I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 30



Happy reading 🤗


Seperti berjumpa dengan seorang sahabat, yang telah lama tidak bertemu. Adelia dan Eva terlihat sangat akrab. Padahal ini adalah kali pertama mereka bertemu dan mengobrol.


Banyak hal yang diceritakan oleh Adelia. Adelia menceritakan kisahnya sederhananya yang sangat bahagia. Eva yang mendengar cerita sang majikan hanya bisa tersenyum.


Eva berasal dari keluarga kelas bawah. Hidupnya yang selalu pas-an. Membuat Eva dan suami harus bekerja keras, demi buah hati yang telah hadir si antara mereka. Awal pertemuannya dengan Pak Udin hanyalah sebuah kebetulan. Dan bertemu dengan Pak Udin adalah garis keberuntungan yang di tujukan untuk kehidupan mereka.


Pak Udin yang pada saat itu sedang melakukan beberapa tugas penting. Bertemu dengan Eva, secara tidak sengaja.


Eva yang saat itu sedang membutuhkan bantuan. Pada saat itu anaknya sedang demam tinggi dan harus segera di bawa ke rumah sakit. Eva hanya bisa menangis sambil berjalan kaki. Tidak ada satu orangpun yang mau menolong nya. Keadaan yang sudah cukup malam membuat kendaraan jarang sekali lewat.


Pak Udin yang kebetulan berada disitu. Dengan segera menolong Eva, dan mengantarkannya ke rumah sakit.


Setelah kejadian itu, tiap kali Eva bertemu dengan Pak Udin, ia selalu ingat jasa Pak Udin yang pernah menolong dirinya. Hingga pada akhirnya Eva bekerja dengan Pak Udin. Eva sangat bersyukur dipertemukan dengan orang yang baik, dan bersyukur atas pekerjaan yang diberikan oleh Pak Udin.


Adelia dan Eva, larut dalam obrolan yang baru saja mereka ciptakan. Hingga tidak terasa kini sudah waktunya makan siang .


Adelia melangkahkan kakinya menuju meja makan diikuti Eva di belakangnya. Adelia dengan segera mendudukkan dirinya di kursi yang ada disana. Tidak butuh waktu lama Adelia sudah selesai dengan makan siangnya dan kembali melanjutkan cerita yang belum selesai. Hingga hari sudah mulai sore. Adelia dan Eva sudah berada di dalam kamar, duduk di sofa dengan posisi berhadapan.


"Nona, ini sudah sore. Apa anda mau mandi? saya akan menyiapkan air mandi untuk Nona," ucap Eva yang melihat hari sudah mulai berganti sore.


"Tidak usah Eva, aku sudah terbiasa melakukannya dengan sendiri." ucap Adelia cepat.


"Tolong jangan lakukan itu sendiri Nona, itu sudah menjadi pekerjaan saya. Saya tidak akan mendapatkan gaji jika tidak melakukan apapun," ucap Eva memelas.


Mendengar itu Adelia terlihat kasihan kepada Eva. Harusnya ia biarkan saja Eva menyiapkan semuanya.


"Baiklah, kau boleh melakukannya, karena aku tidak ingin kay pergi dari rumah ini," ucap Adelia sambil tersenyum memandang Eva.


Mereka sontak tertawa bersamaan. Adelia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar mandi yang diikuti oleh Eva. Adelia sangat merasa bahagia hari ini, dengan adanya kehadiran Eva di hidupnya. Kehadiran Eva juga sudah mengurungkan niatnya, untuk pergi ke luar rumah hari ini.


Setelah kejadian Adelia pingsan di hadapan Adrian, Ia tidak pernah lagi mengancam Adelia. Tutur kata yang ia ucapkan juga mulai ia perbaiki. Ia lebih bersikap lembut terhadap Adelia. Adelia yang menerima perilaku baik, masih belum percaya atas perubahan dalam diri Adrian.


Adelia dan Adrian sangat kurang dalam hal komunikasi. Mereka sangat membatasi komunikasi dan hanya bicara seperlunya saja. Adrian dan Adelia lebih fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. Tanpa memperdulikan status pernikahan yang telah mereka jalani.


