
Hari bulan madu antara Adrian dan Adelia masih berjalan seperti biasa. Tanpa adanya perasaan cinta, tanpa kasih dan juga tanpa perasaan sayang. Adrian beraktifitas seperti biasa layaknya di rumah, kesehariannya memeriksa beberapa email masuk dan laporan dari perusahaan. Tidak pernah ia menganggap liburannya saat ini, walau ini adalah momen bulan madunya dengan Adelia.
Adelia juga tak kalah sibuk dengan Adrian. Adelia sibuk dengan aktifitas mengelilingi vila dan mengelilingi kebun tidak lupa ditemani beberapa pengawal. Ia sangat suka dengan berpetualang. Adelia berjalan agak jauh dari vila, tanpa mengeluh lelah sedikitpun. Beberapa pengawal hanya menggeleng melihat kemampuan berjalan kaki Adelia.
Embun pagi yang sejuk, matahari yang masih di tutupi kabut pekat dan awan mendung. Adelia menemui beberapa pemetik daun teh di sana. Berbincang-bincang dan bercanda tawa dengan beberapa pekerja. Kebun teh yang luas dan berada di hadapannya saat ini adalah milik dari keluarga besar Kusuma. Semua warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi perkebunan juga tidak asing dengan nama Adrian. Meskipun belum ada seorangpun yang melihat wajah asli sang pemilik nama.
"Apa itu adalah Nona Muda dari keluarga Kusuma?" ucap pelan seorang wanita paruh baya.
"Tidak tahu, mungkin dia hanya pengunjung biasa." jawab salah satunya.
"Lihat pengawal itu, mereka adalah pengawal keluarga Kusuma." ungkap seorang pria yang masuk ke dalam pembicaraan dua orang wanita itu.
Senyum Adelia tidak lagi hilang, karena hatinya kini sangat bahagia. Meskipun jauh dari harapannya untuk berlibur di sebuah pulau, tapi kebun teh dengan hamparan pemandangan gunung juga sudah berhasil membuat hatinya menjadi lebih tenang.
Adelia baru saja tiba di vila. Dengan senyum yang masih merekah indah. Adelia berjalan cepat mendekati Adrian. Adelia melirik sebentar ke arah Adrian, sebelum ia menjatuhkan tubuhnya dengan santai. Mulai memejamkan matanya untuk sesaat.
"Darimana saja kau sejak pagi?" tanya Adrian memandang Adelia yang kini ada di sampingnya. Ia meletakkan laptopnya di atas meja.
"Aku berkeliling, Adrian. Pemandangan di luar sangat begitu indah. Apa kau tidak ingin pergi keluar untuk menikmatinya?" Adelia memandang wajah Adrian dengan satu senyuman indah terukir di wajahnya.
Jika aku memaksanya untuk keluar, dia akan marah atau tidak ya.
Adelia memandang ke arah Adrian, dengan penuh perhitungan. Ia tidak ingin sampai salah dalam mengambil sebuah keputusan.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku tidak akan menuruti permintaanmu itu." jawab Adrian singkat, yang seolah mengerti arti pandangan Adelia saat ini.
"Aku tidak akan memaksamu, Adrian. Aku bisa pergi bersama pengawal." ucap Adelia kesal sambil beranjak dari kursi dan melangkah cepat ke arah kamar.
Adrian memandang punggung Adelia yang perlahan mulai menjauh dengan mengerutkan keningnya. Ia berdecak kesal melihat kelakuan Adelia saat ini.
"Dasar gadis menyebalkan." ucap Adrian pelan. Ia kembali memfokuskan pikirannya pada pekerjaan yang begitu menumpuk.
Meskipun tidak berhasil membujuk Adrian untuk pergi menemaninya berkeliling. Namun kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Adelia berhasil membuat Adrian menghentikan aktifitasnya. Adrian menutup layar laptopnya dengan cepat, dan meletakkannya pelan di atas meja. Adrian memandang Adelia yang hampir masuk ke dalam kamar.
"Adelia!" teriak Adrian dari kejauhan.
Dengan cepat Adelia menghentikan langkah kakinya. Adelia memutar tubuhnya menghadap ke arah Adrian. Adelia melipat kedua tangannya karena kesal melihat Adrian.