
Malam yang panjang telah berlalu, matahari mulai menunjukkan cahayanya. Semua aktifitas di rumah itu sudah dilakukan. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Masih dengan suasana yang sama dari sebelumnya, kini Adelia dan Adrian sudah berada di meja makan untuk sarapan. Setelah menyelesaikan sarapannya dengan Adelia, Adrian langsung pergi berangkat ke kantor, diikuti oleh Jimy dan Alex dari belakang.
Adelia hanya menatap punggung Adrian yang sudah mulai menjauh dan masuk ke dalam mobil diikuti asisten pribadinya.
"Memang sangat menyebalkan, jika tidak ada Mama dia akan selalu diam seperti itu."
Adelia masih duduk manis di meja makan, memikirkan sesuatu yang ingin ia kerjakan hari ini. Hanya berdiam diri membuatnya merasa bosan.
Banyak pelayan di rumah ini, tapi tidak ada satu orangpun dari mereka yang mau bicara padaku. Apa mereka tidak bosan, jika setiap hari harus seperti itu.
Adelia memandang ke arah para pelayan yang sedang sibuk melakukan tugasnya masing-masing.
Adelia kembali memikirkan kejadian semalam. Rencana yang sudah tersusun untuk pergi jalan-jalan harus gagal karena peristiwa semalam. Hatinya masih dipenuhi rasa penasaran yang amat besar, terhadap taman bunga yang ada di kota ini. Ia sangat ingin mengunjungi taman tersebut.
Adelia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pelan ke sebuah sofa yang terletak tidak jauh dari tempat makan.
Adelia mengambil sebuah majalah yang terletak di atas meja dan mulai menyetel TV.
Ini merupakan ide terbaik yang saat ini ada di pikirannya.
"Setidaknya dengan menonton film favoritku, akan menghilangkan sedikit rasa bosanku,'' ucap Adelia sambil mengutak-atik remote yang kini ada di genggaman tangannya.
Adelia masih fokus dengan film favoritnya. Sehingga ia tidak memperhatikan keadaan sekitar. Pak Udin dan seorang wanita berbaju pelayan, datang menghampiri posisi Adelia.
Berdiri di samping sofa, yang kini diduduki oleh Adelia.
"Nona Muda, ini adalah Eva. Dia pelayan yang bertugas untuk membantu Nona," ucap Pak Udin, sambil membungkuk hormat kepada Adelia.
Mendengar itu, Adelia mengalihkan pandangannya dari TV. Ia menatap tubuh Eva, dan memperhatikannya dengan seksama.
Sepertinya Adelia sangat tidak asing dengan pelayan itu.
"Eva?" ucap Adelia.
"Iya, Nona," jawab Pak Udin membenarkan.
"Saya tidak perlu pelayan, Pak Udin."ucap Adelia.
"Tapi ini perintah dari tuan Adrian, Nona,'" ucap Pak Udin penuh hormat.
"Adrian? Tapi untuk apa?" tanya Adelia lagi.
Mata Adelia langsung tertuju pada wanita yang berdiri di samping Pak Udin. Wajahnya terlihat takut dan kecewa saat mendengar kedatangannya tidak disukai oleh sang majikan.
Apa aku keterlaluan saat bicara? Aku bisa melihat wanita ini terlihat kecewa dari tatapan matanya.
Adelia diam sesaat, kini ia sangat merasa bersalah kepada wanita itu yang akan dijadikan pelayanannya.
"Baiklah, biarkan dia disini menemani saya. Dan sampaikan ucapan terima kasihku kepada Adrian. Karena setidaknya ia sudah memberikanku seorang teman di rumah yang besar ini." ucap Adelia dengan tersenyum manis.
Anda bisa mengatakannya sendiri, Nona. Kenapa harus lewat saya, yang menyampaikan ucapan terima kasih Nona kepada Tuan muda.
"Kalau begitu saya permisi dulu Nona!" ucap Pak Udin pelan, sambil melangkah pergi meninggalkan Adelia dan Eva di sana.
