
Adelia duduk di meja makan, untuk memulai ritual sarapannya dengan wajah cemberut. Walaupun begitu sama sekali tidak melunturkan kecantikannya. Malah justru Adelia terlihat sangat imut.
Adrian melihat Adelia hanya bisa tersenyum tipis. Tidak ada yang menyadari akan sebuah senyuman itu.
Aku sangat yakin, bahwa saat ini dia pasti kesal padaku. Aku tidak akan mengambil resiko, jika nanti terjadi Apa-apa padanya dan kalaupun dia tersesat juga pasti aku yang repot nantinya. Dia baru saja tinggal di kota ini. Dan Mama pasti akan sangat marah denganku.
Adrian melirik sebentar ke arah Adelia.
Ada apa dengannya, kenapa dia menatapku seperti itu.
"Ada apa, apa kau sedang memandangku? tanya Adelia, yang malah membuat Adrian menjadi salah tingkah.
"Kau! aku sama sekali tidak memandangmu ," ucap Adrian mengalihkan pandangannya.
"Apa kau sedang berbohong padaku?" ucap Adelia sambil tersenyum licik memandang wajah Adrian.
"Iya, aku memandangmu. Aku hanya berpikir, kenapa aku bisa menikah dengan wanita keras kepala dan bodoh sepertimu!" ucap Adrian sembarangan.
Mendengar itu Adelia menjadi terdiam tanpa kata. Wajahnya terlihat sangat sedih, pandangan matanya ia alihkan kepada roti yang ada di atas piringnya.
Kenapa rasanya sakit sekali saat dia mengatakan hal itu padaku!
Adrian sudah selesai dengan ritual sarapannya dan beranjak dari tempat duduknya dan memandang ke arah Adelia sejenak.
Apa yang aku katakan sudah keterlaluan, kenapa dia menjadi diam seperti itu. Tidak seperti biasanya dia tidak melawan semua perkataanku. Sudahlah, itu tidak penting bagiku, dia selalu saja membuat hariku menjadi jelek.
Tanpa banyak kata Adrian segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah dan pergi ke kantor.
"Kenapa dia harus mengatakan hal itu , kenapa hatiku sangat sakit saat mendengar kata-kata itu," ucap Adelia pelan saat Adrian sudah menjauh dari meja makan.
Jimy dan Alex yang melihat kejadian itu, hanya bisa diam. Adrian memang sering mengatakan hal seperti itu, kepada siapa saja yang tidak ia sukai. Kehadiran Adelia, memang sering kali membuat suasana hati Adrian berubah-ubah.
Di dalam mobil, Adrian masih diam memikirkan wajah sedih yang dipancarkan oleh Adelia. Hatinya kini mulai merasa bersalah, atas apa yang telah ia katakan. Ia sangat merutuki kebodohannya kenapa ia bisa mengatakan hal itu kepada Adelia. Sekilas hatinya ingin kembali ke rumah untuk meminta maaf kepada Adelia. Namun perasaan gengsi itu muncul dan melupakan keinginannya untuk minta maaf.
Tidak seperti biasanya, Tuan Adrian tidak melihat isi Email yang sudah masuk di pagi ini. Biasanya Tuan selalu tidak lepas dengan Laptopnya.
Alex melirik sebentar ke arah kaca spion, lalu kembali mengemudi mobil untuk terus melaju menuju perusahaan.
"Jimy, bagaimana kelanjutan kerja sama kita dengan Mr. A?" tanya Adrian memecah keheningan.
"Semua berjalan dengan lancar Tuan, perusahaan kita mendapatkan keuntungan besar dari hasil kerja sama kita dengan Mr.A," ucap Jimy menjelaskan.
"Bagus, terus pantau perkembangan perusahaan kita. Alex, sore ini kau pergi ke salah satu anak perusahaan kita, terdapat sedikit masalah di sana. Aku ingin kau membereskan masalah itu secepatnya," perintah Adrian.
