Hidden Mommy

Hidden Mommy
Bab 95. Aku Mencintaimu



Gio dan Shasha baru saja bersiap-siap untuk tidur. Mereka mengganti pakaian, gosok gigi dan mencuci kaki. Lantas setelah itu, keduanya naik ke atas ranjang yang ada di sebelah Lee, karena sebelumnya Lee sudah memesannya.


Sementara Renata sedang mengambil sesuatu yang ada di atas nakas, sebuah buku dongeng yang sebelumnya dibawa oleh Fenny. Dia mendekat ke arah kedua anaknya, lalu berkata. "Boleh Ibu bergabung?"


Gio dan Shasha langsung tersenyum, lalu memberikan ruang pada Renata dengan menggeser tubuh masing-masing.


"Tentu saja," jawab Shasha dengan ceria, kini Renata mulai berbaring di sisi gadis kecil itu, sementara Gio ada di ujung.


"Bu, jangan buat suara harimau lagi, suara Ibu tidak cocok," ujar Gio memberi tanggapan sebelum Renata bercerita. Namun, Shasha malah menepuk pelan anggota tubuh kakaknya itu.


"Suara Ibu bagus kok, seperti aku!" cetus Shasha.


"Iya, tapi tidak seram! Suara Ibu lebih cocok jika menjadi seekor kucing," timpal Gio mempertahankan pendapatnya. Shasha ingin membuka mulut, tetapi dengan cepat Renata memutus perdebatan di antara mereka.


"Stop! Jangan bertengkar. Kali ini Ibu akan berusaha untuk menjadi harimau yang seram. Tapi kalau tidak berhasil, anggap saja harimaunya masih kecil. Makanya suaranya imut dan menggemaskan seperti kalian," ucap Renata sambil mengetuk hidung kedua anaknya satu persatu.


Melihat itu, Lee mengulum senyum tipis, begitu pun juga dengan Zack dan Fenny. Mereka sama-sama bahagia melihat interaksi antara si kembar dan Renata.


Namun, tiba-tiba pandangan Lee beralih pada adik sepupunya. "Zack, kamu mau tidur di mana?"


"Eum, aku akan menyewa kamar di hotel sebelah," jawab Zack, belum sempat Lee melontarkan pertanyaan selanjutnya, Zack sudah menggandeng tangan Fenny. "Dan aku akan membawa dia. Nanti pagi-pagi kami pasti datang untuk mengantar Twins sekolah."


Lee menarik sudut bibirnya ke atas. Ternyata Zack sudah mulai membuka hati untuk wanita lain. Baguslah, itu artinya dia tidak perlu khawatir ketika Zack sedang berdua dengan Renata.


"Jangan macam-macam kamu, kalau sampai Fenny melapor sesuatu tentangmu, aku tidak akan segan-segan memberitahu Uncle Caka!" ketus Lee, memeringati adik sepupunya.


Zack langsung mengedipkan mata sambil mengacungkan jari jempol. "Aku berhati-hati." Ucapnya, sementara Fenny senantiasa menunduk.


"Twins, Uncle dan Nanny pergi dulu yah. Selamat beristirahat," pamit Zack pada Gio dan Shasha.


"Ya, Uncle. Semoga kalian tidur nyenyak," balas Gio.


"Hati-hati di jalan," timpal Shasha. Kedua bocah itu berpikir bahwa Zack dan Fenny akan pulang ke tempat tinggal masing-masing, jadi mereka tidak bertanya lebih lanjut.


Akhirnya Zack dan Fenny benar-benar meninggalkan ruangan Lee. Hingga kembali tersisa empat orang itu. Renata meneruskan cerita, sampai kedua anaknya benar-benar terlelap.


Wanita itu mengulum senyum tipis. Lalu mengecup kening Gio dan Shasha secara bergantian. "Selamat tidur anak Ibu. Semoga kalian mimpi indah."


Setelah itu Renata turun dari ranjang, lalu menarik selimut hingga ke dada. Dia juga meraih remote AC, menaikkan suhu udara agar tidak terlalu dingin.


Ketika Renata menoleh ke arah Lee, pria itu juga sudah terlelap. Mungkin karena pengaruh obat yang baru saja diminum, jadi Lee tidur dengan cepat.


Dengan langkah perlahan, Renata mendekati ranjang pria itu. Sebenarnya di antara mereka belum ada kata cerai, jadi akan sangat aneh jika Renata mengatakan bahwa dia adalah mantan istri Lee. Terlebih pernikahan mereka tidak pernah terkuak di media.


Renata berdiri tepat di sisi Lee, dia memandangi wajah pria itu dengan raut sendu. Cukup lama dia seperti itu, hingga entah dorongan dari mana, Renata bergerak untuk menarik selimut hingga ke atas dada Lee.


Dan ketika Renata hendak pergi tiba-tiba Lee mencekal pergelangan tangan wanita itu, membuat Renata langsung terhenyak. Dia menoleh dengan cepat, tetapi mata Lee masih tertutup rapat.


Deg!


Detak jantung Renata kembali berdebar tak karuan. Dia menatap tangan Lee yang terus menggenggam pergelangan tangannya.


"Jangan pergi! Aku mohon, tetaplah di sisiku, Alice ...."


"Aku memang bisa hidup tanpamu. Tapi aku tidak ingin memiliki pilihan itu. Aku ingin bersamamu, selamanya aku ingin bersamamu ...."


Renata membatu sambil terus mendengar rancauan mulut Lee. Dia yakin pria itu sedang mengigau.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Dia seperti orang bodoh sekarang, menimpali ucapan seseorang yang sedang berada di alam bawah sadar.


Lee terdiam, hanya ada suara nafas halus yang keluar dari hidung pria itu. Hingga Renata memutuskan untuk melepaskan tangan Lee. Namun, tiba-tiba pria itu kembali bersuara.


"Aku akan terus memperjuangkanmu. Sampai kamu bosan menolakku. Karena tidak ada yang lebih baik, kecuali hidup bersama kalian. Aku mencintaimu .... sangat, sangat mencintaimu, Alice."


Setelah itu genggaman Lee terasa melemah hingga nyaris terlepas. Akan tetapi sebelum itu terjadi Renata langsung menahannya. Dia berbalik menggenggam tangan pria itu. Sementara mulutnya terkunci rapat.