I'M the mafia

I'M the mafia
Bab 49



Hati Adelia benar-benar lega setelah berhasil mengungkapkan isi hatinya saat ini. Adelia sangat begitu tulus saat mengucapkan kalimat itu kepada Nyonya Wina.


Adrian dan Tuan Agung hanya bisa diam membisu.


Maafkan aku Adelia, selama ini aku selalu menyalahkanmu atas pernikahan ini.


Batin Adrian dalam hati, ia sangat begitu menyesal karena telah menyalahkan Adelia.


Setelah berpamitan kepada Nyonya Wina dan Tuan Agung. Kini Adrian dan Adelia sudah berada di dalam mobil, perpisahan yang terjadi antara Adelia dan Nyonya Wina seperti mereka tidak pernah berjumpa kembali. Hanya kesunyian di mobil itu, Adrian masih sibuk dengan sebuah laptop yang selalu menemaninya selama perjalanan bulan madu. Sedangkan Adelia sibuk dengan lamunan dan rasa penasaran dalam hatinya. Kemana perginya bulan madu ini.


"Adrian..." panggil Adelia dengan hati-hati, karena sangat takut jika Adrian merasa terganggu.


"Hmmp," respon Adrian singkat.


"Apa kau mengetahui tempat yang akan kita kunjungi?" tanya Adelia sambil menatap wajah Adrian yang masih setia dengan laptopnya.


"Tidak," jawab Adrian singkat. Adrian menutup laptop dan menatap Adelia secara tajam. Tanpa kedipan, ia hanya memfokuskan pandangannya pada wajah Adelia.


"Maaf," ucap Adelia yang merasa dirinya telah mengganggu Adrian. Dan merasa terancam dengan posisinya saat ini.


"Apa kau pernah bekerja sebelumnya atau kuliah?" tanya Adrian yang masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa Adelia sedang lupa ingatan.


Adelia bingung harus menjawab pertanyaan Adrian bagaimana. Ia sama sekali tidak mengingat apapun.


Bagaimana ini, apa aku kasih tau saja kalau aku lupa ingatan?


"Adellia, apa kau mendengarku." ucap Adrian lagu, saat melihat tingkah Adelia hanya diam tanpa memberi jawaban.


"Aku tidak bekerja dan tidak kuliah, Adrian." ucap Adelia.


"Benarkah?" Adrian berkata dengan wajah tidak percaya.


"Iya, apa kau pikir aku sedang berbohong?"


"Tidak." ucap Adrian sambil membuka kembali laptopnya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Kenapa dia memiliki sifat yang mudah berubah-ubah. Tadi aku mengira dia akan memarahiku!


Adelia membuang pandangannya ke segala arah. Hari yang cerah, secerah hati Adelia.


Adelia berkhayal tentang sebuah liburan yang mengasyikkan. Meskipun ia harus di temani oleh Adrian dan liburannya kali ini bertema bulan madu. Tapi hatinya merasa sangat bahagia.


Adelia tidak harus terkurung di dalam rumah besar dengan orang-orang asing yang tidak bersahabat dengannya. Dan kali ini Nyonya Wina hanya menyuruh beberapa pengawal saja untuk menjaga Adrian dan Adelia. Sebuah kebebasan yang selalu Ia impikan.


Adelia kembali menolehkan kepalanya ke arah Adrian. Masih sama, Adrian masih saja fokus dengan pandangan mengarah ke laptop. Tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Apa Jimy dan Alex tidak ikut?" tanya Adelia saat mulai menyadari tidak ada sosok Jimy maupun Alex di samping Adrian.


"Mereka akan menyusul," jawab Adrian sambil terus memandang laptopnya.


Meskipun Adrian mendengar ucapan Adelia, kali ini ia memilih diam. Karena tidak ingin berdebat untuk masalah yang sepele. Adrian hanya tersenyum tipis mendengar ucapan kecil Adelia.


"Tuan, kita sudah sampai di bandara," ucap supir beberapa menit kemudian, sang supir turun dari mobil untuk membawa barang Adrian dan Adelia.