"Baik Tuan," jawab Jimy dan Alex bersamaan.
****
"Aku sangat bahagia bisa keluar dari rumah Eva," ucap Adelia dengan kegirangan.
Nona terlihat tidak begitu bahagia berada di rumah, kenapa? bukankah rumah itu sangat besar dan fasilitas di dalamnya juga terbilang lengkap.
Eva hanya bertanya-tanya di dalam hatinya.
Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, mobil itu akhirnya berhenti di sebuah tempat parkir. Menghadap ke sebuah taman yang sangat indah, berisi bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Sebuah taman kecil, yang berada di pinggiran kota. Taman yang begitu sangat indah. Adelia berlari menuju tengah-tengah taman, yang di kelilingi banyak bunga dengan warna bervariasi. Melihat bunga mawar yang tersusun rapi membuat Adelia ingin segera melangkahkan kakinya untuk mendekatinya.
Adelia mendekati aneka bunga yang sedang bermekaran. Bau harum khas bunga itu mulai tercium dan menusuk ke dalam hidung Adelia. Sambil memejamkan mata, Adelia terlihat sangat menikmati harum bunga yang sedang bermekaran di taman itu.
Eva dan seorang pengawal, hanya memandang Adelia dari kejauhan. Mereka tidak ingin merusak momen yang saat ini sangat di nikmati oleh Adelia.
Di tempat yang tidak jauh dari posisi Adelia saat ini, seorang pria yang tidak diketahui identitasnya telah memperhatikan Adelia sejak tadi dengan pandangan yang menyiratkan dendam yang membara. Secara perlahan ia mengeluarkan sebuah senjata api.
Pengawal dan Eva yang berada jauh dari posisi Adelia, mulai melangkah mendekati Adelia. Namun belum sempat pengawal itu mendekati Adelia, suara tembakan terdengar memecahkan telinga. Pengawal itu jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri dengan luka tembak yang mengenai kepalanya.
Eva yang menyaksikan kejadian itu langsung memucat dan jatuh pingsan tepat di samping pengawal.
"Eva!" teriak Adelia
Suara tembakan itu kembali terdengar, Adelia yang ingin menghampiri Eva segera mengurungkan niatnya dan dia berlari ke arah taman bunga yang rimbun untuk bersembunyi.
Siapa yang menembak itu, kenapa sepertinya dia mengincarku. Jika aku lari dari sini, bagaimana dengan Eva? Apa dia akan baik-baik saja.
Adelia begitu dilema dengan apa yang harus ia lakukan, tidak punya pilihan lain ia harus segera berlari dan mencari tempat aman untuk bersembunyi, dan meminta pertolongan.
Sementara itu di taman yang sana, seorang pria berjas hitam berjalan mendekati Eva yang tergeletak tak berdaya. Dengan tatapan penuh amarah.
"Adelia.... ternyata kau masih hidup. Sepertinya wanita yang berada di hadapanku ini adalah orang yang penting baginya." ucapnya pelan.
Door
Suara tembakan kembali muncul. Tepat mengenai dada Eva, hingga tubuh Eva berlumuran cairan berwarna merah.
"Aku akan mencarimu Adelia, urusan kita belum selesai," ucap pria itu sambil pergi meninggalkan pengawal Adelia dan Eva disana.
Adelia terus saja berlari tanpa tujuan, dia tidak merasakan lelah sedikitpun. Pikirannya terus berada di taman tempat Eva.
Aku sangat mengkhawatirkan Eva, bagaimana keadaannya sekarang? Kenapa setiap kali aku keluar selalu saja muncul masalah! Tidakkah mereka tidak senang jika aku mendapatkan kebebasan sedikitpun. Yang dikatakan Adrian benar, bahwa di luar sangat berbahaya untukku.
Adelia hanya bisa menunduk dan berdoa berharap Eva baik-baik saja.