Adelia dan Eva masih diam tanpa kata. Mereka masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Hai, Eva. Saya senang bertemu denganmu. Aku rasa kau tidak harus mematuhi, semua perintah yang sudah dikatakan oleh Pak Udin,"
ucap Adelia sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf Nona, anda adalah Nona muda sekaligus majikan saya. Sudah sepatutnya saya mematuhi apa yang di katakan oleh Pak Udin, karena itu sudah peraturannya jika bekerja di rumah ini," jawab Eva sambil menundukkan kepalanya karena takut.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Adelia khawatir saat melihat wajah Eva terlihat ketakutan.
"Maaf Nona, tapi anda kelihatan tidak suka dengan kehadiran saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk anak saya. Tolong jangan pecat saya," pinta Eva memelas.
Adelia menutup mulutnya dengan telapak tangan, hatinya di penuhi rasa bersalah saat melihat Eva sudah salah paham kepada dirinya.
"Tunggu, kau sudah mempunyai anak?" tanya Adelia pelan.
"Iya, Nona," jawab Eva cepat.
Kasihan sekali wanita ini, dia harus berjuang untuk anaknya. Lalu dimana suaminya? Seharusnya tugas suami yang harus mencari uang.
Adelia merasa iba kepada Eva. Ia masih memikirkan betapa sulitnya kehidupan Eva selama ini. Adelia selalu bersyukur saat hidup bersama dengan Ayahnya dulu yang tidak harus menyuruhnya untuk bekerja. Walau kehidupannya dulu sangat sederhana tetapi sang Ayah selalu mencukupi kebutuhannya.
"Nona," panggil Eva berulang-ulang saat melihat Adelia hanya diam mematung.
"Ehh, iya," ucap Adelia.
"Apa Nona baik-baik saja?" tanya Eva mulai khawatir.
"Saya? saya baik-baik saja Eva, kau jangan khawatir seperti itu. Sebaiknya kau jangan salah paham atas perkataanku tadi. Aku hanya sedikit kaget, saat melihat Pak Udin memberiku pelayan pribadi. Bahkan aku bisa mengurus semua keperluanku sendiri. ucap Adelia dengan tersenyum ramah kepada Eva.
"Atau begini saja, kau tidak harus menjadi pelayanku, tapi kau bisa menjadi temanku bercerita Eva," ucap Adelia dengan girang, membayangkan dirinya kini sudah memiliki teman baru.
"Maaf Nona, tapi saya hanya pelayan. Bukan teman Nona, tolong jangan mempersulit pekerjaan saya Nona," ucap Eva.
"Eva aku sama sekali tidak mempersulit dirimu. Aku hanya ingin punya seorang teman. Aku hanya terlalu lelah di rumah ini. Aku tidak pernah memiliki satu orang sahabat dalam hidupku," ucap Adelia lirih, sambil kembali menjatuhkan dirinya di atas sofa.
Aku harus bagaimana? Pak Udin berkata untuk selalu mengingat batasan antara aku dan Nona muda, tapi bagaimana dengan permintaan Nona muda. Aku sangat kasihan kepadanya. Jika aku menolaknya pasti Nona akan merasa sangat sedih.
Eva semakin bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Saat ini ia tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui permintaan Adelia.
"Baik Nona, saya mau menjadi teman anda. Tapi...." Belum sempat Eva menyelesaikan kalimatnya, Adelia terlebih dulu memotong perkataan Eva.
"Terima kasih sudah mau menjadi temanku Eva," ucap Adelia sambil memeluk Eva.
Eva hanya menyambut pelukan Adelia dengan senyuman.
Dari balik dinding, di ujung ruangan. Pak Udin telah memperhatikan perbincangan antara Adelia dan Eva. Ia sangat begitu kagum, melihat ketulusan hati yang dimiliki oleh Adelia.
"Nona muda, anda memang memiliki sifat yang sangat baik, dia sama sekali tidak menyombongkan statusnya yang sudah menjadi Nona muda di keluarga kusuma." ucap Pak Udin pelan, yang masih memandang Eva dari kejauhan.