Pintu keduanya sudah di buka oleh dua orang pelayan yang memang sudah siap menyambut kedatangan Adrian dan Adelia. Terlihat beberapa pengawal juga sudah mendampingi keduanya untuk memastikan keselamatan Adrian dan Adelia.


Tidak jauh dari posisi Adrian dan Adelia berada, terlihat sosok pria misterius dengan memakai kaca mata hitam serta sebuah masker yang menjadi pelengkap penyamarannya. Matanya yang tajam terus saja memperhatikan dengan seksama, seakan tidak ingin kehilangan jejak satu detik saja kepada mereka. Dengan tersenyum tipis sebagai tanda keberhasilannya, ia pun segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghilang pergi entah kemana.


Kini Adrian dan Adelia , sudah ada di dalam pesawat jet pribadi milik keluarga Kusuma. Tatapan mata Adelia, terus memandang isi dalam pesawat itu. Ini merupakan awal dirinya menaiki pesawat. Adelia berdecak kagum melihat interior pesawat yang begitu mewah. Seperti rumah yang berada di atas langit, satu kalimat yang ada di dalam pikiran Adelia saat pertama kali ia masuk ke dalam jet pribadi.


Ada kursi dan meja yang tersedia di dalam pesawat itu, sebuah tempat tidur juga melengkapi isi pesawat itu. Bahkan dalam ingatannya, ia tidak pernah menaiki sebuah pesawat bahkan yang biasa sekalipun. Kini ia bisa berada dalam sebuah pesawat merupakan mimpi baginya.


"Adrian," sapa Adelia sambil menatap Adrian yang kini ada dihadapannya.


"Ada Apa?" jawab Adrian.


"Tidak ada apa-apa," ucap Adelia pelan. Ia sangat lapar dan ingin menanyakan jadwal makan siang. Namun bibirnya tidak mampu untuk mengatakan hal itu. Apa lagi di hadapan Adrian seperti saat ini.


Adelia memandang ke arah jendela, untuk melihat pemandangan alam yang indah. Lautan yang luas berwarna biru, di temani langit cerah yang sepadan dengan warna laut. Adelia terus saja memegang perutnya yang lapar. Tadi Adelia tidak makan siang saat dirumah karena tidak berselera.


Kenapa dia memegang perutnya? Apa dia sedang sakit perut.


Adrian terus memandang ke arah perut Adelia.


"Adrian," panggil Adelia lagu sambil tersenyum ke arah Adrian.


"Ada apa? Kau terus saja memanggil namaku dari tadi," jawab Adrian ketus.


"Apa ada makanan di dalam pesawat ini?" tanya Adelia jujur yang memang saat ini sudah tidak lagi menahan rasa laparnya.


Tanpa menjawab, Adrian mengangkat satu tangannya kepada seorang pengawal yang berdiri tegap di suatu tempat yang tidak jauh dari posisi Adelia berada. Sang pengawal segera melangkah cepat mendekat ke arah Adrian. Belum sempat pengawal itu mengatakan satu katapun, Adrian sudah memberi perintah dengan cepat dan singkat.


"Siapkan makan siang untuk Adelia."


Dengan membungkuk hormat, pengawal itu segera pergi menuju sebuah pintu. Kini hanya ada Adrian dan Adelia di dalam ruangan itu. Tatapan Adelia kembali ia arahkan ke arah jendela untuk kembali menikmati pemandangan alam yang begitu indah. Sedangkan Adrian, hanya diam membisu tanpa kata dengan wajah serius menatap Adelia dengan pandangan tidak terbaca.


Kenapa dua terus menatapku seperti itu.


Batin Adelia sedikit melirik ke arah Adrian.


Dia mulai besar kepala dan percaya diri karena aku terus memandangnya seperti ini, lihatlah cara duduknya yang sudah tidak nyaman" batin Adrian.


"hmmp... kau," ucap Adelia dan Adrian secara bersamaan.


"Kau duluan Adelia," ucap Adrian sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman.


"Baiklah Adrian, kita harus kembali membicarakan tentang pernikahan ini." ucap Adelia dengan perasaan yang campur aduk saat melihat Adrian.