I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 25



Happy reading 🤗


Hari ini Alana sedang berjalan-jalan di sebuah mall yang ada di pusat kota. Dengan perasaan yang gembira, ia sungguh sangat paus bisa melukai orang yang begitu sangat ia benci.


Alana mendengar kabar bahwa Adelia sedang dirawat di rumah sakit dan dia akan berniat menjenguknya nanti. Dan dia bakal menarik perhatian Adrian hingga berakhir memilihnya.


Alana tidak ingin kalah dengan Adelia. Dari segi paras Alana merasa bahwa ia yang paling cantik. Ia mengira jika wajahnya Adelia rusak, Adrian akan sangat begitu malu hingga meninggalkan Adelia. Membayangkan itu Alana kini menjadi senyum-senyum sendiri.


Kita lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan hati adrian. Dan pasti saat ini wajahmu itu sedang rusak. Alana tertawa senang.


Hingga dia tidak sadar bahwa banyak pengunjung yang memandang aneh kearahnya. Tapi Alana memilih tidak peduli dengan hal itu. Dan Alana melanjutkan acara belanjanya yang belum selesai.


Alana mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya dan terlihat menghubungi seseorang. Tapi sayang sekali yang dihubungi Alana tidak kunjung mengangkat telepon. Hal itu sungguh membuat Alana kesal.


Setelah Adrian menikah dengan Adelia, Alana mudah sekali uring-uringan dalam hal apapun.Entah itu masalah sekecil apapun.


Kurang ajar berani sekali dia tidak mengangkat telepon dariku. Kita lihat saja aku juga akan menyingkirkan mu nanti karena kau selalu menghancurkan rencanaku.


Alana mengutuk orang itu di dalam hatinya dan dia juga sangat begitu dendam kepada orang itu.


Disisi lain


Di ruang kerja Adrian dan kedua asistennya sedang berdiskusi membahas masalah yang amat begitu penting bagi Adrian. Berita yang sangat mengejutkan bagi Adrian dan dia sangat tidak percaya dengan itu semua.


"Jimy! apa benar yang barusan aku lihat itu Alana?" tanya Adrian.


"Benar Tuan, ini memang Nona Alana, dan ini adalah rekaman cctv yang ada disana." jelas Jimy.


"Aku sungguh tidak menyangka bahwa Alana bisa nekat seperti itu" ucap Adrian.


"Saya belum tahu pasti Tuan, tapi disitu terlihat Nona Alana memang sengaja melakukannya Tuan." ucap Jimy.


"Iya kau benar sekali Jim!" ucap Adrian.


"Jadi apa yang harus kami lakukan terhadap Nona Alana Tuan?" tanya Alex.


"Biarkan saja dia bebas dulu, dan tetap awasi Alana dari jauh. Jika dia memang mengincar Adelia kita baru bertindak." ucap Adrian.


"Baik, Tuan kami akan menyuruh orang untuk mengawasi Nona Alana." jawab Jimy.


"Satu hal lagi, kalian harus bersikap biasa saja jika di depan Alana, jangan sampai dia curiga bahwa kita sudah mengetahui kejahatannya." ucap Adrian.


Jimy dan Alex menganggukkan kepala tanpa menjawab perkataan dari Adrian. Dan mereka segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


Jimy melihat ponselnya yang berdering dan terlihat nama Alana yang terpampang di layar ponselnya. Jimy memilih mengabaikan panggilan tersebut karena ia malas berdebat dengan Alana.


Jimy sangat tidak bisa mengontrol emosinya sekarang ini. Ia sungguh geram dengan wanita yang bernama Alana yang sudah bersikap ceroboh dan bertindak diluar batas menurutnya itu tidak bisa untuk dimaafkan. Ia sangat ingin menghabisi Alana saat ini juga menggunakan pistol kesayangannya.


Kini kau selamat Nona, andai Tuan Adrian memintaku untuk menembak maka aku akan dengan senang hati melakukannya.


