
"Jangan pikirkan apapun lagi, aku pastikan Mama dan Papa akan menerima kamu," ucap Arshlan meyakinkan Ralia, bahwa suatu saat kedua orang tuanya pasti bisa menerima gadis itu, tanpa melihat siapa Ralia, dan dari mana dia berasal.
Ralia hanya terdiam saat Arshlan mencium keningnya. Membuktikan sebuah ketulusan. Dia tidak tahu harus berbuat apa, karena di satu sisi dia pun mencintai pria itu, dia tidak mau Arshlan kecewa hanya karena keputusannya.
"Kita akan berjuang bersama-sama," kata Arshlan lagi dengan penuh kesungguhan, hingga membuat Ralia menganggukkan kepala. Dia tidak boleh lemah, karena apapun yang dia impikan, patut untuk diperjuangkan, sama halnya dengan Alicia yang sedang berjuang untuk mengambil hak asuh anak-anaknya.
Maka dia pun akan memperjuangkan cintanya bersama sang pujaan, untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua pria itu.
Sementara di bumi belahan lain, Lee langsung mengurus surat perceraiannya dengan Sofia hari itu juga. Setelah makan siang dengan sang ayah, dia pergi ke tempat pamannya yang berprofesi sebagai pengacara.
Memiliki keluarga dengan keahlian yang berbeda-beda, membuat dia lebih mudah meminta bantuan. Apalagi mereka semua termasuk orang-orang paling handal di bidang masing-masing.
"Kamu benar-benar sudah menemukan wanita itu, Lee?" tanya Bee, sang paman yang sebelumnya dimintai pertolongan untuk mengurus surat perceraiannya. Padahal sebelum Aneeq tahu bahwa Lee telah berbuat serong, Lee melakukannya serba sendiri, hanya ada Zack yang mendampinginya.
Mendengar pertanyaan itu, Lee langsung menghentikan laju tangannya. "Belum, tapi aku sudah memikirkan ini semua. Mungkin ini saatnya anak-anak tahu, kalau Sofia bukan ibu mereka."
"Kamu sudah bicara dengan ayahmu?"
"Sudah, Uncle. Aku habis dari sana, tadi kami juga sempat makan siang bersama. Aku bicara banyak dengan Daddy, dan Daddy tidak menghalangiku untuk melakukan ini semua," jelas Lee dengan gamblang. Karena apapun itu, Lee tidak pernah lagi menyembunyikannya dari keluarga. Sebab jika hal itu terjadi, yang ada dia akan habis di tangan sang ayah.
"Baguslah kalau begitu. Aku hanya takut akan ada kesalahpahaman lagi. Kasihan anak-anakmu, mereka pasti akan kebingungan jika kamu tidak segera menjelaskannya," balas Bee, ikut merasa prihatin dengan kejadian yang menimpa sang keponakan.
Lee mengangguk kecil, kepergian Alicia benar-benar telah menghukumnya, dan membuat dia sadar, bahwa tidak ada wanita lemah di dunia ini. Mereka akan berubah garang dan berani, jika batinnya sengaja dilukai.
Dan satu lagi, Lee tidak bisa menyamaratakan semua wanita itu sama. Sebab ada beberapa golongan wanita yang memang tidak tahu diri, tetapi ada pula golongan wanita yang memiliki hati bak bidadari. Kuncinya, Lee tidak menemukan golongan kedua dari dua wanita sebelumnya.
"Semoga setelah ini kalian menemukan kebahagiaan," ucap Bee, setelah Lee selesai menandatangani surat perceraian itu. Hari ini, dia dan Sofia benar-benar selesai. Tidak peduli wanita itu akan terima atau tidak, Lee akan tetap melakukannya.
Tidak ada raut penyesalan di wajah Lee, karena sesungguhnya, niat melepaskan Sofia itu sudah ada. Hanya karena si kembar, dia masih betah membiarkan Sofia tinggal di rumah.
"Terima kasih, Uncle. Aku pamit yah," ucap Lee, karena dia harus kembali ke perusahaan.
