sosok pria yang sudah tidak asing bagi dirinya, kini ada di depan matanya.


"Dimana kau menyembunyikannya!" teriak pria itu dengan emosi yang sudah berada di level tinggi dengan kedua tangan yang terkepal kuat.


***


Hayoo tebak siapa ya kira-kira? Ditunggu like dan komentar di setiap paragraf ya, biar tambah semangat buat nulis, okey.