Jika di depan banyak orang, maka Adelia dan Adrian sungguh terlihat pasangan yang sangat serasi. Dan publik mengira bahwa mereka saling mencintai. Tapi mereka tidak tahu, jika itu adalah hanyalah sebuah kebohongan. Di dalam hati keduanya masih menyimpan keraguan untuk sekedar membuka hati. Sangat sulit bagi Adelia dan Adrian melakukan itu. Karena hubungan mereka hanyalah sebuah keterpaksaan.


" Tuan, nanti saya ingin pergi ke taman yang pernah aku ceritakan,'' ucap Adelia pelan sambil memandang ke arah Adrian dan menunggu jawaban. Namun Adrian tidak memperdulikannya, ia tetap menatap laptopnya.


"Ya pergilah, Alex tidak bisa menemanimu hari ini. Dia harus menyediakan pekerjaan di perusahaan. Aku akan menyuruh pengawal lain untuk menemanimu." ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan.


"Aku akan pergi bersama Eva, kau tidak perlu menyuruh pengawal untuk menemaniku," ucap Adelia kesal karena ia harus keluar dengan pengawal.


"Apa kau lupa jika keadaan di luar sana tidak aman untukmu?" ucap Adrian.


"Apa maksudmu?" tanya Adelia cepat.


" Kau memang sungguh pelupa! Kau tidak ingat waktu kau terkena siraman minyak panas waktu jalan-jalan di mall?" tanya Adrian heran.


Adelia terdiam sejenak, lalu mengingat kejadian waktu lalu yang menimpanya. Ia sungguh hampir melupakannya jika saja Adrian tidak mengatakannya barusan.


"Aku mengingatnya sekarang," jawab Adelia dengan menunduk.


"Bagus, jika kau ingin pergi harus dengan pengawal. Jika tidak mau tidak usah pergi sekalian. Aku tidak mau Mama menyalahkanku jika kau terluka," ucap Adrian ketus.


"Baiklah," ucap Adelia pasrah tidak mempunyai pilihan lain.


"Siapa Eva?" tanya Adrian penasaran.


"Eva, pelayan wanita yang disiapkan Pak Udin untukku. Bukankah kata Pak Udin, kau yang memintanya," ucap Adelia sambil menyipitkan kedua matanya.


Adrian kembali mengingat ucapan yang pernah ia katakan pada Pak Udin, untuk menyiapkan pelayan wanita.


"Aku melakukannya karena tubuhmu yang sangat lemah, kau bahkan sangat mudah jatuh pingsan," jawab Adrian sambil mengalihkan pandangannya.


"Apa kau tidak ikhlas menolongku waktu itu? apa kau tahu, semua itu juga karena kau yang ingin menghukumku waktu itu. Kenapa kau menyuruhku menembak? Bahkan kau tidak tahu saat itu aku merasakan kepalaku sakit hingga menyebabkan aku tidak sadarkan diri," ucap Adelia yang mulai emosi.


Kepalanya sakit? Apa semua itu karena tekanan yang aku berikan padanya? Apa sampai sesakit itu yang dia rasakan saat itu.


Adrian bertanya dalam hatinya.


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Dan ingat hari ini Papa dan Mama akan pulang. Sebaiknya kau tidak pergi terlalu lama," ucap Adrian sambil melangkah keluar kamar.


"Adrian, tapi bolehkan aku pergi dengan Eva saja tanpa Pengawal? tanya Adelia sambil mengejar langkah Adrian.


"Jangan bertingkah semaumu Adelia, kau akan pergi dengan pengawal jangan membantah lagi!" tegas Adrian sambil terus melangkahkan kakinya menuju meja makan.


Dia sungguh menyebalkan, itu sama saja aku tidak bisa bebas karena pergi dengan pengawal pasti akan terus di awasi. Aku kabur saja dari jangkauan pengawal nantinya.


Adelia tersenyum senang karena mendapatkan ide yang begitu bagus untuknya. Adelia sangat suka dengan kebebasan. Dan kembali melanjutkan langkahnya menuju meja makan mengikuti Adrian.


Penasaran dengan kisah lanjutnya......


jangan lupa tinggalkan jejak komentar kawan terimakasih 🤗