"Hati-hati, Lee. Jangan terlalu berpikir yang tidak-tidak ketika di jalan, itu semua akan membahayakan keselamatanmu."
"Baik, Uncle."
Bee mengantar Lee sampai di depan kantornya. Memperhatikan sang keponakan, hingga pria itu membawa mobilnya keluar dari gerbang.
Lee menghela nafas panjang. Sedikit demi sedikit dia mulai merasa lega, karena seseorang yang sudah lama ia cari kini berada di sekitarnya. "Kamu pintar sekali, Alice. Membohongiku dan anak-anak dengan menggunakan topeng itu. Tapi kamu pasti lupa satu hal, kalau aku masih ingat betul bentuk tubuhmu. Bahkan pada bagian paling dalam."
Ada sunggingan senyum tipis yang tersemat di bibir pria tampan itu, membuat wajahnya lebih berseri. Dan dia terus mempertahankan wajah itu hingga sampai di perusahaan.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, membuat dua orang yang ada di dalam sana sangat terkejut. Renata dan Zack kompak berdiri, kemudian menundukkan kepala begitu tahu siapa yang datang.
"Tuan, kenapa anda datang begitu tiba-tiba?" tanya Zack, tidak biasanya Lee mengejutkan seperti itu.
"Kenapa? Masalah?" Lee balik bertanya, membuat Zack melebarkan kelopak matanya. Pria itu dibuat bingung, apalagi saat Lee mendekati meja Renata. "Re, buatkan aku kopi."
"Ah maksudnya anda ingin saya pesankan kopi?"
Renata bertanya seperti itu, karena Lee biasanya memerintahkan office girl untuk membuatkan minuman tersebut.
"Tidak, aku ingin kamu yang membuatnya. Aku sedikit mengantuk, jadi buatkan dengan cepat," jawab Lee, kemudian melangkah ke arah meja kebesarannya dengan seringai tipis.
Meskipun merasa sedikit aneh, akhirnya Renata pun patuh pada perintah Lee. Dia turun ke bawah untuk membuat kopi yang Lee mau. Padahal Lee tidak menyebutkan seperti apa seleranya, tetapi Renata masih ingat betul, bahwa Lee tidak suka kopi yang terlalu manis.
Tak butuh waktu lama, Renata sudah kembali dengan segelas kopi di tangannya. Dia meletakkannya di meja Lee, sesuai permintaan pria itu. "Tuan, ini kopinya."
"Terima kasih. Tapi ngomong-ngomong apa kamu tahu seleraku?" tanya Lee, seraya meraih gagang gelas.
Mendengar itu, Renata reflek menggigit bibir bawahnya. Kenapa bisa dia dengan percaya diri membuat kopi untuk Lee tanpa bertanya terlebih dahulu?
"Itu—itu—"
Sebelum Renata menjawab, Lee lebih dulu menyesap kopi tersebut. Setelah air hitam itu menyatu dengan lidahnya, Lee mengulum senyum. Entah kenapa dia merasa senang, karena Renata masih mampu mengingat apa yang menjadi kesukaannya.
"Enak. Kamu sempat bertanya pada office girl atau hanya menebak-nebak?"
"Hah iya, tadi saya sempat bertanya pada salah satu office girl, Tuan, katanya Tuan tidak terlalu suka gula," jawab Renata dengan tergagap. Padahal Lee sedari tadi mengawasi wanita itu dari kamera CCTV.
Sementara Zack hanya mampu melongo dengan perubahan sikap Lee yang begitu tiba-tiba. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Sebab Lee belum bercerita mengenai Alicia yang berubah menjadi Renata, dan sejenisnya.
"Betul, karena sudah ada sesuatu yang manis di sini. Mulai sekarang aku ingin kamu yang membuat kopi setiap hari. Setuju?"
Renata tersenyum kikuk, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Tidak memiliki pilihan, dia pun hanya bisa mengangguk setuju. "Baik, Tuan."
***
Tuh tuh, ngambek mulu dah lu pada 🤣🤣🤣