Hari sudah mulai sore dan Adrian baru saja keluar dari ruang kerjanya yang ada dirumah utama. Dan melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membersihkan diri. Sesampai di dalam kamar Adrian segera ke kamar mandi tanpa menghiraukan Adelia.


Tanpa menunggu waktu lama Adrian sudah selesai mandi dan melangkah menuju ruang pakaian.


Saat ingin membuka pintu, Adelia justru menemui Adrian yang juga ingin keluar dari ruang pakaian.


"Kau?" ucap Adelia singkat.


Namun tatapan mata tajam Adrian, membuat Adelia menciut dan segera mengulang perkataannya,


"Tuan, apa anda sudah selesai mandi?" tanya Adelia sambil tersenyum.


"Hmmmppp," gumam Adrian sambil pergi keluar dari ruang pakaian.


Tanpa menghiraukan jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan, Adelia memilih untuk segera mandi.


Setelah selesai mandi Adelia duduk di sebuah sofa yang ada di kamar. Ia kembali mengingat saat ia jalan-jalan ke mall.


"Hari itu hari yang sangat menyenangkan bagiku juga hari sial untukku. Aku tidak pernah merasakan bahagia seperti ini saat bersama Ayah dulu. Ayah terlalu banyak melarangku untuk keluar rumah. Mungkin karena Ayah sangat menyayangiku. Dan bagian sialnya adalah tersiram minyak disaat hari bahagia itu."


Adelia segera beranjak dari sofa dan melangkah keluar kamar untuk segera makan malam. Di meja makan terlihat sudah ada Adrian yang sedang menyantap makanannya. Tanpa mau menatap wajah Adelia. Adelia tidak menghiraukannya dan segera mendudukkan dirinya di samping Adrian.


Setelah selesai makan Adelia kembali ke kamar dan berada di atas tempat tidur.


Adrian baru saja masuk ke dalam kamar, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, matanya masih belum terpejam.


"Tuan, apa lain kali saya boleh keluar lagi?" ucap Adelia dengan penuh harapan.


"Bukannya aku sudah bilang, kau boleh pergi kemanapun yang kau suka asal ditemani pengawal, bahkan...... "


"Menemui pacarmu!" ucap Adelia melanjutkan perkataan Adrian.


"Aku rasa kau semakin berani padaku sekarang," ucap Adrian yang mulai terlihat kesal atas perlawanan Adelia.


Kenapa aku selalu saja ingin melawannya, tiap kali ia ingin semena-mena terhadapku. Ini sama sekali bukan seperti aku yang dulu.


Adelia terdiam untuk sesaat. Ia kembali mengukir senyum manis untuk menghadapi sifat Adrian.


"Maafkan saya, Tuan." ucap Adelia frustasi, ia bahkan sudah menyiapkan diri untuk menerima hukuman yang akan diberikan Adrian padanya.


"Kau sungguh tau bukan! jika Mama sedang tidak ada dirumah, aku bisa saja membuangmu di hutan yang banyak binatang buas agar kau dijadikan santapan mereka!" ancam Adrian.


"Tidak Tuan, maafkan saya dan jangan hukum saya," pinta Adelia lirih.


Tanpa ingin berdebat dengan Adelia di malam itu, Adrian memilih untuk tidur dan memejamkan matanya.


"Dia bahkan bisa tidur setelah mengatakan hal seperti itu padaku?" ucap Adelia pelan.


Adrian segera membuka kedua matanya.


"Kau mau tidur atau aku akan melakukan apa yang baru saja aku katakan?" ucap Adrian


Tanpa banyak bicara Adelia langsung menarik selimut dan mulai memejamkan mata.


hari-hari yang di lalui Adelia dan Adrian hanya dihabiskan dengan berdebat. Pernikahan yang baru berjalan seminggu itu, terlihat tidak ada kemajuan. Adrian masih bersikap acuh terhadap Adelia. Sedangkan Adelia lebih sering memilih mengalah dan mematuhi semua perintah Adrian.