
Beberapa menit kemudian, mobil Adrian sudah tiba di rumah sakit. Jimy juga baru tiba di parkiran yang sama dengan Adrian. Senyum kecil dari bibir Adrian menyambut kehadiran Jimy yang terlihat berlari.
"Kau masih berani menampakkan wajahmu di depanku Jimy!" ketus Adrian.
"Saya siap menerima hukuman dari anda Tuan." ucap Jimy dengan menunduk.
Adrian hanya diam tanpa ingin berkata-kata lagi. Dia segera melangkah menuju ruangan Adelia, diikuti Jimy dari belakang.
Beberapa pengawal terlihat berbaris rapi di depan kamar Adelia, melihat kedatangan Adrian semua tertunduk hormat secara serentak. Tanpa memperdulikan para pengawal, Adrian langsung membuka pintu secara perlahan.
Matanya terbelalak kaget saat melihat Papa dan Mamanya sedang duduk manis, tepat di hadapan Adelia yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidurnya.
"Adrian.." sapa Wina dengan beranjak dari duduknya.
"Mama disini juga ternyata, sejak kapan?" tanya Adrian sambil melangkah mendekat ke arah sofa diikuti Jimy.
"Mama sudah lama menemani Adelia, Aku sangat senang bisa melihat Adelia kembali membuka mata." ucap Wina memandang Adelia dengan penuh kasih.
Adrian hanya diam tanpa mau banyak bicara dengan Mamanya, hatinya sudah tidak lagi sama seperti dulu. Perasaan kecewa masih membekas di hatinya.
Adelia hanya memandang diam melihat kedatangan Adrian, hatinya mulai bertanya-tanya dengan kejanggalan yang selama ini belum sempat untuk di tanyakan kembali.
"Dimana Alex? Aku tidak pernah melihatnya lagi. Apa dia ada tugas di luar kota?" tanya Adelia dengan penasaran.
Satu pertanyaan dari Adelia membuat semua mata beralih memandangnya, merasa ada yang salah dengan pertanyaan tadi. Ia hanya bisa menunduk menatap selimut.
"Sayang, apa kau tidak tahu apa yang terjadi pada Alex?" tanya Wina.
Adelia hanya menggeleng tanda tidak tahu, memang sejak sadar. Alex tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Pengawal yang selalu berada di samping Adrian, hanya ada Jimy.
"Alex sudah meninggal." ucap Wina pelan.
Mata Adelia melebar seketika, hatinya di penuhi rasa kehilangan yang amat dalam. Semua kenangan yang pernah ia lalui dengan Alex, tiba-tiba muncul seperti sebuah film yang sedang berputar di dalam pikirannya. Adelia kembali meneteskan bulir air mata atas rasa kehilangan yang amat dalam.
"Apa yang terjadi ma? Kenapa Alex harus pergi secepat itu?" tanya Adelia dengan suara yang semakin lirih.
"Kau baru saja sembuh, jangan terlalu memikirkan masalah yang terlalu berat." ucap Wina mencoba untuk menenangkan pikiran Adelia.
Adrian dan Jimy hanya bisa diam tanpa mampu mengeluarkan kata. Tangis Adelia malam ini kembali mengingatkan mereka pada Alex. Rasa rindu yang teramat dalam, memang selalu saja muncul di hati keduanya. Namun, semua itu sudah terbayar atas kematian Max.
Agung memandang anaknya yang masih terduduk di atas sofa, satu kata maaf ingin segera ia ucapakan untuk kembali merebut hati anak semata wayangnya itu. Namun keberanian belum juga muncul di dalam dirinya. Rasa bersalah begitu dalam, karena secara terang-terangan ia menggagalkan rencana Adrian untuk membongkar masa lalu Adelia.
"Jimy sebaiknya kau pulang bersama Eva!" ucap Adrian yang masih tidak mau kalah dengan Jimy.
"Tapi tuan, saya..." ucapannya terhenti, saat tatapan mata tajam Adrian mengarah pada dirinya detik itu juga.
****